Welcome to Sarana Satwa

PENGARUH UDARA TROPIS TERHADAP PETERNAKAN AYAM

  • PDF
  • Print
  • E-mail
Udara bersih dan partikulat

Udara bersih adalah udara yang mengandung beberapa macam gas dengan komposisi yang normal, dan hanya sedikit sekali partikulat.

Menurut Sastrawijaya, 2000. Udara bersih mengandung :
nitrogen (N2 78 %), oksigen, argon (O2, Ar 0.94%) karbondioksida (CO2 0.03%), helion (He 0.01%), neon (Ne 0,01%), kripton (Kr 0.01%) serta metana, karbonmonoksida (CO), amoniak (NH2), nitrat oksida (N2O) dan hidrogen sulfide (H2S) dalam jumlah yang sangat sedikit sekali.

Sedangkan artikulat adalah partikel halus yang mencemari udara dan dapat berupa zat padat atau zat cair yang sangat halus seperti debu (0.1 -25 mikron), Fumes (zat padat hasil kondensasi gas) berukuran kurang dari 0.1 mikron smoke (kurang dari mikron), smog merupakan fog (kabut) campur asap disamping itu ada pula partikulat hidup seperti mikroba dan beberapa sapropyt sperti jamur, spora, bakteri tanah dan virus. Udara bukanlah tempat hidup alamiah mikroba, oleh karena itu penularan penyakit melalui udara bebas sulit terjadi disamping karena adanya efek pengeringan, ozon dan radiasi ultra violet, kecuali penyakit yang disebabkan oleh mikroba berspora dan virus.

Kenyamanan thermal
Dari 170 triliun kilo watt energi matahari yang jatuh ke bumi, 3% diserap ozon, 8% dipantulkan kembali oleh permukaan bumi dan 45% diserap oleh tanah, isanya (44%) dipantulkan oleh awan , diserap gas dan debu. Sehingga partikulat disamping sebagai polutan juga membawa panas matahari (Sukandarrumidi,2006). Zat cair dan air dalam bentuk kabut atau uap air mempengaruhi tingkat kelembaban, yaitu perbandingan kandungan uap air pada suatu saat dengan kandungan uap air pada titik jenuh dalam suhu saat itu. Air dalam bentuk kabut akan lebih mudah menangkap panas dari udara lingkungan sekitarnya, tetapi jika lingkungan lembab seperti umumnya daerah tropis lembab), udara tidak lagi haus akan uap air, sehingga penguapan tidak berlangsung dengan cepat. Kenyamanan Thermal adalah daerah dalam komposisi udara yang yaman, yang secara kasar di wilayah tropis lembab diwakili oleh batas –batas 24°C< T < 26°C ; 40%< RH <60% dan Kecepatan angin 0.6m/s < V < 1.5 m/s.

Udara Tropis Lembab vs Peternakan Ayam

Masalah Utama untuk membangun sebuah peternakan ayam di daerah tropis adalah kelembaban yang tinggi. Udara akan terasa lebih panas, karena ayam mengeluarkan panas dari aktivitas metabolisme yang harus dibuang melalui udara. Namun karena udara jenuh dengan uap air maka dengan cepat udara akan terasa lebih panas dan ayam terlihat panting, paruh ayam akan terbuka lebar sebagai usaha untuk mengeluarkan panas lebih cepat, karena ayam tidak mempunyai kelenjar keringat. Ayam yang panting pasti tidak makan oleh karenanya feed intake tentu saja tidak tercapai, sehingga akan terjadi gangguan produktivitas.

Ventilasi

Untuk mengatasi panas dan partikulat polutan di dalam maupun diluar bangunan kandang dibutuhkan Ventilasi yang cukup. Ventilasi adalah proses penggantian udara ruangan oleh udara segar dari luar baik secara alami maupun dengan bantuan alat mekanis (kipas angin)

Udara di dalam kandang

Ada 3 macam udara di alam kandang, Udara Atas yang ringan, Udara Tengah yang mengenai tubuh ayam dan Udara Bawah yang berat, lembab dan kotor. Udara bawah ini sebagai tempat yang menyenangkan untuk serangga dan mikroba, sehingga ventilasi disamping untuk mengeluarkan panas , kelembaban dan partikulat di dalam kandang, juga terutama diarahkan untuk mengeluarkan udara bawah kandang ini dan mengganti dengan udara dari luar yang masih segar.

