Welcome to Sarana Satwa

MANAGEMEN BROILER [Memaksimalkan Potensi Broiler]

  • PDF
  • Print
  • E-mail

KEBERHASILAN pencapaian bobot badan pada minggu pertama dan kedua pemeliharaan ayam broiler sangat menentukan keberhasilan pada tahap pemeliharaan selanjutnya. Beberapa alasan mengapa tahap awal ini menjadi sangat penting antara lain karena perkembangan pesat organ tubuh anak ayam yang meliputi organ kekebalan, organ pencernaan, kerangka tubuh, sistem thermoregulasi (pengaturan suhu tubuh), sistem hormonal maupun pertumbuhan daging (otot). Perkembangan pesat mi terlihat dan pertumbuhan berat badan ayam pada umur 7 minggu yang mencapai setidaknya 4 - 4,5 x dari berat badan DOC. Sebuah angka yang fantastis yang merupakan pertumbuhan tercepat selama masa hidup ayam.

Manajemen pemeliharaan pada periode ini sangat membutuhkan ketelitian dan ketelatenan peternak. Jika periode ini terlewati dengan baik, perawatan selanjutnya akan lebih mudah yaitu tinggal melanjutkan manajemen sebelumnya yang meliputi pemberian ransum dan air minum, sanitasi dan pemeliharaan kesehatan. Namun jika pada periode ini pertumbuhan ayam terhambat maka masa berikutnya produktivitas ayam menjadi kurang optimal.

Memaksimalkan performa saat starter

Faktor-faktor yang perlu diperhatikan agar perforna ayam saat masa starter optimal di antaranya Memenuhi kebutuhan nutrisi. Nutrisi pada ayam dapat terpenuhi dan ransum dan air minum, oleh karena itu berikanlah ransum dan air minum yang berkualitas dan dalam jumlah yang cukup, yaitu :

  • Pemberian pakan dan minum diatur jumlah dan frekuensinya sesuai dengan umur ayam.
  • Saat DOC baru datang/masuk, sediakan air gula 2-5% (20-50 g dalam 1 liter air minum).
  • Setelah itu dilanjutkan dengan pemberian Vitamin. Vitamin dengan kandungan multivitamin dan Asam Amino akan membantu mempercepat pertumbuhan, mencegah kekurangan vitamin, mengatasi stres dan mengurangi angka kematian pada anak ayam.
  • Pemberian ransum dilakukan sesegera mungkin untuk menstimulasi perkembangan villia-villia usus yang sangat berperan pada proses pencernaan dan penyerapan nutrisi,
  • Lakukan pengaturan jumlah, distribusi dan ketinggian tempat ransum maupun air minum sesuai dengan populasi dan umur ayam
  • Pengisian ransum ke dalam tempat ransum dilakukan sedikit demi sedikit, jangan terlalu penuh untuk menghindari ransum terbuang dan mencegah ransum apek.
  • Hindari pula ransum dan air minum yang tercecer pada litter karena dapat menyebabkan litter lembab.
  • Menciptakan kondisi yang nyaman

Ayam pada fase starter sangat rentan terhadap perubahan suhu dan kelembaban lingkungan. Suhu yang terlalu tinggi rnengakibatkan turunnya konsumsi ransum dan naiknya konsumsi air minum, bahkan kematian mendadak (heat stress). Keadaan ini akan merugikan dan pertumbuhan anak ayam akan terhambat. Oleh karena itu :

1) Atur penggunaan pemanas.

Pastikan kondisi suhu dan kelembaban nyaman untuk ayam, yang ditunjukkan dan distribusi ayam merata dan ayam aktif makan dan minum. Suhu luar pada siang hari yang terlalu tinggi mengakibatkan nafsu makan berkurang. Untuk menjaga agar pertumbuhan ayam tetap baik, maka pada malam hari, di mana kondisi suhu lebih dingin, tambahkan pencahayaan sehingga anak ayam tetap melakukan aktivitas makan sebagai pengganti kurangnya makan pada siang hari. Kontrol suhu sebaiknya tidak hanya dilakukan pada siang hari, tapi juga lakukan kontrol pada malam hari. Saat musim hujan, pada malam hari sering terjadi cekaman dingin yang menimpa ayam muda (fase starter) sehingga kontrol brooder (pemanas pada malam hari sangat diperlukan. Jika perlu berikan pemanas tambahan Manajemen tirai kandang harus diatur sesuai dengan kondisi cuaca.Tenaga atau operator kandang harus siaga mengatur tirai kandang, mengingat kondisi cuaca mudah berubah

2) Atur kepadatan kandang

Lakukan pelebaran kandang dengan cepat dan hindari kondisi kandang yang terlalu padat. Kepadatan kandang yang terlalu tinggi mengakibatkan terjadinya persaingan dalam perolehan pakan yang akan berpengaruh pada pertumbuhan dan keseragaman ayam, litter cepat basah yang mengakibatkan kelembaban dan kadar amonia dalam kandang meningkat yang secara umum akan berpengaruh terhadap status kesehatan ayam.

