Welcome to Sarana Satwa

Mengontrol Ukuran dan Berat Telur

  • PDF
  • Print
  • E-mail

Apa saja target produktivitas yang harus dicapai dari pemeliharaan ayam petelur? Jawaban utama pasti jumlah produksi telur. Tapi tahukah bahwa selain dilihat dari jumlah (kuantitas) produksi, target produktivitas ayam petelur bisa pula dilihat dari kualitas telur yang dihasilkan, seperti ukuran dan berat telur.

Sejak pertama kali ayam bertelur, yaitu ketika mencapai umur 18 minggu hingga afkir, ukuran dan berat telur memang tidak akan sama pada setiap harinya. Dalam hal ini, seorang peternak harus memiliki respon untuk menentukan apakah ukuran/berat telur yang dihasilkan sesuai/mendekati standar atau jauh dari standar. Jauh dari standar, artinya bisa lebih besar atau lebih kecil. Tidak sesuainya ukuran dan berat telur bisa disebabkan oleh beberapa faktor yang berbeda.

 

Faktor yang Mempengaruhi

Ukuran dan berat telur secara garis besar dipengaruhi oleh faktor genetik. Meskipun demikian, faktor manajemen dapat pula terlibat dalam menentukan besar kecilnya telur. Faktor-faktor manajemen tersebut terdiri dari 3 hal yaitu berat badan, tingkat kematangan seksual dan nutrisi ransum.

a.  Berat badan

Berat badan berkorelasi positif dengan ukuran telur. Saat pertama kali bertelur, pullet yang memiliki berat badan di bawah standar akan memproduksi telur dengan ukuran lebih kecil. Demikian sebaliknya, pullet dengan berat badan di atas standar saat pertama kali bertelur, akan menghasilkan telur yang lebih besar ukurannya. Keadaan tersebut akan berlangsung secara terus-menerus selama ayam tersebut berproduksi

b.  Tingkat kematangan seksual

Faktor ini juga berhubungan dengan berat badan, namun secara umum ayam yang mengalami kematangan seksual terlalu dini (belum cukup umur) akan memproduksi telur dengan ukuran kecil. Demikian juga sebaliknya ketika kematangan seksual terlambat, maka ayam akan memproduksi telur dengan ukuran besar (abnormal)

c.  Nutrisi ransum

Ukuran dan berat telur sangat besar dipengaruhi oleh nutrisi ransum seperti protein, asam amino tertentu seperti methionine dan lysine, energi, lemak total dan asam lemak esensial seperti asam linoleat. Terpenuhinya kebutuhan akan nutrisi tersebut, diharapkan bukan hanya akan menghasilkan telur berkualitas (sesuai standar,red), melainkan juga ikut berperan dalam meningkatkan jumlah produksi telur. Tidak terpenuhinya kebutuhan dari salah satu nutrisi tersebut melalui asupan ransum, maka akan mengurangi berat telur, bahkan jika hal tersebut terjadi pada petelur produksi sebelum umur 40 minggu, bisa berakibat pada penurunan jumlah produksi telur.

Dari data penelitian terbaru, diinformasikan bahwa pengurangan kadar protein dan asam linoleat dalam ransum petelur umur 47 minggu akan menurunkan berat telur sebesar 0,7 g (selama periode umur 48-60 minggu) tanpa mempengaruhi jumlah produksinya (www.thepoultrysite.com). Untuk asam amino yang paling signifikan mempengaruhi berat telur adalah methionine. Bowmaker dan Gous (1991) melaporkan bahwa pemberian methionine pada petelur (sebanyak 524 mg/ekor/hari) bisa meningkatkan rataan berat telur. Hal yang perlu diperhatikan dalam memanipulasi kebutuhan nutrisi untuk menghasilkan ukuran dan berat telur sesuai standar ialah adanya hubungan negatif antara produksi telur dan ukuran telur. Dimana biasanya pada kondisi normal (alami), peningkatan ukuran dan berat telur akan menyebabkan penurunan produksi telur.

 

Bagaimana Mengontrol Ukuran dan Berat Telur?