Menurut FG. Winarno (Kompas, 26 Agustus 2007), Peralatan dapur seperti cobek, talenan dapat menjadi tempat bakteri berkembang biak. Dalam setiap 1 cm persegi peralatan itu terdapat 750,000 bakteri, dalam kondisi dibiarkan kotor selama 2 jam terdapat 5 juta bakteri per cm persegi atau bertambah sebanyak 4,250,000 bakteri. Luar biasa dibandingkan dengan udara bawah kandang, tempat kotoran ayam menumpuk dan mikroba yang normal ada di atas tanah atau yang dilepaskan oleh tubuh ayam melalui faecesnya.
Dari udara bawah inilah sebenarnya sumber pencemaran udara di dalam kandang, selain mikroba partikulat debu, gas ammoniak, gas methan adalah sumber ketidak nyamanan bagi ayam yang hidup di atasnya.

Penularan penyakit melalui udara bebas sulit terjadi, oleh karenanya bentuk vegetatif akan lekas musnah terutama di udara bebas, namun jumlahnya tergantung aktivitas dan keadaan lingkungan yang ada. Udara di atas tanah yang subur mengandung lebih banyak mikroba dari pada udara di atas tanah yang tandus/gundul, udara di atas tanah yang gundul akan lebih banyak mikroba daripada udara di atas tanah yang ditumbuhi tanaman dan yang paling sedikit adalah udara di atas laut. Maka pemilihan lokasi kandang menjadi sangat penting.

Kandang dilokasi yang banyak memiliki aliran angin umumnya mempunyai performance yang baik dari pada kandang yang sedikit atau bahkan mati angin. Kandang dengan sistem panggung akan lebih baik performancenya dibandingkan sistem postal. Pada kandang ayam petelur dengan sistem baterei, alas kandang yang dibentuk seperti bak dengan pinggiran sekitar 15 atau 20 cm di atas tanah dan berfungsi sebagai penampung faeces akan menghalangi pertukaran udara bawah. Akan lebih baik jika ke dalam bak itu ditambahkan tanah dan zat- zat absorben seperti kapur, sekam atau lainnya yang dibentuk seperti bukit sehingga permukaannya lebih tinggi dari permukaan tanah, sehingga masih tetap ada pergantian udara bawah,

Dengan memasang kipas angin dibawah kolong baterai dalam jumlah yang cukup, ternyata menghasilkan performance yang baik. Manajemen udara bawah dan manajemen untuk mengelola feces di sebuah peternakan ayam petelur menjadi sangat penting , mengingat posisinya sebagai sumber pencemaran, maka di lokasi yang kurang mendapat angin atau angin tidak ada, sistem kandang closed house adalah pilihan yang tepat. Meskipun kandang dengan aliran angin yang cukup mampu memberikan performance yang baik, namun tidak sepenuhnya kenyamanan thermal dapat di kontrol seperti halnya pada closed house.

Kandang closed house

Meskipun memerlukan teknolgi yang lebih tinggi dan SDM yang lebih terdidik, closed house lebih menjamin ayam tetap berada dalam kenyamanan thermal yang diinginkan, kecuali, faktor kelembaban yang masih sulit untuk dikontrol. Namun dengan pergantian udara yang terus menerus kekurangan ini dapat dikompensasi, yang penting kenyamanan fisiologis (yang di rasakan oleh ayam) sudah terjadi. Pergantian udara bawahpun terjadi dengan baik, sehingga benar sekali kalau Dr. A. Nidom mengatakan, bahwa closed house sebagai bagian dari biosekuriti.” (Poultry Indonesia Vol. II Agustus, 2007). Keuntungan lainnya closed house mengurangi dampak sosial yang ditimbulkan oleh bau (amoniak & methane) dan lalat.