3) Mengoptimalkan kondisi kesehatan

Kesehatan menjadi sesuatu yang sangat erat berhubungan dengan produktivitas ayam. Saat sakit, produktivitas ayam akan menurun, begitupun sebaliknya. Beberapa tindakan penting untuk mencegah penyakit yaitu ; lakukan vaksinasi secara baik dan benar, mulai dari : Program (jadwal) vaksinasi, Kualitas vaksin dan teknik vaksinasi yang meliputi penyimpanan vaksin, handling vaksin dan cara pemberiannya.

4) Kebersihan kandang

Lakukan desinfeksi kandang, tempat ransum dan air minum. Rendam tempat minum dan tempat ransum dalam larutan desinfectant selama 30 menit setiap 3-4 hari sekali Pastikan sekitar kandang tidak ditumbuhi rumput liar atau semak belukar dan aliran air diselokan harus lancar

5) Penambahan SnS PRO Probiotic Solution dalam air minum

Penambahan SnS PRO Probiotic Solution dalam air minum sebagai upaya membantu menghambat organisme patogen dengan berkompetisi dalam saluran pencernaan untuk menurunkan konsentrasi mikroorganisme patogen seperti E. coli, Menstimulasi mukosa dan meningkatkan sistem kekebalan. Selain itu yang tak kalah penting pemberian SnS PRO Probiotic Solution dapat membantu memaksimalkan penggunaan pakan karena sifat probiotik yang berperan sebagai enzyme proteolitik, selulutik, lignolitik dan lipolitik sehingga pakan menjadi lebih siap digunakan untuk tumbuh kembang dan produktifitas ternak. Multivitamin, mineral dan asam amino yang terkandung dalam SnS PRO Probiotic Solution sangat berguna untuk mempercepat pertumbuhan, mencegah kekurangan vitamin, mengatasi stres dan mengurangi angka kematian pada anak ayam. Saat umur 1 - 2 minggu pertama, organ vital dalam tubuh ayam perkembangannya sangat pesat. Dan hal tersebut menjadi penentu pada pertumbuhan ayam periode berikutnya. Berikan perhatian lebih saat ayam berumur 1 - 2 minggu.

 

dari berbagai sumber

 

MIKOTOKSIN

  • PDF
  • Print
  • E-mail

Mikotoksin adalah zat metabolit sekunder dari cendawan berfilamen dan dapat menyebabkan penyakit bahkan kematian pada manusia, hewan, tumbuhan, maupun mikroorganisme lainnya

Jenis-jenis mikotoksin

Terdapat enam jenis mikotoksin utama yang merugikan, yaitu aflatoksin, citrinin, ergot alkaloid, fumonisin, ochratoxin, patulin, trichothecene, dan zearalenone.

Aflatoksin

Sebagian besar aflatoksin dihasilkan oleh Aspergillus flavus Link dan juga A. parasiticus Speare. Kedua cendawan tersebut hidup optimal pada suhu 36-38 °C dan menghasilkan toksin secara maksimum pada suhu 25-27 °C.Pertumbuhan cendawan penghasil aflatoksin biasanya dipicu oleh humiditas/kelembaban sebesar 85% . Untuk menghindari kontaminasi aflatoksin, biji-bijian harus disimpan dalam kondisi kering, bebas dari kerusakan, dan bebas hama.

Citrinin

Citrinin pertama kali diisolasi dari Penicillium citrinum Thom pada tahun 1931. Mikotoksin ini ditemukan sebagai kontaminan alami pada jagung, beras, gandum, barley, dan gandum hitam (rye).

Ergot Alkaloid

Ergot alkaloid diproduksi oleh berbagai jenis cendawan, namun yang utama adalah golongan Clavicipitaceae. Dulunya kontaminasi senyawa ini pada makanan dapat menyebabkan epidemik keracunan ergot (ergotisme) yang dapat ditemui dalam dua bentuk, yaitu bentuk gangren (gangrenous) dan kejang (convulsive). Pembersihan serealia secara mekanis tidak sepenuhnya memberikan proteksi terhadap kontaminasi senyawa ini karena beberapa jenis gandum masih terserang ergot dikarenakan varietas benih yang digunakan tidak resiten terhadap Claviceps purpurea, penghasil ergot alkaloid. Pada hewan ternak, ergot alkoloid dapat menyebabkan tall fescue toxicosis yang ditandai dengan penurunan produksi susu, kehilangan bobot tubuh, dan fertilitas menurun.

Fumonisin

Fumonisin ditemukan pada tahun 1988 pada Fusarium verticilloides dan F. proliferatum yang sering mengontaminasi jagung. Namun, selain kedua spesies tersebut masih banyak cendawan yang dapat menghasilkan fumonisin. Toksin jenis ini stabil dan tahan pada berbagai proses pengolahan jagung sehingga dapat menyebabkan penyebaran toksin pada dedak, kecambah, dan tepung jagung. Konsentrasi fumonisin dapat menurun dalam proses pembuatan pati jagung dengan penggilingan basah karena senyawa ini bersifat larut air.

