Welcome to Sarana Satwa

ANTIBIOTIK DALAM PAKAN TERNAK

  • PDF
  • Print
  • E-mail

Dengan klasifikasi jenis mikro-organisma dalam saluran pencernaan manusia, diketahui peranan penting berbagai genera mikroflora bagi kehidupan makhluk hidup yang dapat diseimbangkan dengan antibiotika. Lalu, mengapa ada pelarangan penggunaan Antibiotik pada pakan ternak?

Sejujurnya, dengan berbagai kasus mutu yang kita jumpai di lapangan, Indonesia masih bermasalah dalam soal jaminan pasti bagi konsumen untuk mengkonsumsi produk-produk ternak yang terbebas dari pencemaran? Makanan sebagai salah satu faktor yang bisa meningkatkan angka harapan hidup suatu negara, masih acap dibelit persoalan kesadaran yang kurang dari para konsumen terhadap produk ternak yang terbebas dari residu kimia (antibiotik, alfatoksin, dioxin) dan mikrobiologi berbahaya (salmonella, enterobacteriaceae dan BSE-carriers). Acapkali kita mesti menengok dengan apa yang terjadi di negara-negara maju, di mana di sini kualitas kontrol bahan pakan terus dilakukan oleh pemerintah secara berkala melalui system HACCP (hazard analyis and critical control points) sesuai dengan tahapan-tahapan yang telah tersusun secara sistematis dan disepakati bersama.
Antibiotik dalam Pakan Ternak
Sejak ilmuan berkebangsaan Rusia Metchnikoff (1908) berhasil mengklasifikasi jenis mikro-organisma yang terdapat dalam saluran pencernaan manusia, makin terkuak lebar peranan penting akan berbagai genera mikroflora bagi kehidupan makhluk hidup. Keseimbangan antara bakteri-bakteri yang menguntungkan dan merugikan dalam saluran pencernaan sepatutnya menjadi perhatian lebih demi terciptanya hidup yang sehat bagi manusia dan produksi yang tinggi bagi ternak.
Keseimbangan populasi bakteri dalam saluran pencernaan (eubiosis) hanya dapat diraih apabila komposisi antara bakteri yang menguntungkan seperti Bifidobacteria dan Lactobacilli dan yang merugikan seperti Clostridia setidaknya 85% berbanding 15%. Dengan komposisi tersebut fungsi “barrier effect“ mikroflora yang menguntungkan dalam tubuh makhluk hidup dengan cara mencegah terbentuknya koloni bakteri phatogen (colonisation resistence) bisa teroptimalkan.
Ketidakseimbangan populasi antara bakteri yang menguntungkan dan merugikan (dysbiosis) berakibat turunnya produksi ternak. Salah satu cara memodifikasi keseimbangan bakteri di dalam saluran pencernaan adalah dengan pemberian antibiotik. Antibiotik dipercayakan dapat menekan pertumbuhan bakteri-bakteri phatogen yang berakibat melambungnya populasi bakteri menguntungkan dalam saluran pencernaan.
Tingginya mikroflora menguntungkan tersebut dapat merangsang terbentuknya senyawa-senyawa antimikrobial, asam lemak bebas dan zat-zat asam sehingga terciptanya lingkungan kurang nyaman bagi pertumbuhan bakteri phatogen. Namun disayangkan penggunaan antibiotik berakibat buruk bagi ternak dikarenakan resistensi ternak terhadap jenis-jenis mikro-organisme phatogen tertentu. Hal ini telah terjadi pada peternakan unggas di North Carolina (Amerika Serikat) akibat pemberian antibiotik tertentu, ternak resisten terhadap Enrofloxacin yang berfungsi untuk membasmi bakteri Escherichia coli. Di bagian lain residu dari