Meskipun ukuran dan berat telur terutama dikendalikan oleh genetik, namun kita masih bisa untuk mengontrol kualitas telur tersebut melalui perbaikan manajemen. Berdasarkan ke-3 faktor di atas, maka penanganan yang bisa dilakukan agar ukuran dan berat telur dapat dikontrol, antara lain:

  • Lakukan kontrol berat badan secara rutin ketika periode starter dan grower (pullet) serta usahakan agar ayam tidak terlalu gemuk atau terlalu kurus (± 10% dari berat badan standar)
  • Telur kecil yang disebabkan karena tingkat kematangan seksual terlalu dini, biasanya sulit untuk diatasi karena organ reproduksinya sudah tidak bisa diperbaiki lagi. Antisipasinya yaitu dengan memperhatikan masa pemeliharaan pullet, terutama terkait program pencahayaan. Untuk memperoleh telur dengan ukuran yang optimal, jangan memberi tambahan cahaya pada ayam periode grower sebelum ayam tersebut mencapai berat badan antara 1550-1600 gram (siap berproduksi)
  • Berikan ransum dengan nutrisi yang sesuai dengan kebutuhan ayam di tiap periode pemeliharaannya terutama untuk kandungan protein, asam amino, energi, asam lemak, kalsium, fosfor dan vitamin D (karena sangat berperan pada pembentukan telur)
  • Berikan terapi supportif terutama dengan multivitamin yang membantu produksi telur seperti Top Mix,Aminovit dan Egg Stimulant. Suplementasi asam amino (methionine dan lysine), khususnya yang terkandung dalam Aminovit dan Top Mix mampu menambah produksi dan berat telur

Fungsi Penting Suplementasi

Penambahan feed supplement akan membantu meningkatkan performa ayam petelur baik pertumbuhan maupun produksi telurnya. Vitamin, asam amino atau mineral yang terkandung pada feed supplement berfungsi sebagai komponen penyusun sebutir telur. Oleh karena itu, dalam kasus mengontrol kualitas telur, pemberian feed supplement juga penting untuk dilakukan. Salah satu contoh pengaruh suplementasi terhadap produksi dan kualitas telur ditunjukkan oleh penelitian Amrullah (2003) (Grafik 1 dan 2), dimana ayam yang diberi 0,1%methionine (asam amino essensial, red) dalam 14% dan 16% protein kasar di ransumnya ternyata memiliki kualitas telur yang lebih baik (bobot telur) dan produksi yang lebih tinggi (henday) dibanding yang tidak diberi suplementasi.

Mempertahankan ukuran dan berat telur sesuai dengan standar memang membutuhkan tindakan manajemen pemeliharaan yang tepat. Kontrol berat badan, ransum dan tingkat kematangan seksual menjadi faktor penting yang sangat berperan dalam mencapai hal tersebut. Dari segi nutrisi, pemberian feed supplement diketahui mampu melengkapi nutrisi ransum ayam petelur sehingga dapat memperbaiki produksi dan kualitas telur. Salam.

 

Aspek Imunologi Probiotik

  • PDF
  • Print
  • E-mail

Mukosa saluran cerna merupakan barier utama mengeliminasi antigen yang masuk melalui makanan. Saluran cerna memiliki pertahanan alami yang terdiri dari :

  • Saliva
  • Asam lambung
  • Peristaltik
  • Intestinal proteolysis

Apabila jumlah antigen melebihi kapasitas pertahanan alamiah tersebut maka antigen akan masuk ke dalam tubuh dan akan bermanifestasi klinis sebagai keluhan/penyakit. Mikroba dalam saluran cerna meupakan populasi kompleks karena terdiri dari berbagai jenis mikroba untuk mempertahankan homeostatis sistem pencernaan. Sistem pencernaan yang normal akan mempengaruhi imunitas tubuh. Pada pencernaan yang normal akan dihasilkan keseimbangan factor proinflamatory dan proteksi.

  1. Faktor Proinflamatory.

Yang dihasilkan antara lain adalah bakteri pathogen, eksotoksin-endotoksin, enzim pencernaan, antigen dari pencernaan, antigen dari makanan, IFN gama, dan TNF alfa.