Ochratoxin

Ochratoxin dihasilkan oleh cendawan dari genus Aspergillus, Fusarium, and Penicillium dan banyak terdapat di berbagai macam makanan, mulai dari serealia, babi, ayam, kopi, bir, wine, jus anggur, dan susu. Secara umum, terdapat tiga macam ochratoxin yang disebut ochratoxin A, B, dan C, namun yang paling banyak dipelajari adalah ochratoxin A karena bersifat paling toksik di antara yang lainnya. Pada suatu penelitian menggunakan tikus dan mencit, diketahui bahwa ochratoxin A dapat ditransfer ke individu yang baru lahir melalui plasenta dan air susu induknya. Pada anak-anak (terutama di Eropa), kandungan ochratoxin A di dalam tubuhnya relatif lebih besar karena konsumsi susu dalam jumlah yang besar. Infeksi ochratoxin A juga dapat menyebar melalui udara yang dapat masuk ke saluran pernapasan.

Patulin

Patulin dihasilkan oleh Penicillium, Aspergillus, Byssochlamys, dan spesies yang paling utama dalam memproduksi senyawa ini adalah Penicillium expansum. Toksin ini menyebabkan kontaminasi pada buah, sayuran, sereal, dan terutama adalah apel dan produk-produk olahan apel sehingga untuk diperlukan perlakuan tertentu untuk menyingkirkan patulin dari jaringan-jaringan tumbuhan. Contohnya adalah pencucian apel dengan cairan ozon untuk mengontrol pencemaran patulin. Selain itu, fermentasi alkohol dari jus buah diketahui dapat memusnahkan patulin.

Trichothecene

Terdapat 37 macam sesquiterpenoid alami yang termasuk ke dalam golongan trichothecene dan biasanya dihasilkan oleh Fusarium, Stachybotrys, Myrothecium, Trichodemza, dan Cephalosporium. Toksin ini ditemukan pada berbagai serealia dan biji-bijian di Amerika, Asia, dan Eropa. Toksin ini stabil dan tahan terhadapa pemanasan maupun proses pengolahan makanan dengan autoclave. Selain itu, apabila masuk ke dalam pencernaan manusia, toksin akan sulit dihidrolisis karena stabil pada pH asam dan netral. Berdasarkan struktur kimia dan cendawan penghasilnya, golongan trichothecene dikelompakan menjadi 4 tipe, yaitu A (gugus fungsi selain keton pada posisi C8), B (gugus karbonil pada C8), C (epoksida pada C7,8 atau C9,10) dan D (sistem cincin mikrosiklik antara C4 dan C15 dengan 2 ikatan ester).

Zearalenone

Zearalenone adalah senyawa estrogenik yang dihasilkan oleh cendawan dari genus Fusarium seperti F. graminearum dan F. culmorum dan banyak mengkontaminasi nasi jagung, namun juga dapat ditemukan pada serelia dan produk tumbuhan. Senyawa toksin ini stabil pada proses penggilingan, penyimpanan, dan pemasakan makanan karena tahan terhadap degradasi akibat suhu tinggi. Salah satu mekanisme toksin ini dalam menyebabkan penyakit pada manusia adalah berkompetisi untuk mengikat reseptor estrogen.

Efek pada manusia

Banyak mikotoksin yang dapat menyebabkan berbagai penyakit pada manusia melalui makanan, salah satunya adalah kontaminasi citrinin pada produk keju karena proses fermentasi keju yang melibatkan P. citrinum dan P. expansum penghasil citrinin. Pada manusia dan hewan, citrinin dapat menyebabkan penyakit kronis, di antaranya dapat terjadi akibat toksisitas pada ginjal dan terhambatnya kerja enzim yang berperan dalam respirasi. Aflatoksin merupakan senyawa karsinogenik yang dapat memicu timbulnya kanker liver pada manusia karena konsumsi susu, daging, atau telur yang terkontaminasi dalam jumlah tertentu. Kehilangan tanaman pangan akibat kontaminasi aflatoksin juga sangat merugikan manusia, baik petani maupun kalangan industri hasil pertanian di dunia. Pada laki-laki, kandungan ochratoxin A yang terlalu tinggi di dalam tubuhnya dapat menyebabkan kanker testis.

