Welcome to Sarana Satwa

TEMPAT MINUM SISTEM NIPPLE DAN BIOFILM

  • PDF
  • Print
  • E-mail
Secara alami mikroorganisme dan mineral dalam air dapat membentuk biofilm di instalasi air minum, dan berpotensi menyumbat nipple.
Bagaimana cara mengatasinya ?

Adopsi teknologi nipple drinker pada kandang dan pemeliharaan ayam memiliki banyak keuntungan. Problema litter basah terkena tumpahan air dari bell drinker (wadah konvensional dari plastik yang masih umum dipakai) tak lagi terjadi. Risiko penularan penyakit pernafasan seperti coryza, Infectious Bronchitis (IB), Chronic Respiratory Disease (CRD) bisa ditekan.

Namun setiap pilihan, disamping memiliki keunggulan, tapi juga memiliki titik kritis yang menuntut konsekuensi. Seiring berjalannya waktu, problema sumbatan pada nipple mulai dialami, sumbatan ini kalau dibiarkan, satu kejadian sumbatan akan ‘menjalar’. Mula-mula satu, lama kelamaan menjalar ke nipple yang berada dalam satu jalur pipa. Kalau nipple yang tersumbat masih satu-dua, tak akan terasa. Karena pada kandang litter ayam bisa bebas pindah mematuk nipple yang lain, Tapi bila tidak cermat, dan ketahuan sudah banyak yang macet, bisa terjadi ayam sudah mengalami dehidrasi. Karena rasio nipple yang berfungsi dengan populasi ayam menjadi tidak ideal. (Idealnya maksimal 1:15). Efek sumbatan nipple akan parah pada kandang layer produktif sistem batere.

Biofilm

Sumbatan pada nipple drinker disebabkan oleh semacam lendir dan lumut yang terbawa dari sumber air. Lendir menempel di dinding bagian dalam pipa dan akhirnya menjalar ke dalam nipple dan menyumbat aliran air. Penyebab ini lazim disebut BIOFILM.

Karakter air secara organik dan anorganik bisa memunculkan biofilm. Air dari sumber alami memiliki karakter yang berpotensi menumbuhkan biofilm. Biofilm terdiri atas banyak mineral, juga slime yang merupakan lapisan lendir. Slime atau lendir ini muncul secara normal, karena pertumbuhan alga dan mikroorganisme lainnya.

Karakteristik air dari sumber air di masing-masing peternakan akan berbeda, menurut kondisi geografis dan geologis setempat. Contohnya, Karakter air dari suatu daerah memiliki kadar besi (Fe) nya tinggi, sedangkan daerah lain bisa jadi airnya terlalu basa atau terlalu asam atau deposit hardness (kesadahan air) terlalu tinggi. Faktor-faktor ini akan mempermudah dan memperparah terbentuknya biofilm.

Sedimentasi mineral, akan melapisi lapisan dalam pipa paralon. Ini jadi lapisan pertama yang akan menjadi kerak, kemudian bakteri-bakteri dalam air akan mudah membentuk semacam slime yang melekat di atas kerak. Setelah melekat, dia akan ketemu koloni-koloni baru, dan bereplikasi serta multiplikasi membentuk biofilm secara massif.

Ketebalan biofilm berbeda-beda, tergantung dari perlekatannya dan sedimentasinya.
Kejadian biofilm diperparah oleh efek samping pemberian vitamin, obat dan vaksin. Vitamin dan obat memerlukan polisakarida sebagai carrier atau zat pembawa. Sedangkan vaksinasi melalui air minum mesti dicampur susu skim. Polisakarida dan susu skim yang kaya protein ini menjadi media tumbuh bakteri pada biofilm, sehingga biofilm semakin tebal dan meluas membentuk koloni biofilm baru.

Bakteri-bakteri bersama alga dalam air akan membentuk koloni yang berwujud biofilm yang semakin lama semakin menebal. Selain sel mikroorganisme itu sendiri, komponen biofilm terdiri atas produk ekstraseluler, polisakarida yang diproduksi oleh mikroorganisme dan zat-zat yang terjebak saat terbawa dalam air. Bakteri membentuk biofilm untuk mendongkrak daya hidup (survival) dan pertumbuhannya. Biofilm juga berfungsi sebagai mekanisme pertahanan fisik bagi bakteri karena bersifat licin, sehingga ia terhindar dari gerusan yang seharusnya dapat menyapu bersih sel-sel yang tidak menempel. Secara kimiawi, biofilm mampu membentengi bakteri dari penetrasi senyawa yang beracun bagi dirinya, seperti antibiotik dan beberapa jenis desinfektan. Penting digarisbawahi, bakteri di dalam biofilm lebih resisten 10-1.000 kali dibandingkan bila tidak di dalam biofilm

Hidrogen Peroksida



Berbeda dengan desinfektan lainnya, dalam konsentrasi yang tepat, hidrogen peroksida (H2O2) mampu mengoksidasi biofilm secara tuntas. Bahkan mampu mengangkat kerak-kerak di dasar pipa sehingga betul-betul bersih. Hilangnya kerak juga akan memperlambat tumbuhnya biofilm lagi, karena ketiadaan tempat menempel slime.