  1. Faktor Proteksi

Yang dihasilkan terdiri dari PROBIOTIK, imun mukosa, sIgA, PGE2, PGI2, IL-1, IL-10, dan TGF beta.

Keseimbangan antara host defence mechanism dan antigen dalam tubuh akan menghasilkan status imunitas yang baik dan akan sangat menguntungkan imunitas mukosa. Probiotik didefinisikan sebagai salah satu food supplement yang mengandung microbial hidup yang sangat berguna bagi kesehatan tubuh.

Probiotik dibuat dari bahan-bahan mikroba yang ada disaluran cerna normal dan terbanyak dari golongan Lactobacillus dan Bifidobacteriae. Probiotik ini dapat membantu mengeliminasi antigen yang masuk bersama makanan. Dahulu konsep pemberian probiotik bertujuan untuk menambah mikroba baik dalam saluran cerna agar eliminasi antigen dapat lebih baik. Namun berdasarkan

 

Kontrol Microorganisme

  • PDF
  • Print
  • E-mail

Ada beberapa jenis mikroorganisme, ada yang tidak berbahaya namun juga ada yang bersifat ‘highly pathogenic’. Perlakuan disinfeksi terhadap mikroorganisme tertentu dapat bersifat mematikan, namun bisa juga menjadi tidak mematikan bagi mikroorganisme lain. Beberapa organism dapat dengan mudah dibasmi, namun ada beberapa yang sulit. Mengetahui cara mengontrol mikroba sangat penting pada saat pemilihan jenis perlakuan untuk mengeliminasi penyakit yang disebabkan oleh mikroorganisme.

Ada 3 cara yang sering dilakukan, yaitu :

  1. Sterilisasi yaitu perusakan semua bentuk mikroorganisme yang bersifat reproduktif dan infektif (bakteri, jamur, virus).
  2. Disinfeksi yaitu perusakan semua jenis mikroorganisme yang bersifat vegetative.
  3. Sanitasi adalah pengurangan sejumlah mikroorganisme yang bersifat patogenik sampai pada tingkat yang tidak membahayakan.

Pembersihan yang tepat dapat menyingkirkan mikroba dan sangat penting dilakukan sebelum memberikan disinfektan. Lakukan hal ini pada semua produksi perunggasan, termasuk hatchery, fasilitas brooding, kandang ayam, gudang, atau processing plant. Sangat penting untuk menghilangkan bahan-bahan organic dari permukaan yang akan dilakukan disinfeksi. Semua sisa-sisa kotoran ayam, pecahan telur, dan sebagainya harus disingkirkan. Lanjutkan pembersihan dengan baik dan alat pembersih yang tepat. Perhatikan pada saat pemilihan detergent yang tepat untuk membersihkan lingkungan. Perhatikan juga kondisi air, tingkat kesadahan, sanitasi dan pH air yang akan digunakan. Pembersihan menggunakan air yang dapat diminum dapat membantu proses pembersihan yang komplit dan dapat menghilangkan residu dari detergent, bahan organic dan mikroba. Setelah dibersihkan dengan detergent, baru dapat dilakukan perlakuan pembersihan dengan larutan disinfektan. Tidak semua disinfektan cocok untuk setiap keadaan.

Pada saat pemilihan Desinfektan perlu memperhatikan :

  1. Jenis permukaan yang akan dilakukan disinfektan.
  2. Tingkat kebersihan permukaan.
  3. Jenis organism yang akan dibuang.
  4. Ketahanan dari bahan/material peralatan/permukaan.
  5. Durasi waktu perlakuan.
  6. Aktifitas residu.

Jika permukaan bebas bahan organic dan aktifitas residu tidak menjadi masalah, campuran quaternary ammonium dan halogen dapat digunakan secara efektif. Jika permukaan sulit dibersihkan atau kontaminasi organisme sulit untuk dibersihkan, penggunaan phenol lebih baik.