Efek pada hewan

Aflatoksin dapat menyebabkan penyakit liver pada hewan (terutama aflatoksin B1) yang ditandai dengan produksi telur, susu, dan bobot tubuh yang menurun. Untuk mereduksi atau mengeliminasi efek aflatoksin pada hewan, dapat digunakan amoniasi dan beberapa molekul penyerap. Pada ayam petelur, babi, sapi, tikus, dan mencit, toksin fumonisin sulit siserap namun penyebarannya sangat cepat dan ditemukan dapat tertimbun di hati dan ginjal hewan hingga menyebabkan kerusakan oksidatif. Senyawa ochratoxin A bersifat karsinogenik, mutagenik, teratogenik, dan mampu menimbulkan gejala imunosupresif pada berbagai hewan. Pada ternak babi, senyawa zearalenone dapat menyebabkan kelainan reproduksi yang disebut vulvovaginitis.  
Ayam pedaging yang mengkonsumsi ransum terkontaminasi mikotoksin terbukti pertumbuhannya terhambat, Begitu pula pada ayam petelur. Adanya kontaminasi mikotoksin akan mengakibatkan penurunan produksi telur, baik secara kualitatif maupun kuantitatif. Kasus “blood spot” dapat dipicu karena aflatoksin. Kualitas kerabang telur juga menurun karena aflatoksin akan menghambat proses konversi vitamin D3 yang terkandung dalam ransum menjadi bentuk aktif. Adanya mikotoksin ini akan mengakibatkan penurunan kadar protein serum, lipoprotein dan karotenoid.

Kematian akibat mikotoksin seringkali disebabkan kerusakan organ-organ vital ayam, seperti paru-paru, kantung udara, hati maupun ginjal. Selain itu, efek immunosuppressive juga mengakibatkan sistem pertahanan tubuh ayam lemah (mudah terinfeksi penyakit) dan pembentukan titer antibodi hasil vaksinasi menjadi kurang optimal.

Pencegahan

Kasus mikotoksin upaya pencegahan tumbuhnya jamur menjadi langkah awal terpenting yang harus di lakukan. Berikut beberapa langkah pencegahan yang bisa dilakukan antara lain :

  • Melakukan pemeriksaan kualitas bahan baku secara rutin, terutama saat kedatangan bahan baku atau ransum. pastikan kadar airnya tidak terlalu tinggi, > 14% sehingga bisa menekan pertumbuhan jamur
  • Atur manajemen penyimpanan bahan baku ransum. Berikan alas (pallet) pada tumpukan bahan baku dan atur posisi penyimpanan sesuai dengan waktu kedatangannya Perhatikan suhu dan kelembaban tempat penyimpanan. Hindari penggunaan karung tempat ransum secara berulang dan bersihkan gudang secara rutin. Saat ditemukan serangga, segera atasi mengingat serangga mampu merusak lapisan pelindung biji-bijian sehingga bisa memicu tumbuhnya jamur.
  • Saat kondisi cuaca tidak baik, terutama musim penghujan, tambahkan mold inhibitors (penghambat pertumbuhan jamur), seperti asam organik atau garam dari asam organik tersebut. Asam propionat merupakan mold inhibitors yang sering digunaka.


Saat jamur dan mikotoksin telah ditemukan mengkontaminasi ransum, beberapa hal yang dapat dilakukan untuk menekan efek mikotoksin ini antara lain :

  • Membuang ransum yang terkontaminasi jamur dengan konsentrasi tinggi, mengingat mikotoksin ini sifatnya sangat stabil
  • Jika yang terkontaminasi sedikit, bisa dilakukan pencampuran dengan bahan baku atau ransum yang belum terkontaminasi. Tujuannya tidak lain untuk menurunkan konsentrasi mikotoksin. Namun yang perlu diperhatikan ialah bahan baku ini hendaknya segera diberikan ke ayam agar konsentrasi mikotoksin tidak meningkat
  • Penambahan toxin binder (pengikat mikotoksin), seperti zeolit, bentonit, hydrate sodium calcium aluminosilicate (HSCAS) atau ekstrak dinding sel jamur. Antioksidan, seperti butyrated hidroxy toluene (BHT), vitamin E dan selenium juga bisa ditambahkan untuk mengurangi efek mikotoksin, terutama aflatoksin, DON dan T-2 toxin
  • Suplementasi vitamin, terutama vitamin larut lemak (A, D, E, K), asam amino (metionin dan penilalanin) dan PROBIOTIK mampu meningkatkan kadar protein dan lemak dalam ransum juga mampu menekan kerugian akibat mikotoksin.



sumber : wikipedia dan info medion

 

FUNGSI KARBOHIDRAT DALAM RANSUM AYAM

  • PDF
  • Print
  • E-mail

KARBOHIDRAT adalah zat organik utama yang terdapat dalam tumbuh-tumbuhan dan biasanya mewakili 50 sampai 75 persen dari jumlah bahan kering dalam bahan makanan ternak.

Karbohidrat sebagian besar terdapat dalam biji, buah dan akar tumbuhan. Zat tersebut terbentuk oleh proses fotosintesis, yang melibatkan kegiatan sinar matahari terhadap hijauan daun. Hijauan daun merupakan zat fotosintetik aktif pada tumbuh-tumbuhan. Zat tersebut merupakan molekul yang rumit dengan suatu struktur yang serupa dengan struktur hemoglobin, yang terdapat dalam darah hewan. Hijauan daun mengandung magnesium : hemoglobin mengandung besi.