antibiotik akan terbawa dalam produk-produk ternak seperti daging, telur dan susu dan akan berbahaya bagi konsumen yang mengkonsumsinya. Seperti dilaporkan oleh Rusiana dengan meneliti 80 ekor ayam broiler di Jabotabek menemukan 85% daging ayam broiler dan 37% hati ayam tercemar residu antibiotik tylosin, penicilin, oxytetracycline dan kanamycin. Penggunaan senyawa antibiotik dalam ransum ternak pun menjadi perdebatan sengit oleh para ilmuan akibat efek buruk yang ditimbulkan tidak hanya bagi ternak tetapi juga bagi konsumen yang mengkonsumsi produk ternak tersebut melalui residu yang ditinggalkan baik pada daging, susu maupun telur. Beberapa negara tertentu telah membatasi penggunaan zat aditif tersebut dalam pakan ternak seperti di Swedia tahun 1986, Denmark tahun 1995, Jerman tahun 1996 dan Swiss tahun 1999. Selanjutnya pada 1 Januari 2006 Masyarakat Uni Eropa berdasar regulasi nomor 1831/2003 menetapkan tonggak pemusnahan berbagai macam antibiotik di mana selama beberapa dekade belakang merupakan substans yang kerap digunakan oleh peternak di berbagai belahan dunia.
Tidak dapat dipungkiri sejak digunakannya antibiotik sebagai senyawa promotor pertumbuhan dalam pakan ternak, telah terjadinya peningkatan pendapatan peternak berkat kemampuan senyawa tersebut mengkonversikan nutrisi dalam pakan secara efisien dan efektif.
Akan tetapi, pelarangan tersebut tidak menyeluruh hanya terbatas pada jenis antibiotik tertentu misalnya avoparcin (Denmark), vancomycin (Jerman), spiramycin, tylosin, virginiamycin dan chinoxalins (Uni Eropa). Hingga kini, hanya tersisa empat antibiotik yang masih diizinkan penggunaannya dalam ransum ternak pada masyarakat Eropa yaitu flavophospholipol, avilamycin, monensin-Na dan salinomycin-Na. Berbagai upaya telah dilakukan bertahun-tahun untuk mencari bahan tambahan dalam pakan ternak sebagai pengganti antibiotik yang berbahaya tersebut.
Bahan Aditif Pengganti Antibiotik
Konsep pakan ternak berdasarkan kualitas semata (kebutuhan energi dan protein ternak) mulai ditinjau ulang oleh nutritionis akhir-akhir ini. Tuntutan konsumen akan produk ternak yang sehat, aman dan terbebas dari residu berbahaya telah mengajak ilmuan untuk mencari alternatif sumber-sumber pakan baru sekaligus zat aditif yang aman. Konsumen rela membayar dengan biaya berlipat demi mendapat makanan yang sehat, aman dan terbebas dari residu kimia. Produk pertanian dan peternakan alami tanpa menggunakan secuilpun bahan kimia dalam bahasa Jerman dikenal “okologische produkte” mulai mempunyai pasar tersendiri. “Feed quality for food safety“ merupakan slogan yang acap di dengungkan dimana-mana pada masyarakat Eropa termasuk Jerman. Kerja keras berbagai pihak dalam usaha menemukan zat aditif pengganti antibiotik telah membuahkan hasil yang tidak begitu mengecewakan. Senyawa-senyawa aditif tersebut terbukti mampu meningkatkan produksi ternak tampa mempunyai efek samping bagi ternak dan konsumen yang mengkonsumsinya. Beberapa alternatif zat aditif pengganti antibiotik telah ditawarkan bagi peternak untuk memicu produksi dan reproduksi seperti probiotik dan prebiotik, asam-asam organik, minyak esensial (essential oil) dan berbagai jenis enzim.