Beberapa pemahaman tentang pengguaan beberapa disinfektan untuk meningkatkan keefektifannya :

  1. Beberapa disinfektan dapat bersifat efektif, namun disinfektan membutuhkan waktu untuk mengikat mikroba dan memberikan efek merusak. Untuk melihat efek disinfektan diperlukan waktu (misalnya 30menit), jika tidak terjadi efek yang diinginkan maka dapat diganti dengan disinfektan lainnya.
  2. Perhatikan keefektifannya disinfektan terhadap organism, karena tidak semua disinfektan efektif pada semua jenis organism.
  3. Pada keadaan tertentu, penggunaan disinfektan disarankan terlebih dahulu pembersihan dengan air (water rinsing). Namun ada yang menyarankan pembersihan dan disinfektan dilakukan pada saat yang sama, dengan alasan lebih ekonomis. Jika memilih produk dengan pembersihan dan disinfektan dalam satu pengoperasian, perhatikan tingkat keefektifan disinfektan tersebut.
  4. Tingkat keefektifan larutan disinfektan biasanya lebih baik pada larutan yang hangat dari pada larutan yang dingin. Namun jika terlalu panas akan mengurangi tingkat keefektifan.
  5. Setelah dilakukan disinfeksi sebaiknya dibiarkan sampai mongering sebelum digunakan kembali. Keadaan yang kering akan mencegah proses reproduksi, penyebaran dan transport organism pembawa penyakit. Walaupun permukaan bersih, lebih mudah terjadi kontaminasi ulang dengan organism jika terdapat air (basah) pada permukaan tersebut.

(sumber: Cooperative extension service missisippi state university, “misstate.idu”)

 

Penyakit Penting Pada Unggas

  • PDF
  • Print
  • E-mail

Sebagai peternak kita tidak ingin timbulnya penyakit. Karena itu sanitasi dan program-program kesehatan haruslah dijalankan dengan cermat dan teliti. Tetapi faktor timbulnya penyakit tersebut bermacam-macam. Sehingga walaupun kita telah melaksanakan segala macam sanitasi dan kebersihan dijaga dengan ketat, kadang-kadang penyakit tersebut masih dapat menyerang peternakan kita. Maka dari ada baiknya kita mengenal beberapa penyakit yang sering dijumpai di Indonesia.

NEW CASTLE DISEASE (NCD/ND/TETELO/PES AYAM)

Penyebab

virus golongan paramyxo

Penularan

  • Hubungan langsung dengan ayam-ayam yang sakit.
  • Alat-alat kandang, tempat makan / minum yang ketularan virus.
  • Infeksi melalui udara, burung-burung yang membawa kuman penyakit dan para tamu yang masuk ke kandang membawa kuman-kuman yang melekat pada sepatu atau tangannya.

Tanda-tanda

  • Pada tingkat permulaan ayam mengalami batuk-batuk, bersin dan napasnya mengorok (terutama pada waktu malam hari, mengorok jelas terdengar).
  • Pada anak ayam dan ayam remaja (umur 3 - 4 bulan).
  • Gejala-gejala syaraf sering kali Nampak yaitu ayam jalannya sempoyongan, gemetar, suka mematuk, berjalan mundur dan mudah sekali dijumpai pada ayam dewasa.
  • Nafsu makan tidak ada, nafsu minum meningkat (suka minum) dan produksi telur menurun sangat menyolok sekali sampai 50% bahkan ada kalanya terhenti.

Pengobatan

Sampai saat ini tidak ada obatnya

Pencegahan

Vaksinasi secara teratur

 

INFECTIOUS BURSAL DISEASE (IBD = GUMBORO DISEASE)

Penyebab

virus golongan birnaviridae

Penularan

  • Hubungan langsung dengan ayam-ayam yang sakit.
  • Alat-alat kandang, tempat makan / minum.

Tanda-tanda

  • Nafsu makan hilang, gemetaran, peradangan di sekitar dubur dan terjadi diare berwarna putih.
  • Ayam tampak sering mematuki bulu di sekitar anus.
  • Sering menyerang pada ayam umur 20 – 60 hari, kadang – kadang menyerang pada umur dibawah 3 minggu. Angka kematian bisa mencapa 30% – 60%.
  • Semakin tua ayam, angka kesakitan dan kematian cenderung menurun.
  • Pada bedah bangkai dapat ditemukan perubahan pada bursa fabricius.
  • Pada keadaan akut bursa fabricius mengalami pembesaran, peradangan dan oedema. Kira – kira 4 – 8 hari setelah infeksi, bursa fabricius menjadi atropi. Sedangkan pada keadaan kronis bursa fabricius ukurannya bisa sangat kecil.
  • Ginjal dan saluran kemih mengalami pembengkakan dan terlihat putih karena tubulusnya (struktur lubang berbentuk silindris) mengalami dilatasi (perluasan) dengan adanya asam urat.
  • Terjadi perdarahan pada otot dada, otot paha dan mucosa proventriculus, mucus dalam usus meningkat.