Lebih terperinci lagi, karbohidrat dibentuk dari air (H2O) berasal dari tanah, karbondioksida (CO2) berasal dari udara dan energi berasal dari matahari. Suatu reaksi kimiawi sederhana yang memperlihatkan suatu karbohidrat (glukosa) disintesis oleh fotosintesis dalam tumbuh-tumbuhan adalah sebagai berikut :

6CO2 + 6H2O + 673 cal —-> C6H12O6 + 6 O2

Monosakharida adalah gula-gula sederhana yang mengandung lima atau enam atom karbon dalam molekulnya. Zat tersebut larut dalam air. Monosakharida yang mengandung enam karbon mempunyai formula molekul C6H12O6. Termasuk di dalamnya glukosa (juga dikenal sebagai dekstrosa) terdapat pada tubuhan, buah masak, madu, jagung manis, dan sebagainya.

Pada hewan zat tersebut terutama terdapat dalam darah yang pada konsentrasi tertentu adalah sangat vital untuk kehidupan. Orang sakit dapat diberi makan dengan menginfus glukosa langsung ke dalam peredaran darah.

Disakharida adalah karbohidrat yang mengandung dua molekul gula-gula sederhana. Mempunyai formula umum C12H22O11. Karenanya zat tersebut mewakili dua molekul gula sederhana minus air (dua atom hidrogen dan satu atom oksigen).

Disakharida yang sangat penting adalah sukrosa, maltosa dan laktosa.

  • Sukrosa ditemukan dalam ubi manis atau gula tebu dan tiap molekul mengandung satu molekul glukosa (dekstrosa) dan satu molekul fruktosa (levulosa). Sukrosa rasanya sangat manis dan lazimnya digunakan untuk membuat manis bahan makanan, jadi merupakan gula yang digunakan sehari-hari dan digunakan untuk masak. Sukrosa terdapat pula dalam buah-buahan masak, dan getah pohon serta tersebar luas di alam.
  • Maltosa ditemukan dalam biji yang sedang tumbuh dan mengandung dua molekul glikosa. Gula tersebut manisnya kurang lebih sepertiga manisnya sukrosa.
  • Laktosa adalah gula susu dan hanya terdapat dalam susu (atau hasil-hasil dari susu). Zat tersebut terdiri dari satu molekul glukosa dan satu molekul galaktosa. Laktosa tidak dapat digunakan oleh ayam karena sekresi pencernaan ayam yang tidak mengandung enzim laktosa yang diperlukan untuk mencerna laktosa.

Trisakharida terdiri dari tiga molekul monosakharida yaitu galaktosa, fruktosa dan glukosa.

Raffinosa adalah suatu trisakharida yang terdapat dalam gula biet dan biji kapas.

Polisakharida mempunyai formula kimiawi umum (C6H10O5)n.

Berarti bahwa zat tersebut mengandung banyak molekul gula-gula sederhana. Kedua golongan utama dari polisakharida adalah pati dan selulosa, meskipun masih ada golongan-golongan lebih kecil lainnya yang kurang penting.

Selulosa merupakan kelompok organik terbanyak di alam; hampir 50 persen zat organik dalam tumbuh-tumbuhan diduga terdiri dari selulosa. Meskipun selulosa dan pati kedua-duanya adalah polisakharida yang terdiri dari unit-unit glikogen, ayam hanya mempunyai enzim yang dapat menghidrolisa pati. Karenanya selulosa tidak dapat dicerna sama sekali. Selulosa terutama terdapat dalam dinding sel dan bagian tumbuh-tumbuhan yang berkayu.

Hewan ruminansia (sapi, domba dan kambing) yang mempunyai mikroorganisme selulolitik dalam perut besarnya dapat menyerap selulosa dan membuat hasil-hasil akhirnya (asam lemak atsiri) berguna bagi hewan itu sendiri.

Dalam proses pencernaan tersebut banyak energi telah hilang sehingga selulosa bagi hewan ruminansia mempunyai nilai gizi yang jauh lebih rendah dibandingkan dengan pati yang mudah dicerna.

 

Pada ayam, selulosa lebih banyak digunakan untuk membatasi penggunaan zat-zat makanan, terutama dalam pertumbuhan ayam dara. Dalam penyusunan ransum, selulosa diistilahkan dengan nama "serat kasar". Pati merupakan polisakharida terpenting dalam tumbuh-tumbuhan, karenanya merupakan zat paling penting dalam ransum ternak. Pada sebagian besar tumbuh-tumbuhan, pati disimpan didalam buah, biji dan akar. Bila pati dirombak, maka akan menghasilkan banyak molekul gukosa.

Glikogen atau "pati hewan" terdapat dalam jumlah sedikit dalam hati, otot dan jaringan-jaringan lain dari tubuh hewan. Glokogen mengandung banyak molekul glukosa.

Fungsi Utama Karbohidrat dalam Ransum

Fungsi utama karbohidrat dalam ransum ayam adalah untuk memenuhi kebutuhan energi dan panas bagi semua proses-proses tubuh. Ayam adalah hewan yang aktif dalam pergerakannya dan mempunyai suhu badan tinggi (40,5 - 41,5oC). Karena suhu tersebut biasanya adalah lebih tinggi daripada udara sekelilingnya, maka tubuh ayam secara terus-menerus kehilangan panas. Oleh sebab itu ayam memerlukan bahan makanan yang mengandung energi dalam jumlah besar untuk mengganti panas yang hilang tersebut. Jagung, beras, sorghum, gandum dan hasil ikutan penggilingan, merupakan bahan makanan utama yang mengandung energi.