sumber : Infovet

Last Updated on Sunday, 16 November 2014 16:50

 

DEFISIENSI VITAMIN "A" dan "E"

  • PDF
  • Print
  • E-mail
DEFISIENSI vitamin E dan A merupakan penyakit nutrisional yang bersifat non infeksius. Namun untuk ternak cukup berpengaruh terutama pada capaian produksi dan reproduksi yang secara nyata dapat menurunkan kedua aspek tersebut. Peternak diharapkan tetap teliti dan waspada dengan kejadian defisiensi vitamin E dan A difarm dan bila ada kasus, segera konsultasikan dengan Technical Services dan dokter hewan dari perusahaan obat-obatan dan dari instansi pemerintah terkait lainnya.
Defisiensi vitamin A dan E sering diderita ayam broiler dan layer pada periode pemanasan umur 0-3 bulan.
Pada masa ini anak ayam umur sehari (DOC) sampai usia tiga bulan membutuhkan asupan vitamin A dan E dalam jumlah yang tinggi. Kadang pakan yang didapatkan dari feedmill masih belum mampu memenuhi kebutuhan vitamin A dan E anak-anak ayam tersebut. Untuk itu peternak perlu memperhatikan kualitas pakan yang didapatnya, misalnya melalui uji kandungan gizi, namun hal ini sulit dan jarang dilakukan karena membutuhkan biaya yang cukup besar.
Vitamin A

Semua ternak membutuhkan vitamin ini. Vitamin A tidak terdapat dalam bahan makanan nabati secara aktif tetapi dalam bentuk provitamin yang dapat dirubah menjadi bentuk aktif dalam tubuh ternak. Provitamin A atau zat-zat karotin ini aktivitas biologisnya sama setelah dipecah oleh enzim beta karotin 15,15’-dioksigenase dalam mukosa usus kecil. Produk pemecahan ini adalah retinal yang direduksi menjadi retinol dalam sel-sel mukosa dengan katalisatornya ammonium sulfat. Salah satu bahan makanan ternak yang banyak mengandung provitamin A adalah jagung dengan kisaran potensi biologisnya 123-262 IU/mg. Secara fisiologis esensi vitamin A bagi ternak adalah untuk memelihara jaringan epitel agar jaringan tersebut dapat berfungsi secara normal. Jaringan epitel dimaksud adalah semua jaringan epitel yang terdapat pada mata, alat pernafasan, alat pencernaan, alat reproduksi, saraf dan sistem pembuangan urine. Hubungan antara vitamin A dengan fungsi mata yang normal perlu mendapat perhatian khusus. Vitamin A dibutuhkan untuk mensintesa rodopsin yang selalu rusak oleh proses foto kimiawi sebagai salah satu proses fisiologis dalam sistem melihat. Vitamin A biasanya bersatu dengan protein dalam visual purple. Bila terjadi defisiensi vitamin A, sintesa visual purple akan terganggu dan terjadilah kelainan-kelainan dalam melihat. Defisiensi vitamin A merupakan penyakit nutrisional, yakni akibat kurangnya kandungan vitamin A dalam bahan pakan. Upaya yang dapat dilakukan peternak adalah dengan mencukupinya dari berbagai materi bahan pakan ternak.

Vitamin E

vitamin E berhubungan dengan tingkat kesuburan ternak. Vitamin E ditemukan oleh Evans dan Bishop pada tahun 1922. Vitamin E merupakan nama umum dari semua derivate tokol dan tokotrienol yang secara kualitatif memperlihatkan aktivitas alfa-tokoferol (tokos artinya kelahiran atau turunan, pherson artinya memelihara, ol artinya alcohol). Penamaan ini adalah untuk semua metil-tokol. Istilah tokoferol bukanlah sinonim vitamin E, walaupun dalam praktek sehari-hari kedua istilah ini selalu disinonimkan. Di pasaran, vitamin E tersedia dalam beberapa bentuk, yakni dalam bentuk minyak pekat, emulsi cair, emulsi dalam tepung, emulsi dalam gelatin, gum, akasia, gula dan lainnya serta dalam bentuk askorbat dalam bentuk tokoferil yang difungsikan sebagai carrier untuk dicampurkan dalam bahan makanan. Beberapa bahan makanan yang mengandung vitamin E yang direkomendasikan seperti jagung, tepung ikan, tetes, beras pecah kulit, gandum, dedak gandum dan biji-bijian bekas fermentasi. Defisiensi vitamin E dalam tubuh ternak berdampak pada terganggunya sistem reproduksi, terganggunya fungsi organ-organ tubuh seperti hati, jantung, darah dan otak serta munculnya berbagai problema pada urat daging ternak. Pada ternak ayam, defisiensi vitamin E dapat mengganggu kesuburan reproduksi misalnya menurunnya daya tetas telur. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian Creger dkk (1962) yang dilaporan Green (1971) bahwa pakan ayam dengan kadar vitamin E minimal dapat ditambahkan minyak ikan 2%, hal ini dapat mempertahankan kembali tingkat kesuburan reproduksi ayam yang dipelihara. Di samping itu, Green pada tahun 1971 kembali melaporkan bahwa fertilitas ayam jantan dapat menurun bila terjadi kenaikan kadar asam linoleat yang berasal dari minyak jagung dan minyak kembang matahari dalam pakan tinggi. Sementara itu vitamin E dalam tubuh dapat berfungsi sebagai antioksidan in vitro maupun in vivo. Vitamin E sebagai antioksidan in vitro bila prosesnya hanya terjadi dalam pencampuran makanan sampai dengan makanan tersebut belum diserap di dalam saluran saluran pencernaan. Selanjutnya sebagai antioksidan in vivo secara praktis dapat dilihat pada penyimpanan karkas. Ternak unggas secara alamiah mudah mendapatkan proses oksidasi pada lemaknya. Hal ini terjadi bila pakan ternak unggas tersebut banyak mengandung asam-asam lemak tak jenuh atau asam lemak yang mudah teroksidasi. Asam lemak tersebut dideposit dalam daging atau jaringan lemak tanpa atau sedikit sekali berubah, selanjutnya dapat meningkatkan oksidasi dalam jaringan tersebut, inilah yang sering disebut sebagai pemicu memunculkan rasa tidak enak atau off flavor pada daging. Disamping itu, akan terjadi perubahan-perubahan warna dan penurunan kualitas selama produk-produk tersebut disimpan dalam penyimpanan.