Pengobatan

Tidak ada obat yang dapat menyembuhkan penyakit gumboro. Tindakan yang dapat dilakukan adalah mengusahakan supaya kondisi badan cepat membaik, nafsu makan dirangsang dengan memberikan vitamin dan air gula (sebagai pemberian energi) 50 gram tiap 1 liter. Untuk mencegah infeksi sekunder dengan memberikan antibiotic dalam air minumnya. Untuk mengurangi demam dan menurunkan panas dapat diberikan paracetamol pada air minum 1 butir kaplet 50mg untuk 40 ekor DOC.

Pencegahan

Vaksinasi secara teratur.

 

INFECTIOUS BRONCHITIS (IB)

Penyakit yang menyerang ayam (segala umur) dengan cepat terutama anak-anak ayam umur 4 minggu dan dara.

Penyebab

Virus golongan Corona virus.

Penularan

  • Kontak langsung dengan ayam sakit
  • Alat-alat kandang yang kena infeksi
  • Makanan dan minuman
  • Melalui udara

Tanda-tanda

  • Pada anak ayam : keluar ingus, susah bernafas, batuk-batuk, sukar bertumbuh, mata berair.
  • Pada phase layer : produksi menurun, bentuk telur yang aneh, kasar dan kulitnya lunak ini akibat gangguan dan pada pertukaran zat calcium.

Pencegahan

Vaksinasi, sanitasi yang baik, tatalaksana yang sempurna.

 

INFECTIOUS LARYNGO TRACHEITIS (ILT)

Penyebab

Harpes virus

Penularan

  • Melalui saluran nafas atau conjungtiva.
  • Hubungan langsung dengan ayam-ayam yang sakit.
  • Alat-alat kandang, tempat makan/minum yang ketularan virus.
  • Infeksi melalui udara, burung-burung yang membawa kuman penyakit dan para tamu yang masuk ke kandang.

Tanda-tanda

  • Penyakit berjalan secara perakut, akut, “mild” atau asymptomatic.
  • Bentuk perakut, ayam ditemukan mati tanpa adanya gejala, prodromal atau tiba-tiba sesak nafas dengan beberapa kali batuk dan mengeluarkan eksudat berupa lendir yang bercampur darah atau titik darah, diikuti kematian pada 1-3 hari kemudian.
  • Pada bentuk akut, terlihat sesak nafas tetapi tidak terjadi secara tiba-tiba seperti pada kasus perakut.
  • Adanya penyumbatan trachea oleh eksudat menyebabkan ayam susah bernafas, menjulurkan lehernya, terengah-engah, paruh terbuka dan bersin-bersin. Kadang-kadang terlihat adanya kotoran dihidungnya, terjadi conjunctivitis (peradangan selaput lendir mata) mata berair dan keluar air mata. Ayam mengalami cyanosis (berwarna kebiruan) pada muka dan jengger. Biasanya ayam mati 3-4 hari kemudian.
  • Pada bentuk yang ringan terlihat batuk ringan, mengibaskan kepalanya, mengeluarkan eksudat dari hidung dan mata, conjungtivitis dan mata berair.
  • Pada ayam yang sedang bertelur dapat menurunkan produksi telur.

Pengobatan

  • Tidak ada obatnya.
  • Usaha yang dapat dilakukan adalah menjaga supaya kondisi badan cepat membaik dan meningkatkan nafsu makan dengan memberikan vitamin.
  • Sedangkan usaha untuk mencegah infeksi sekunder dapat dilakukan dengan memberikan antibiotic pada air minumnya.