Bila ayam dalam ransumnya memperoleh karbohidrat terlalu banyak maka kelebihan tersebut oleh tubuh akan dirubah ke dalam lemak yang akan disimpan sebagai sumber energi potensial. Serat kasar (termasuk selulosa) merupakan sumber panas dan energi bila dicerna. Zat tersebut mencegah pula menggumpalnya makanan dalam lambung dan usus hewan dengan cara memberi pengaruh pencahar dan mempertahankan tenus otot yang wajar dalam saluran pencernaan.

Nilai Bermacam-macam Karbohidrat

Karbohidrat dalam bahan makanan berbeda besar sekali dalam pencernaan dan nilai gizi.

Pati dan gula mudah dicerna dan mempunyai nilai gizi tinggi.

Selulosa dan karbohidrat kompleks lainnya dicerna hanya melalui kegiatan bakteri yang terdapat di dalam perut besar hewan ruminansia, di dalam usus buntu dan usus besar kuda dan dalam jumlah yang lebih sedikit di dalam usus besar hewan lainnya.

Hal ini berarti bahwa hewan ruminansia, seperti sapi dan domba dan juga kuda sanggup mencerna dan menggunakan serat kasar bahan pakan secara baik meskipun zat tersebut dibandingkan dengan pati mempunyai nilai yang lebih rendah bagi hewan-hewan tersebut.

Ayam dan babi dapat sedikit menggunakan serat kasar.

Dalam proses pencernaan, maka pati dirubah ke dalam glukosa. Gula-gula campuran juga hampir seluruhnya dirubah ke dalam glukosa atau gula-gula sederhana lainnya dan kemudian diserap ke dalam darah.

Pada pencernaan serat kasar dengan pertolongan bakteri, maka hasil utama yang dapat digunakan adalah asam-asam organik, sebagian besar asam asetat. Asam-asam organik tersebut kemudian diserap dan digunakan dalam tubuh sama halnya seperti glukosa.

Karena karbohidrat merupakan lebih kurang tiga-perempat bagian dari bahan kering sebagian besar tumbuh-tunbuhan, maka zat tersebut merupakan sumber utama energi dan panas bagi ayam. Sebagian besar energi guna pekerjaan otot jadinya berasal dari karbohidrat dalam bahan pakan. Telah diketahui pula bahwa karbohidrat merupakan sumber utama lemak tubuh dan merupakan sumber lemak penting dalam susu.

Dari berbagai sumber

 

ZAT GIZI DAN BAHAN MAKANAN UNTUK UNGGAS

  • PDF
  • Print
  • E-mail
Macam zat gizi yang dibutuhkan ayam buras sama dengan yang dibutuhkan ayam ras yaitu , Protein, Vitamin, Energi (Karbohidrat dan lemak), Mineral dan Air.

Jumlah zat gizi yang dibutuhkan oleh kedua jenis ayam tersebut mungkin berbeda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kebutuhan zat gizi untuk ayam buras lebih rendah dibandingkan dengan kebutuhan ayam ras. Oleh karena itu penggunaan 100% ransum ayam ras komersial untuk ayam buras tidaklah efisien karena potensi antara ayam ras dan ayam buras berbeda (pertumbuhan dan produksi telur yang dihasilkan oleh ayam buras masih jauh di bawah pertumbuhan maupun produksi telur ayam ras). Hal ini dikarenakan keterbatasan kemampuan genetis ayam buras.

Faktor-faktor yang mempengaruhi kebutuhan nutrisi, diantaranya; Jenis ternak , Umur unggas, Lingkungan, terutama cuaca dan Tingkat produksi

Jenis bahan pakan untuk ayam bisa didapatkan dari bahan pakan nabati, bahan pakan hewani dan suplemen.

BAHAN PAKAN NABATI

Bahan pakan nabati adalah bahan pakan yang berasal dari tumbuh-tumbuhan, misalnya dedak padi,jagung, bungkil kelapa. bungkil kedele dan bahan pakan asal kacang-kacangan.

Dedak padi

Dedak sebagai bahan pakan ternak memiliki kapasitas luas dalam penggunaannya, dedak padi dapat digunakan sebagai bahan pakan berbagai jenis dan tipe ternak.
Dedak padi dibedakan menjadi dedak padi pabrik dan dedak padi kampung.
Dedak padi kampung mengandung lebih banyak serat kasar dibandingkan dedak padi dari pabrik, dengan kandungan proteinnya hanya 10,1 %, sedangkan dedak padi dari pabrik mengandung protein 13,6%. dengan kandungan lemaknya yang tinggi, sekitar 13%, dan serat kasarnya kurang lebih 12%.
Penggunaan dedak padi dalam pakan ayam buras sebaiknya tidak melebihi 45%.