Ayam membutuhkan kenyamanan, kesejukan dan kesegaran disaat bekerja untuk lebih banyak menghasilkan telur atau mengkonversi makanan menjadi daging, maka perlu mengarahkan manajemen peternakan dengan mengutamakan kenyamanan hidup ayam.
disarikan dari sumber :
(Subacho, Tech.Service & Development CPI-JKT)
BULETIN CP. SEPTEMBER 2007
 

PENGARUH KUALITAS UDARA TERHADAP PERFORMANCE AYAM

  • PDF
  • Print
  • E-mail

Udara adalah suatu zat yang tidak berwarna dan tidak berbentuk namun keberadaan dan ketersediaanya menjadi hal yang sangat vital bagi kehidupan. Saat ayam tidak memperoleh makan dan minum selama jangka waktu tertentu, ayam masih mampu bertahan hidup. Namun apa yang terjadi bila ayam tidak memperoleh dalam hitungan detik..??

Kualitas udara yang baik ditunjukkan dari tingginya kadar oksigen (02) dan rendahnya kadar karbon dioksida (CO2) dan zat lainnya, seperti ammonia (NH3) dan hidrogen sulfida (H2S)

Amonia (NH3)

Amonia merupakan gas alkali dan tidak berwarna. Gas amonia ini dihasilkan dari proses pengomposan (decomposition) bahan organik atau dari subtansi nitrogen (seperti sisa protein atau asam urat yang terdapat dalam feses) oleh bakteri ureolitik

Amonia terdapat dalam 2 bentuk, yaitu bentuk terikat atau terlarut dalam cairan feses (NH4OH) dan bentuk gas (NH3).

Gas amonia mempunyai daya iritasi yang tinggi, terutama pada mukosa membran pada mata dan saluran pernapasan ayam. Terlebih lagi jarak antar saluran pernapasan ayam dengan feses, sebagai sumber amonia begitu dekat (< 20 cm). Tingkat kerusakan akibat amonia sangat dipengaruhi oleh konsentrasi gas ini. Konsentrasi amonia yang aman dan belum menimbulkan gangguan pada ayam ialah dibawah 20 ppm (part per million atau 1 : 1 juta). Diluar ambang batas aman ini, akan menimbulkan kerugian pada ayam, baik berupa kerusakan membran mata dan pernapasan sampai hambatan pertumbuhan dan penurunan produksi telur. kerusakan membran saluran pernapasan akan berakibat ayam rentan terhadap infeksi penyakit  karena membran saluran pernapasan merupakan gerbang pertahanan terhadap infeksi bibit penyakit.

Hidrogen sulfida (H2S)

Hidrogen sulfida merupakan gas beracun yang dihasilkan dari penguraian materi organik, seperti feses oleh bakteri anaerob. Gas ini bisa merusak sistem pernapasan ayam dan menghambat sistem enzim. Ayam yang menghirup hidrogen sulfida dengan konsentrasi 2.000-3.000 ppm selama 30 menit akan mengakibatkan frekuensi dan volume pernapasan menjadi terganggu dan tidak teratur. Ayam akan mati saat menghirup H2S dengan kadar 4.000 ppm selama 15 menit.

Penyebab Pencemaran Udara

  • Sistem sirkulasi udara yang kurang bagus
  • Kasus wet droping (feses basah)
  • Managemen litter yang kurang baik
  • Kepadatan kandang yang melebihi kapasitas

Pencegahan dan penanganan

-  Pengaturan sirkulasi udara

Perhatikan manajemen buka tutup tirai, penggunaan lantai slat (panggung), mengatur jarak kandang dan juga penambahan blower atau fan (kipas). Yang perlu diperhatikan ialah angin jangan mengenai tubuh ayam langsung dan kecepatannya sebaiknya tidak lebih dari 2,5 – 3 m/detik untuk ayam dewasa atau < 0,3 – 0,6 m/detik.

-        Atasi kasus wet droping

Perhatikan kualitas ransum  Dalam hal ini utamanya kadar garam dan protein kasar. Sesuaikan kadar protein kasar dan garam sesuai dengan kebutuhan ayam. Pastikan asupan ransumnya juga sesuai dengan standar kualitas ransum. Bisa saja kualitas ransum ayam sudah sesuai namun karena feed intake yang berlebihan menyebabkan kadar protein dan garam terlalu berlebih.