Pencegahan

Vaksinasi

 

EGG DROP SYNDROME 1976 (EDS ’76)

Penyebab

Virus golongan Adenovirus

Penularan

  • Kontak langsung dengan ayam yang sakit (horizontal)
  • Tertular induk / melalui telur tetas (Vertikal).
  • Angsa itik, angsa bisa menjadi penyebab penularan EDS 76.

Tanda-tanda

  • Penyakit ini sering terjadi pada ayam petelur pada umur 25-26 minggu.
  • Ayam tetap tampak sehat, tidak memperlihatkan gejala sakit kecuali terdapat terdapat penurunan produksi yang sangat mencolok disertai penurunan kualitas telur. Biasanya makin besar penurunan kuantitas telur yang diproduksi makin rendah pula kualitas telurnya.
  • Perubahan kualitas telur seringkali bersamaan dengan penurunan produksi, tetapi ada kalanya turunnya kualitas telur mendahului penurunan produksi.
  • Kerabang telur warnanya berubah menjadi lebih pucat, lembek, kasar dan berubah bentuk atau kecil.
  • Produksi telur menurun sebesar 20-40 % selama 6-8 minggu atau 10 minggu.
  • Telur-telur yang menyimpang dari bentuk normal mengalami penurunan daya tunas dan daya tetasnya.

Pencegahan

  • Vaksinasi, sanitasi yang baik, tatalaksana yang sempurna.
  • Usaha yang dapat dilakukan adalah menjaga kondisi badan tetap baik dan meningkatkan nafsu makan dengan memberikan vitamin anti stress.
  • Infeksi sekunder dicegah dengan memberikan antibiotic dalam air minumnya.

 

INFECTIOUS CORYZA (SNOT, PILEK)

Penyebab

Bakteri Haemophilus paragallinarum.

Penularan

  • Kontak langsung dengan ayam sakit (horizontal).
  • Ayam yang telah sembuh dan serangan penyakit akan bertindak sebagai pembawa bibit penyakit dan dapat menularkannya pada ayam yang lain.
  • Masa inkubasi berkisar antara 1-3 hari.

Tanda-tanda

  • Penyakit ini merupakan penyakit kronis, kejadiannya berlarut-larut.
  • Dari lubang hidung keluar eksudat yang mula-mula berwarna kuning dan encer tetapi lambat laun berubah menjadi kental, bernanah dan berbau khas.
  • Adanya eksudat menyebabkan daerah sekitar lubang hidung berwarna hitam karena adanya debu kandang yang menempel. Tanda ini bisa digunakan untuk mencirikan adanya penyakit korisa di suatu kandang.
  • Sinus infraorbitalis membengkak, keluar air mata, tidak ada nafsu makan, diare dan bersin-bersin.
  • Kelopak mata membengkak dan mata tertutup.
  • Ayam menjadi sulit bernafas, kadang-kadang ditemukan diare.
  • Pertumbuhan menjadi terhambat dan kerdil.
  • Jika ayam yang mati karena infectious coryza dibedah di dalam sinus infraorbitalis akan didapati eksudat kental berwarna putih atau kuning dengan bau khas, titik-titik pendarahan dan oedema pada mukosanya.
  • Trachea terdapat eksudat serous sampai mukoid dan mukosanya menjadi menebal. Dapat juga terjadi peradangan pada kantung udara.

Pencegahan

Vaksinasi, sanitasi yang baik, tatalaksana yang sempurna.

Pengobatan

  • Pemberian antibiotic pernafasan untuk tindakan pengobatan.
  • Berikan vitamin antistres selama 5-7 hari setelah pengobatan.

COLIBACILLOSIS

Penyebab

Escherichia coli

Penularan

  • Penularan terjadi secara vertical dan horizontal. Penularan vertical melalui telur tetas kurang berarti dibandingkan dengan penularan horizontal. Litter yang sangat berdebu (debu litter banyak mengandung E.coli asal tinja) memudahkan E.coli masuk ke saluran pernafasan.
  • Ayam yang sakit saluran pernafasan menjadi mudah terinfeksi oleh E.coli meskipun kadang tidak berdebu.