Kebutuhan vitamin E untuk proses penyimpanan karkas ayam adalah 30-50 IU/kg makanan bila diberikan secara adlibitum atau 150-250 IU/kg bila diberikan seminggu sebelum ayam tersebut dipotong. Vitamin E juga bisa digunakan untuk membantu meningkatkan imunitas tubuh ternak. Hasil penelitian Tengerdy dan Happel tahun 1973 menjelaskan bahwa pemberian vitamin E yang melebihi kebutuhan normal dapat mempengaruhi mekanisme resitensi tubuh secara positif yakni dengan jalan meningkatkan pembentukkan cairan antibodi secara efisien pada ayam muda maupun ayam dewasa. Dengan meningkatnya cairan antibodi ini maka ayam secara tidak langsung dapat membunuh bibit penyakit yang masuk ke dalam tubuhnya. Dosis yang dianjurkan terkait kegunaan vitamin E ini untuk ayam adalah 130-150 mg/kg pakan yang telah mengandung 35-60 mg/kg.




sumber : Infovet dan beberapa sumber
 

PLUS – MINUS ANTIBIOTIKA SULFA

  • PDF
  • Print
  • E-mail
PERGANTIAN musim adalah merupakan siklus alam yang secara berkala akan kita temui dalam tiap tahunnya. Di Indonsia kita jumpai adanya 2 musim yaitu musim hujan dan musim kemarau. Pada saat musim hujan seperti saat ini kita harus mewaspadai mewabahnya berbagai jenis penyakit yang dapat menyerang ternak unggas kita. Pada musim hujan banyak terjadi perubahan-perubahan kondisi lingkungan yang berdampak pada kesehatan ayam. Perubahan lingkungan yang biasa terjadi seperti suhu yang relatif rendah, kelembaban tinggi, angin bertiup kencang, cahaya matahari minim dan meningginya air permukaan.
Perubahan kondisi lingkungan tersebut dapat menyebabkan ayam menjadi stresss sehingga ayam menjadi lemah dan rentan terserang penyakit. Pada saat ayam sudah terserang penyakit, peternak biasa memberikan berbagai jenis obat (lihat kondisi ayam) yang ada dipasaran. Disarankan pada kondisi tersebut selain diberi antibiotika, diberikan juga asupan vitamin.
Dari sekian banyak antibiotika, peternak tentu sudah tidak asing lagi dengan antibiotika Sulfa seperti Sulfadimidin dan sulfaquinoxalin. Antibiotika ini banyak digunakan dilapangan dengan pertimbangan :
  1. Harganya relatif murah
  2. Obat golongan sulfa relatif lebih stabil dibanding antibiotika lain
  3. Spektrum luas (Aktif terhadap mikroorganisme gram positif, gram negatif, beberapa ricketsia dan protozoa)
Mekanisme kerja obat sulfa adalah sebagai berikut :
Sebagian bakteri (gram positif dan negatif) di alam membutuhkan PABA (p-amino benzoic acid) untuk sintesa asam folat dalam tubuhnya. Dengan pemberian sulfa maka sulfa akan mendesak PABA sehingga bakteri akan mengambil sulfa yang terdiri dari PABAS. Akibatnya bakteri tidak dapat membuat asam folat lagi seperti biasanya sehingga pertumbuhannya terhambat.