Jagung

Jagung sebagai pakan ayam buras sudah sejak lama digunakan. Jagung mengandung protein agak rendah (± 9,4%), dengan kandungan energi metabolism ± 3430 kkal/kg. Jagung merupakan sumber energi yang baik. Kandungan serat kasarnya rendah (± 2%), sehingga memungkinkan jagung dapat digunakan dalam tingkat yang lebih tinggi. Jagung kuning mengandung pigmen karoten yang disebut “xanthophyl”. Pigmen ini memberi warna kuning telur yang bagus dan daging yang menarik, tidak pucat.

Bungkil Kelapa

Bungkil kelapa merupakan limbah dari pembuatan minyak kelapa kandungan protein bungkil kelapa cukup tinggi sekitar 21,6% dan energi metabolis sekitar 1540 – 1745 Kkal/Kg.

Bungkil kelapa miskin akan Cysine dan Histidin serta kandungan lemaknya tinggi sekitar 15%. Sangat disarankan penggunaan bungkil kelapa dalam menyusun ransum tidak melebihi 20%, Secara umum bungkil kelapa berwarna coklat, sebaiknya dipilih bungkil kelapa yang berwarna coklat muda atau coklat terang. Bungkil Kelapa mudah rusak oleh jamur dan mudah tengik, sehingga harus hati-hati dalam menyimpannya.

Singkong/Ketela Pohon
Singkong dapat diberikan dalam bentuk mentah (segar) ataupun setelah melalui pengolahan misalnya gaplek atau aci. Penggunaan tepung gaplek dalam ransum tidak lebih dari 40%.

Dalam bentuk mentah, singkong sebaiknya digunakan dalam tempo 24 jam setelah masa panennya. Lebih dari tempo itu maka nilai gizinya akan menurun (rusak).

Bungkil kedelai

Kacang kedelai mentah tidak dianjurkan untuk dipergunakan sebagai pakan ayam karena kacang kedelai mentah mengandung beberapa trypsin, yang tidak tahan terhadap panas, karena itu sebaiknya kacang kedelai diolah lebih dahulu. Bungkil kedelai merupakan limbah pembuatan minyak kedelai, mempunyai
kandungan protein ± 42,7% dengan kandungan energi metabolisme sekitar 2240 Kkal/Kg, memiliki kandungan serat kasar rendah, sekitar 6%. Tetapi kandungan methionine rendah. Penggunaan bungkil kedelai dalam ransum ayam dianjurkan tidak melebihi 40%, sedang kekurangan methionine dapat dipenuhi dengan tepung ikan atau methionisme buatan pabrik.

Daun lamtoro
Pemberian daun lamtoro mesti hati-hati karena daun lamtoro mengandung alkoloid yang beracun dengan nama mimosin. Pemberian tepung daun lamtoro dalam jumlah yang banyak akan mengakibatkan ayam berhenti bertelur. Karena itu, kendatipun kandungan protein daun lamtoro cukup tinggi (22,30%), dalam penggunaannya dianjurkan tidak melebihi dari 5% dalam pakan ayam.

Daun turi.

Daun turi yang berbunga merah mengandung kadar protein sekitar 31,68%, sedangkan daun turi yang berbunga putih mengandung kadar protein 40,62%.

BAHAN PAKAN HEWANI


Bahan pakan asal hewan ini umumnya merupakan limbah industri, Bahan pakan hewani yang lazim digunakan adalah tepung ikan, tepung tulang, tepung udang, tepung kerang dan lain-lain.

Tepung Ikan

Tepung ikan merupakan bahan pakan yang sangat terkenal sebagai sumber protein yang tinggi. Kandungan gizi tepung ikan beragam, sesuai dengan jenis ikannya . Disamping jenis ikan, proses pengeringan ikan juga mempengaruhi kualitas tepung ikan tersebut. Ada beberapa macam proses pengeringan, yaitu pengeringan matahari, pengeringan vacum, pengeringan dengan uap panas dan pengeringan dengan pijar api sesaat. Pengeringan matahari merupakan proses termudah dan termurah, tetapi juga rendah kadar proteinnya. Tepung ikan lokal yang bersumber dari sisa industri ikan kalengan atau limbah tangkapan nelayan dan hanya dijemur dengan panas matahari mempunyai kandungan protein kasar hanya 51-55%. Selain sebagai sumber protein dengan asam amino yang baik, tepung ikan juga merupakan sumber mineral dan vitamin. Pengguna tepung ikan dibatasi dibawah 8%.

Tepung Udang

Tepung udang berasal dari limbah industri udang, kualitas gizi tepung udang beragam tergantung dari bagian yang ikut tergiling. Apabila bagian kepala dan kaki ikut tergiling tentu kualitasnya lebih baik daripada hanya kulit udangnya saja. Kandungan protein tepung udang berkisar antara 43 – 47%. Tepung udang merupakan bahan pakan alternatif sebagai sumber protein.