Lakukan pengobatan jika kasus wett droping disebabkan oleh infeksi penyakit saluran pencernaan misalnya E,koli.

Lakukan treatment dengan memberikan SnS PRO probiotik solution karena merupakan sediaan supplement probiotik yang mana mikroba di dalamnya berfungsi sebagai enzim proteolitik (pengurai protein), lipolitik, selulolitik dan mikroba asam lambung maupun lignolitik (pengurai serat kasar), yang mampu Meningkatkan kecernaan zat gizi dari pakan yang dikonsumsi sehingga Kualitas ransum menjadi lebih baik, Kadar air feses lebih rendah (feses lebih kering) dan menurunkan kadar H2S.

-  Managemen litter yang baik

Manajemen litter ini dimulai dari pemilihan bahan litter yang baik (kering, tidak berdebu, mampu menyerap air secara optimal) dalam jumlah yang cukup (tidak terlalu tipis).

Atur ketebalan litter. ketebalan litter pada saat chicks in ialah 8- 12 cm dengan tujuan agar DOC lebih hangat, feses lebih kering dan litter tidak mudah menggumpal.

Pada 3 hari setelah chicks in lakukan pembolakbalikan litter (lakukan secara teratur setiap 3-4 hari sekali).

Jika litter basah dan menggumpal dalam jumlah sedikit, terutama di sekitar tempat makan, tempat minum dan di depan pintu segera ambil dan ganti dengan yang baru. Namun jika jumlah litter yang menggumpal banyak, ditambahkan litter baru.

-  Pengaturan Kepadatan Kandang yang ideal

Kepadatan kandang ideal per 1 m2 untuk ayam pedaging dewasa ialah 6-8 ekor dan ayam petelur 8-10 ekor. Pada masa brooding lakukan pelebaran sekat kandang secara teratur sesuai pertumbuhan ayam sampai seluruh kandang ditempati.

 

dari berbagai sumber

 

MALABSORBSI (Pada Ayam Petelur dan Pedaging)