Tanda-tanda

  • Pada saat ayam menderita penyakit pada saluran pernafasan atau udara sangat berdebu, Escherichia coli terhisap melalui saluran pernafasan. Kemudian melakukan infeksi dan multiplikasi. Infeksi biasanya local pada kantung udara dan menyebabkan penyakit yang kronis. Kantung udara menjadi tebal mengandung cairan dan massa seperti keju. Hal ini menyebabkan ayam sulit bernafas. Infeksi E.coli dapat juga menyebar ke ginjal, hati, jantung, kantung udara abdominal sehingga menyebabkan alat tubuh tersebut terselaputi dengan selaput fibrin. Ayam yang mengalami hal ini pertumbuhannya terhambat, sukar diobati dan angka kematian menjadi 8-10%.
  • Infeksi E.coli pada saluran pencernaan biasanya terjadi pada usus yang telah mengalami perlukaan karena serangan koksidiosis, nekrotik enteritis, histomoniasis dan infeksi oleh jamur atau cacing.
  • Infeksi E.coli juga mudah terjadi jika ayam mengalami stress akibat gizi rendah dalam ransumnya.
  • Kerusakan pada usus peradangan, pembengkakan, penebalan dinding usus, oedema, keluar lendir bercampur darah. Ayam terinfeksi mengalami diare pada berbagai tingkatan keparahan dan kondisi tubuh menurun dengan cepat.
  • Infeksi E.coli pada alat reproduksi kadang-kadang tidak menimbulkan gejala sakit. Ayam masih tetap bertelur tetapi telur menjadi tertular E.coli. Embrio dan telur tersebut akan mati sebelum menetas atau segera mati setelah menetas. Kematian embrio terjadi akibat peritonitis dan infeksi pada kantung kuning telur atau karena sepsis. Serangan E.coli kronis pada alat reproduksi menyebabkan penurunan produksi telurdan pecahnya telur didalam alat reproduksi yang menyebabkan kematian mendadak. E.coli juga menyebabkan coli granuloma dan arthritis.

Pencegahan

  • Vaksinasi, sanitasi / desinfeksi yang baik, tatalaksana yang sempurna.
  • Ciptakan suasana nyaman bagi ayam, jumlah ayam dalam luasan kandangtidak terlalu padat, ventilasi kandang cukup dan diusahakan agar ammonia kurang di dalam kandang.
  • Sanitasi tempat minum (tempat minum dicuci setiap 2 kali sehari)

Pengobatan

  • Pemberian antibiotic pencernaan pada air minum.
  • Berikan vitamin antistress 4-5 hari setelah pengobatan selesai, untuk membantu proses penyembuhan penyakit.

KOKSIOIOSIS (BERAK DARAH)

Penyebab

Koksidia yaitu parasit yang terdiri dari 1 sel (protozoa) dari genus Eimeria. Terdapat 12 macam spesies Eimeria yang menyerang ternak ayam, yaitu: Eimeria tenella, Eimeria necatrix, Eimeria brunette, Eimeria acervulina, Eimeria maxima, Eimeria mitis, Eimeria mivati, Eimeria praecox, Eimeria hagani, Eimeria tyssarni, Eimeria myonella, dan Eimeria gallinae.

Penularan

Penyakit menyebar secara horizontal dari ayam sakit kea yam sehat.

Tanda-tanda

  • Gangguan umum yang dapat dilihat adalah nafsu makan menurun, nafsu minum meningkat, hewan menjadi kurus, depresi, bulu kusut dan pucat.
  • Serangan Eimeria tenella pada umumnya akut, terjadi berak darah dan dapat menimbulkan kematian. Serangan Eimeria maxima menyebabkan tinja mengandung eksudat yang mukoid berwarna kemerahan dan bercampur bintik-bintik darah.
  • Jika penyebabnya Eimeria tenella maka pada bangkai ayam yang dibedah akan didapatkan caecum membesar dan berisi darah atau perkejuan yang bercampur darah.

Pencegahan

  • Melakukan sanitasi kandang dan peralatan kandang (kandang dibersihkan, dicuci dan disemprot dengan disinfektan), mencegah tamu, hewan liar dan hewan peliharaan lain bebas masuk ke lingkungan kandang.
  • Usaha peternakan dikelola dengan baik sehingga tercipta suasana nyaman bagi ayam, jumlah ayam dalam kandang tidak terlalu padat, ventilasi kandang cukup.