Tepung Tulang

Tepung tulang digunakan sebagai sumber mineral. Tepung tulang umumnya mengandung Calcium antara 24 – 25% dan Phospor antara 12-15%.

Tepung Kerang

Tepung kerang merupakan sumber Calcium, karena mengandung Calcium hampir 36%.

Bekicot

Bekicot merupakan bahan pakan yang murah sekali karena kita dapat dengan mudah memperolehnya disekitar lingkungan serta mudah dalam membudidayakannya. Hampir 95% dari tubuh bekicot dapat dimanfaatkan sebagai bahan pakan ayam,
Daging bekicot dapat diberikan sebagai pakan ayam, baik dalam bentuk basah
(segar), kering ataupun, dalam bentuk tepung,

Bekicot memiliki kandungan protein untuk masing-masing bentuk adalah sebagai berikut :

  • Dalam bentuk basah (segar) 54,29%
  • Dalam bentuk kering 64,13 %
  • Dalam bentuk tepung 24,80%

Pemakaian tepung bekicot tidak boleh melebihi 10%. Cangkang bekicot dapat digunakan sebagai pakan tambahan menggantikan tepung kapur dan grit.

SUPLEMEN (Bahan Pakan Pelengkap)

Bahan pakan pelengkap dipergunakan untuk melengkapi zat-zat gizi yang kurang banyak atau kurang lengkap dalam bahan pakan

Vitamin

merupakan zat gizi yang berfungsi untuk pembentukan tulang, pertumbuhan serta memberikan daya tahan tubuh terhadap penyakit atau infeksi.

Mineral

merupakan zat gizi yang dibutuhkan oleh tubuh dalam jumlah yang tidak banyak tetapi sangat penting untuk pembentukan alat-alat tubuh antara lain untuk pembentukan tulang (Ca dan P). darah (zat besi/Fe) dan kerabang telur (Ca dan P).

Lysine dan Methionine

Seperti diketahui dalam formula ransum ayam, 90% disusun dari bahan pakan nabati yang umumnya tidak mengandung Asam Amino yang imbang. Lysine dan Methionine merupakan Asam Amino esensial yang dibutuhkan oleh ternak.

Lysine berfungsi Membantu dalam penyerapan kalsium, Membantu pembentukan hormon dan kolagen, serta antibody, Menstimulasi selera makan, karena perannya dalam membantu proses detoksifikasi pada hati dan menghasilkan enzim pencernaan, Merangsang produksi carnitine (kreatinin) untuk mengubah asam lemak menjadi energi , Mencegah hilangnya kalsium melalui urin, membantu untuk mengembangkan blok bangunan Protein dalam tubuh,

Methionine berfungsi Membentuk protein tubuh, dan protein pada tiap jaringan tubuh, Meningkatkan pertumbuhan, Meningkatkan sinthesis protein, keliatan kulit, kualitas bulu, absorbsi, transportasi dan bioavailability mineral essensial, Berfungsi sebagai lipotropoc mempercepat metabolisme lemak dihati dan hepatic protector dengan memproduksi glutathione yang berfungsi sebagai antioksidan, meningkatkan Fungsi Hati antara lain menjaga penimbunan lemak yang berlebihan, Berperan sebagai Methyl-donor dan sebagai sumber diet Sulfur, Mencegah penumpukan lemak di hati dan pembuluh darah arteri terutama yang mensuplai darah ke otak, jantung dan ginjal dan detoxifikasi zat-zat berbahaya pada saluran cerna.

Probiotik

Probiotik, adalah koloni mikroba non pathogen (bakteri-bakteri menguntungkan) berfungsi sebagai pengurai protein, serat kasar dan nitrogen fiksasi non simbiotik. Dengan pemberian probiotik maka ransum yang digunakan menjadi lebih efisien dan kadar amonia lebih rendah sehingga bau menyengat yang biasanya disekitar kandang menjadi berkurang karena sifat bakteri probiotik sebagai pengurai.

Penggunaan probiotik bisa lebih luas, tidak saja sebagai suplemen pada ransum tetapi juga digunakan untuk menjinakkan berbagai limbah (yang berbentuk organik) seperti bau spesifik dari septitank, limbah rumah potong dan limbah industri.

SnS PRO probiotic solution adalah salah satu supplement probiotik plus multivitamin, mineral dan asam amino yang telah banyak dipergunakan dan telah dipercaya oleh para peternak unggas (ayam layer, broiler, itik), peternak ruminansia (Sapi, domba, kambing) dan peternak aneka ternak (puyuh) dalam hal membantu meningkatkan performa produksi telur, efisiensi penggunaan pakan, meningkatkan dan memacu laju pertambahan berat badan, meningkatkan daya tahan tubuh, menekan perkembangan bakteri pathogen dan menciptakan keseimbangan mikroflora dalam saluran pencernaan serta menekan kadar air feses (kotoran) menjadi lebih rendah dan bau feses di lingkungan kandang menjadi berkurang.



Dari berbagai sumber

 

Page 5 of 27