  • PDF
  • Print
  • E-mail
Malabsorpsi berpengaruh terhadap turunnya efisiensi pertumbuhan karena terjadi defisiensi nutrisi akibat kegagalan penyerapan. Efek lain adalah penurunan berat badan dan peningkatan kematian
Malabsorpsi adalah kondisi abnormal di dalam saluran pencernaan yang ditandai dengan ketidakmampuan usus untuk menunaikan tugasnya dimana kasus ini jika terjadi pada ayam broiler akan sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan.
Pada kejadian di lapangan maka malabsorpsi akan berpengaruh terhadap turunnya efisiensi pertumbuhan karena terjadi suatu defisiensi nutrisi akibat kegagalan penyerapan. Efek lain adalah terjadi penurunan berat badan dan dapat berakibat terjadinya peningkatan kematian.
Secara umum ada 3 macam kategori penyebab terjadinya malabsorbsi yaitu
- Malabsorbsi karena infeksi (infectious agent)
- Malabsorbsi non infeksi (non infrctious agent),
- Malabsorbsi fisiologis (physiology malabsorpsi).
Malabsorpsi karena infeksi (infectious agent)
Penyebab malabsorbsi karena infeksi antara lain :
- Penyebab Virus
Contoh virus yang dapat menyebabkan malabsorpsi antara lain reovirus yang menyebabkan terjadinya enteristis sehingga nutrisi gagal diserap oleh ayam. Jenis virus yang lain adalah rota virus dan calci virus. Gejala yang nampak antara lain sindroma gangguan pertumbuhan seperti runting dan stunting, ayam kelihatan pucat, bulu abnormal dan terjadi diare.
- Penyebab bakteri
Misalnya adalah spesies clostridium, yang dapat menyebabkan terjadinya ulcerasi dan necrotic enteritis.
- Penyebab protozoa
Adalah Emeria maxima yang menyebabkan koksidiosis pada ayam, Crypto sporidium.
Malabsorbsi Non-infeksi (non infectious malabsorbtion)
Biasanya berupa toxin (racun) yang masuk ke dalam saluran pencernaan. Toxin bisa berasal dan pakan, minum. Racun yang berasal dan pakan misalnya jenis tanin dan inhibitor tripsin. Zat ini terdapat pada sorgum, dan soybean meal(bungkil kedele).
Zat ini menyebabkan enteritis dan selanjutnya terjadi malabsorpsi. Air minum dengan kandungan nitrit yang tinggi juga dapat menyebabkan malabsorsi. Jenis penyebab noninfeksi lainnya mycotoxin yaitu toxin yang dihasilkan dan jamur misalnya Fusarium menghasilkan mycotoxin T2, Aspergillus sp menghasilkan ajiatoxin dan fusarium menghasilkan DAS. Mycotoxin lainnya adalah Ochratoxin menyebabkan penebalan dinding usus yang menurunkan kesempatan menyerap nutrisi.
Malabsobrsi Fisiologi.
Malabsobrsi Fisiologi merupakan kejadian yang disebabkan berkurangnya kemampuan pencernaan ayam akibat adanya gangguan fisiologi secara normal. Salah satu penyebab kejadian ini adalah musim yang terlalu panas, konsumsi garam yang berlebihan.
Cara Mengatasi
Jadi pada dasarnya kejadian malabsorbsi merupakan sesuatu yang komplek dan ada beberapa hal yang berpotensi Manajemen pemberian pakan, biosecurity, kualitas air minum, kebersihan kandang, dan kualitas pakan itulah potensi yang harus menjadi fokus utama.
Mengatasi kasus ini haruslah dipilah pilah sesuai dengan etiologi kasus.
Cara yang paling mujarab adalah mencari penyebab primer dari kasus ini baru kemudian diteruskan dengan terapinya:
1. Etiologi primer karena infeksi.
Bila etiologi primer karena infeksi maka harus dipastikan dahulu apakah karena virus bakteri atau protozoa.
Jika karena virus maka tidak ada treatment obat atau semacamnya karena obat tidak akan menghasilkan suatu kesembuhan. Yang perlu dilakukan hanyalah menjaga kondisi ayam tetap fit dan bila telah terinfeksi perlu recovery ke kondisi semula dengan pemberian elektrolit atau glukosa.
Bila bakteri merupakan etiologi primernya tentunya menjadi suatu keharusan bila diterapm dengan antibiotik yang cocok yang terlebih dahulu perlu dipastikan jenis bakterinya.
Jika protozoa menjadi penyebab utamanya maka obat anti protozoalah yang perlu diberikan ke ayam yang mengalami kasus.
Apabila kasus infestasi cacing penyebabnya maka wajib diterapi dengan anthelmetika yang sesuai.
Selain dengan pemberian obat obat diatas perlu diberikan vitamin A dan vitamin C untuk merangsang pertumbuhan epitel usus dan mempercepat proses kesembuhan.