Efek samping dari Sulfa adalah :
  1. Jika konsentrasi terlalu tinggi dalam darah, dapat terjadi kristalisasi sulfa. Kristalisasi terutama terjadi di ginjal yang dapat menimbulkan Dapat menimbulkan Anoreksia (tidak nafsu makan) sehingga pertumbuhan dan produksi telur menurun.
  2. Pemakaian yang terus menerus dapat menimbulkan resistensi kuman dan kekacauan pada flora usus.
Dalam pemakaian obat sulfa, peternak juga harus mengetahu bahwa ada beberapa zat yang dapat mengurangi khasiatnya, seperti :
  1. Vitamin-vitamin yang termasuk dalam vitamin B kompleks, seperti Nicotinamid, Folic Acid, Choline.
  2. Asam Amino, seperti asam glutamat dan methionine.
  3. Protein, seperti gelatin, albumin, pepton dan serum protein.
Itulah plus minusnya pemakaian obat sulfa. Kita selalu waspada dalam menggunakan antibiotika agar menghasilkan efek pengobatan yang maksimal (efektif) dan efisien.


sumber : CP-Buletin
 

Petujuk Praktis : PEMELIHARAAN ITIK PEDAGING

  • PDF
  • Print
  • E-mail
Itik Serati/Tiktok


Ternak itik berperan cukup besar dalam memenuhi kebutuhan protein hewani, karena selain penghasil telur juga berfungsi sebagai penghasil daging. Salah satu jenis itik pedaging yang saat ini banyak diminati dan mulai berkembang adalah itik serati/tiktok, yang dihasilkan dari perkawinan silang antara entok jantan dan itik petelur betina melalui proses inseminasi buatan (IB). Pemeliharaan serati/tiktok sebagai itik pedaging memiliki beberapa keunggulan, yaitu cepat tumbuh sehingga bobot potong lebih besar, tekstur daging lebih empuk, rasanya gurih dan tidak amis, serta kadar lemaknya rendah yaitu hanya 1,5 %. Selain itu, masa pemeliharaan juga relatif pendek yaitu 8 – 10 minggu. Selain budidaya intensif, itik pedaging serati/tiktok juga dapat dipelihara secara terpadu dengan padi sawah. Pemeliharaan terpadu di lahan sawah dapat mengurangi biaya produksi, karena sebagian sumber pakan dapat diperoleh dari lingkungan sawah yaitu berupa rumput, serangga, keong, katak kecil dan sebaginya. Pemeliharaan tiktok secara terpadu dengan padi sawah (3.500 ekor/ha) selama 75 hari dapat mencapai bobot 2,5 kg/ekor dengan mortalitas 5 %.

SARANA DAN PRASARANA

  1. Lokasi usaha harus memperhatikan lingkungan dan topografi, status lahan harus jelas dan jauh dari pemukiman.
  2. Sarana yang diperlukan adalah kandang anak, kandang pembesaran, bibit, pakan, obat-obatan, tempat pakan dan minum serta penerangan.
  3. Kandang anak terbuat dari bambu/kawat, berupa panggung, cukup ventilasi, lantai ditaburi sekam/serbuk gergaji untuk menyerap air dan kotoran.
  4. Kandang pembesaran terbuat dari bambu, berupa kandang tanah yang lantainya diberi alas sekam/serbuk gergaji untuk menyerap air dan kotoran serta cukup ventilasi.
  5. Ukuran kandang pemeliharaan anak dan pembesaran disesuaikan dengan skala usaha. Kepadatan unutk umur 0 – 2 minggu adalah 25 – 30 ekor/m2 dan umur 3-10 minggu 10-12 ekor/m2.
  6. Lokasi kandang harus memperhatikan tata letak, drainase, sirkulasi udara, sinar metonin, sarana transportasi, sumber pakan, sumber air tidak bising dan harus kering dan bersih.7. Tempat makan dan minum dari bahan tidak mudah berkarat dan mudah dibersihkan, penempatannya mudah dijangkau dan dipindahkan.
TEKNIS BUDIDAYA