Pengobatan

Pemberian anticocci/coccidiostat

CHRONIC RESPIRATORY DISEASE (CRD)

Penyebab

Bakteri Mycoplasma Gallisepticum

Penularan

  • Kontak langsung dengan ayam sakit.
  • Alat-alat kandang yang kena infeksi
  • Makanan dan minuman
  • Melalui udara.

Tanda-tanda

  • Pada anak ayam : ada kalanya keluar ingus, susah bernafas, batuk, pertumbuhan terhambat.
  • Pada phase layer : produksi menurun, jika dilakukan bedah bangkai dapat ditemukan kelainan pada saluran pernafasan yaitu rongga dan sinus hidung berlendir. Kantung udara menjadi keruh atau mengandung lendir. Pada stadium selanjutnya, lendir menjadi berwarna kuning dan berkonsistensi seperti keju. Eksudat seperti ini juga dapat ditemukan di jantung dan pericardium (selaput jantung)

Pencegahan

Vaksinasi, sanitasi yang baik, tatalaksana yang sempurna.

Pengobatan

  • Berikan obat-obatan/antibiotic pada ayam yang sakit.
  • Obat dapat diberikan pada saat sebelum gejala CRD biasa muncul atau diberikan saat ada factor stress, selama 3 hari berturut-turut. Berikan vitamin antistres atau vitamin asam amino setelah pemberian obat selesai.
  • Vitamin antistres diberikan untuk membantu proses penyembuhan dan vitamin asam amino untuk memenuhi kebutuhan asam amino dan recovery setelah sembuh dari sakit.

FOWL CHOLERA (KOLERA UNGGAS)

Penyebab

Pasteurella Multocida, Pasteurella Aviseptica atau Pasteurella Gallinarum.

Penularan

Penularan terjadi secara horizontal baik secara langsung maupun tidak langsung. Penularan terjadi melalui saluran pencernaan, saluran pernafasan, luka pada kulit atau luka suntikan. Saluran pernafasan bagian atas dan hewan yang baru sembuh dari sakit masih mengandung kumpulan kuman yang dapat menyebar melalui ekskresi hidung. Kejadian penyakit berhubungan erat dengan ventilasi kandang yang kurang, transportasi, perubahan cuaca atau kekurangan vitamin A.

Tanda-tanda

  • Pada umumnya penyakit menyerang ayam umur 3 bulan keatas dengan masa inkubasi 4-9 hari. Penyakit dapat berjalan perakut, akut atau kronis.
  • Bentuk perakut menyebabkan ayam tiba-tiba mati tanpa ditandai adanya gangguan sebelumnya.
  • Pada bentuk akut dapat ditemukan adanya conjunctivitis dan keluarnya kotoran air mata.
  • Daerah muka, jengger dan pial membesar dan ada gangguan pernafasan.
  • Tinja encer berwarna hijau kekuningan.
  • Unggas menjadi lumpuh akibat adanya peradangan pada sendi tarsus.
  • Ayam yang mati karena serangan kolera akut atau perakut biasanya daerah muka menjadi biru kehitaman.
  • Bentuk kronis yaitu jika penyakit terjadi beberapa minggu sampai beberapa bulan, berupa infeksi local pada pial, sendi kaki, sayap dan basal otak.
  • Pial membengkak berisi cairan oedema atau massa perkejuan.
  • Infeksi pada daerah kaki dan sayap ditandai dengan pembengkakan disertai kelumpuhan.
  • Kadang-kadang juga torticolis ditemukan dan hal tersebut menandakan adanya infeksi local pada telinga dan basal otak.
  • Serangan kolera kronis menyebabkan penurunan produksi telur.

Pencegahan

Vaksinasi, sanitasi yang baik, tatalaksana yang sempurna.

Pengobatan

  • Berikan obat-obatan/antibiotic pencernaan.
  • Setelah pemberian obat selesai, berikan vitamin anti stress atau vitamin asam amino, probiotik 4-5 hari berturut-turut untuk membantu proses penyembuhan.
 

Page 27 of 27