2. Etiologi primer karena non infeksi.
Apabila ayam mengalami malabsorpsi karena faktor ini wajib kiranya dicari latar belakang zat apa yang menjadi promotornya dengan mencari sejarah atau riwayat pemberian pakan atau riwayat pemberian air minum. Bila ayam terkena kasus karena faktor ini sulit sekali untuk proses recoverynya.
Bila ditemukan bahwa jamur penyebab pada kasus ini perlu diberi terapi dengan asam propionat,asam asetat, griseofulvin atau obat yang berfungsi sebagi fungisidal.
3. Etiologi karena fisiologis.
Kejadian malabsorpsi sering pula terjadi. Penanganan yang dilakukan yaitu dengan pemberian cairan penurun pH usus. PH usus akan kembali ke posisi normal, sehingga proses pencernaan akan kembali ke normal.
Pencegahan
Untuk menghindari terjadinya kasus malabsorpsi pada broiler perlu memperhatikan saran-saran pencegahan berikut ini:
  • Pada saat kedatangan DOC setelah DOC minum (usahakan minum pertama kali DOC adalah laktosa) sesegera mungkin diberikan pakan.
  • Beri pakan yang benar-benar tidak ada kontaminasi dan belum kadaluarsa. Karena kedaluarsanya pakan akan menyebabkan kerusakan komponen minyak ikan dalam pakan yang akan merangsang masuknya Clostridium sp.
  • Kontrol air minum secara rutin dengan mengirim sampel air minum ke laboratorium untuk mengetahui kandungan mineral dan koliform dalam air minum.
  • Pemberian anthelmetika secara rutin (sesuai siklus hidup cacing).
  • Peningkatan segala aspek yang menyangkut biosecurity.
  • Vaksinasi ayam dengan vaksin Reo.
  • Hindarilah tanaman Graminaeae (tanaman padi-padian) seperti jagung padi, rumput gajah,alang-alang di sekitar areal kandang, karena spora dari tanaman tersebut akan membawa toksin.
Pemberian SnS PRO Probiotic solution dapat dilakukan untuk mengatasi permasalahan Malabsorbsi ini, karena secara tekhnis pemberian probiotik dapat :
  1. Menstimulasi nafsu makan,
  2. Meningkatkan populasi mikroba menguntungkan,
  3. Meningkatkan kecernaan serat,
  4. Menstabilkan PH saluran pencernaan,
  5. Meningkatkan produksi dan regulasi enzim pencernaan,
  6. Memproduksi vitamin B untuk meningkatkan kecernaan
  7. Menekan pertumbuhan bakteri patogen,
  8. Menekan produksi ammonia
  9. Menonaktifkan toksin,
  10. Sumber mineral,
  11. Menghasilkan faktor pertumbuhan untuk bakteri pendegradasi serat. (FULLER, 1992; KUNG et al., 1997).
Dari beberapa pengalaman peternak Layer dilapangan Penggunaan SnS PRO Probiotic solution untuk ternak ayam dengan memberikannya lewat air minum, menampakkan hasil cukup bagus dengan aplikasi 1 minggu treatment 1 minggu libur begitu seterusnya, dengan lama pemberian antara 3-5 hari.
Pada ayam Layer ateu petelur penggunaan SnS PRO Probiotic solution yang dikombinasi BENNEFIT plus melalui air minum dengan menggunakan metode pemberian secara kontinyu seminggu sekali selama 2 hari berturut-turut menunjukkan hasil ; Ayam lebih terjaga dari problem tidak tercapainya feed intake selama masa pertumbuhan dan produksi, Ayam lebih terjaga dari kondisi lost body weight, Peningkatan kualitas dan kuantitas produksi telur, kotoran yang kering, Ayam lebih terjaga dan tahan terhadap penyakit jika terdapat kasus masa recovery-nya akan lebih cepat daripada yang tidak mendapat perlakuan treatment probiotik.
Pada ayam broiler penggunaan SnS PRO Probiotic solution yang dikombinasi BENNEFIT plus melalui air minum dengan menggunakan metode pemberian secara kontinyu seminggu sekali selama 3 hari berturut-turut menunjukkan ; hasil Ayam lebih tahan terhadap penyakit infeksius, pertambahan berat badan yang cepat dan signifikan, Feed Conversi Ratio (FCR) yang rendah (dibawah 1,5), Umur panen lebih awal, kotoran yang kering sehingga mampu meredam efek negative karena kelembaban yang tinggi dan Amonia.
Kasus malabsorpsi sering muncul dan jarang sekali menjadi perhatian para peternak broiler dan layer dan sering menjadi promotor adanya infeksi yang lain, sementara para peternak baru tersadarkan jika sudah berefek melanjut maka tentunya untuk menunjang performance ayam perlulah kiranya apa yang menjadi catatan diatas lebih diperhatikan.
dari berbagai sumber
 