Pengadaan Bibit

Pemilihan bibit (DOD) merupakan salah satu kunci keberhasilanusaha pembesaran. DOD yang baik harus sehat dan baik yang dicirikan oleh : tubuh tegap, gesit dan lincah; kaki kokoh; fisik tidak cacat dan nafsu makan tinggi. Anak itik serati/tiktok yang baru lahir (DOD) memiliki bobot badan 26 – 53 gram (rataan 40,03 g).

Penyediaan Pakan

Pada budidaya itik pedaging secara intensif, penyediaan pakan sering menjadi kendala karena sebagian besar masih mengandalkan pakan pabrik yang menghabiskan 60-70 % biaya produksi. Pakan yang digunakan pada budidaya itik pedaging hanya dua jenis yaitu starter dan grower/finisher. Kebutuhan gizi
stadia starter (0-3 minggu) dan grower (4-10 minggu) disajikan pada tabel berikut.
Ransum itik pedaging dapat dibuat dengan cara mencampur beberapa bahan yang berasal dari limbah pertanian, perikanan dan pakan pabrik (konsentrat dan pur). Limbah pertanian dan perikanan sebagai sumber pakan adalah dedak padi, menir, jagung giling, bungkil kelapa, keong mas, ikan rucah segar dan kepala udang.

Tambahkan asupan suplemen probiotik (SnS PRO probiotic solution), multivitamin dan asam amino (BENNEFIT plus), untuk meningkatkan kecernaan pakan, nafsu makan, kesehatan organ pencernaan dan pertumbuhan, sehingga tercapai kondisi kesehatan dan daya tahan tubuh serta yang pasti pencapaian berat badan optimal seperti yang diharapkan.

Komposisi ransum itik pedaging serati/tiktok Fase starter adalah konsentrat/pur komersial dan menir dengan perbandingan 2:1, sedangkan Fase grower dapat menggunakan contoh formula sebagai berikut :
Pemberian pakan Fase starter sebanyak 20-40 g/ekor/hari. dengan frekuensi 3-4 kali, sedangkan stadia grower sebanyak 40-60 g/ekor/hari dengan frekuensi 2-3 kali.
Bobot badan

Pertumbuhan bobot badan itik serati/tiktok cukup cepat. Dengan pemberian pakan yang cukup dan bermutu, bobot badan itik serati/tiktok umur 10 minggu dapat mencapai 2,5 kg. Rataan bobot badan itik serati umur 5 minggu adalah 1.229,49 (bobot awal 40,03 g), sedangkan pada umur 10 minggu 1.154-2.076 g/ekor (bobot awal 502,4-734,3 g).
Penyakit dan Pencegahan

  1. Itik serati/tiktok relatif tahan terhadap penyakit, karena daya adaptasinya lebih baik terhadap perubahan lingkungan.
  2. Penyakit timbul sebagai akibat tidak berfungsinya faktor utama dengan baik, yaitu : sanitasi, biosecurity, manajemen serta perubahan lingkungan terutama cuaca dan suhu.
  3. Penyakit utama itik pedaging hampir sama dengan jenis unggas lainnya, yaitu : sallmonellosis yang disebabkan bakteri Salmonella typhimurium dan S. entritidis; botulismus yang disebabkan oleh bakteri Clostridium botulinum; fowl cholera, fowl pox, avian influenza, avian chlamydiasis, coccidiosis dll.


Diolah dari sumber :
Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Banten
(Banten Assessment Institute for Agricultural Technology -AIAT-)
 

Page 1 of 27