PROBIOTIK SEBAGAI PENGGANTI ANTIBIOTIK PADA AYAM PEDAGING

  • PDF
  • Print
  • E-mail

Meningkatnya kebutuhan masyarakat akan produk peternakan menyebabkan penggunaan obat-obatan untuk pencegahan dan perawatan/perlakuan terhadap penyakit ternak menjadi semakin penting agar daging, telur, dan susu dapat diproduksi secara efisien. Namun, penggunaan antibiotik atau bahan kimia dalam proses produksinya mengakibatkan terjadinya residu antibiotic didalam produk-produk peternakan, yang memberikan dampak negative terhadap kesehatan.

Pemanfaatan antibiotik pada level sub-terapi atau karena kurang memperhatikan aturan penggunaannya telah terbukti mengakibatkan adanya residu antibiotik dalam produk peternakan dan berkembangnya mikroba yang resisten dalam tubuh ternak maupun tubuh manusia yang mengkonsumsinya (Jin et al., 1997; Lee et al., 2001).

Untuk mempertahankan efisiensi produksi ayam pedaging disatu sisi dan menyediakan produk peternakan yang aman untuk dikonsumsi, perlu diusahakan alternatif penggunaan antibiotik atau obat-obatan dalam industri peternakan.

Produk Probiotik merupakan salah satu produk non kimia yang banyak menjadi acuan dan referensi banyak peneliti, pemerhati dan praktisi peternakan. Saat ini telah banyak beredar produk probiotik, salah satu diantaranya yang telah banyak beredar di beberapa kawasan sentral peternakan di Indonesia antara lain Blitar, Kediri, Tulungagung, Malang, Lumajang, Jember, Banyuwangi, beberapa daerah di Jawa Tengah, Kalimantan dan lain-lain adalah SnS PRO probiotik solution.

Beberapa penelitian pada broiler menunjukkan bahwa penambahan probiotik dapat meningkatkan pertambahan bobot badan, menurunkan konversi pakan dan mortalitas.

Kim et al. (1988), menunjukkan bahwa penambahan probiotik yang terdiri atas Lactobacillus sporegenes pada ayam broiler yang mengandung jagung yang agak berjamur masih meningkatkan pertambahan bobot badan.

Penelitian yang dilakukan oleh Wiryawan (unpublished) menunjukkan bahwa suplementasi probiotik Yeast Sac (Saccharomyces cerevisiae) pada broiler yang bahan pakan utamanya gandum menyebabkan peningkatan bobot badan sebanyak 38.7% pada umur 21 hari dan 18% pada umur 42 hari jika dibandingkan dengan kontrol.

Variasi yang ditimbulkan akibat pemberian probiotik pada broiler kemungkinan berhubungan dengan perbedaan strain bakteri atau mikroba yang diberikan dan konsentrasi mikrobanya.

Ada beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan dengan penggunaan antibiotik dibandingkan probiotik tidak berpengaruh nyata terhadap konsumsi pakan. Tidak adanya pengaruh yang berbeda nyata ini mungkin disebabkan karena ayam diberi pakan yang sama dengan kandungan protein dan energi yang sesuai dengan kebutuhan.

Anggorodi (1985) menyatakan bahwa jumlah konsumsi ransum sangat ditentukan oleh kandungan energi dalam ransum. Apabila kandungan energi dalam ransum tinggi maka konsumsi pakan akan turun dan sebaliknya apabila kandungan energi ransum rendah, maka konsumsi pakan akan naik guna memenuhi kebutuhan akan energi. Namun dibeberapa penelitian yang lain menunjukkan bahwa pemberian probiotik menyebabkan peningkatan konsumsi pakan sebanyak 2,6% lebih tinggi dan diduga perbedaan ini akan menjadi signifikan jika jumlah ayam (sampel) yang digunakan ditingkatkan dan ransum yang digunakan bukan ransum komersial,

Meskipun tidak berbeda nyata tetapi ayam yang diberi probiotik pertambahan bobot badannya 4.6% lebih tinggi dari pada ayam yang tidak diberi probiotik. Perbedaan pertambahan bobot badan ini erat kaitannya dengan lebih tingginya konsumsi pakan dan kemungkinan karena peningkatan daya cerna zat gizi akibat pemberian probiotik. Mikroba lipolitik, selulolitik, lignolitik, dan mikroba asam lambung yang terkandung dalam probiotik diduga telah berperan aktif dalam meningkatkan kecernaan zat gizi.

Nahashon et al. (1994) menunjukkan bahwa suplementasi kultur Lactobacillus pada pakan yang terdiri atas jagung, bungkil kedelai dan gandum meningkatkan konsumsi pakan, retensi lemak, protein, kalsium, cuprum, dan mangan pada ayam petelur.

 

dari berbagai sumber

 

Page 4 of 27