Penggunaan hidrogen peroksida yang telah distabilisasi sangat disarankan sehingga tidak terpengaruh oleh pH air dan tetap efektif meski pipa sangat panjang (lebih dari 25 m), dan tidak merusak karet maupun komponen lain pada sistem nipple.

Untuk flushing kimiawi peternak bisa menggunakan hidrogen peroksida atau pun kombinasi hidrogen peroksida dengan paracetic acid. Produk hidrogen peroksida banyak sekali di pasaran. Tapi perlu diperhatikan apakah konsentrasinya mampu untuk mengoksidasi secara tuntas. Sebab lapisan biofilm bisa sangat tebal. Untuk broiler, flushing dengan hidrogen peroksida bisa dilakukan tiap 2 atau 3 periode sekali.



Sumber : Majalah Trobos

 

MIKOTOKSIN DALAM PAKAN

  • PDF
  • Print
  • E-mail

Pakan memegang peranan yang sangat penting untuk mendukung pertumbuhan dan produktifitas ternak. Pakan juga merupakan input biaya terbesar dalam proses produksi.

Pakan haruslah senantiasa terjaga kualitasnya. Manajemen pengadaan, penanganan, penyimpanan bahan baku dan atau pakan jadi, serta cara pemberian pakan memegang peranan yang sangat penting untuk memastikan pakan yang akan diberikan pada ternak kualitasnya tetap terjaga.

Hal ini penting diperhatikan sebab, manajemen penanganan dan penyimpanan bahan baku dan pakan yang kurang baik, adalah penyebab utama timbulnya masalah yang terkait dengan kasus mikotoksikosis.

Jamur penghasil mikotoksin menyebar hampir diseluruh belahan dunia, termasuk juga negara-negara penghasil jagung. Sehingga bisa dikatakan tidak ada negara penghasil bahan baku pakan ternak yang bebas dari cekaman jamur.

Tipe mikotoksin ada 300 jenis yang telah teridentifikasi, namun yang kerap muncul dalam pakan ternak adalah aflatoksin, ocrhatoksin A, patulin, fuminisin B1, trichothecenes, zearalenon, Deoxynivalenol (DON/ Vomitoxin), dan T2-toksin (trichotecenes).

Tiga jenis jamur yang sering menyebabkan mikotoksikosis adalah dari golongan aspergilus, pencilium dan fusarium.

Mikotoksikosis disebabkan oleh substansi beracun dari hasil metabolit jamur atau fungi yang umum tumbuh dalam bahan baku pakan. Racun hasil metabolit itulah yang disebut mikotoksin.

Mikotoksin akan sangat cepat dihasilkan oleh suatu jenis jamur, bahkan kadang lebih dari satu macam bila kelembaban, temperatur lingkungan dan kadar air bahan baku atau dalam pakan mendukung.

Racun jamur ini diproduksi pada kelembaban lebih dari 75% dan temperatur di atas 20°C, dengan kadar air bahan baku pakan di atas 16%. Sebagai produk metabolisme jamur atau kapang, mikotoksin tumbuh pada berbagai komoditas terutama produk pertanian seperti kacang tanah, jagung dan sebagainya.

Jamur-jamur penghasil mikotoksin  akan mengontaminasi produk-produk pertanian tersebut dengan mikotoksin sehingga ketika komoditi tersebut dijadikan pakan ternak atau pangan manusia, toksin/racun  tersebut akan masuk ke dalam tubuh. Karena mekanisme kerja yang sinergis dari beragam jenis jamur tersebut, menyebabkan pengaruh negatif pada ternak yang terintoksifikasi menjadi semakin kompleks.

Ternak yang terintoksifikasi oleh racun ini akan mengalami penurunan kekebalan tubuh sehingga penyakit akan lebih mudah menyerang. Disamping itu, tingkat toksisitas yang di atas ambang dapat menurunkan kinerja produksi ternak dalam hal pertumbuhan dan mengganggu sistem reproduksi.

Sayangnya, efek tidak langsung dari mikotoksin kadang tidak diketahui peternak sehingga kerugian dari segi efisiensi pakan menjadi cukup besar. Efek toksisitas mikotoksin tergantung dari intensitas dan waktu intoksifikasi serta bersifat akumulatif.

Mikotoksikosis dapat menyebabkan turunnya fungsi kekebalan tubuh, karena pengaruh langsung mikotoksin terhadap jalannya fungsi kekebalan baik seluler maupun humoral sehingga fungsi tersebut turun secara keseluruhan. Gejala keracunan yang sering terlihat pada umumnya adalah muntah, diare, luka pada rongga mulut dan turunnya nafsu makan. Efisiensi pakan konversi pakan, produksi telur, kualitas daging juga menurun dengan adanya intoksifikasi.

Mikotoksikosis dapat ditanggulangi dengan menggunakan bahan baku yang bebas dari mikotoksin.

Sedang upaya pencegahannya dilakukan dengan menciptakan sistem budidaya yang optimal serta selalu memperhatikan kualitas bahan baku termasuk mengoptimalkan penyimpanan dan distribusi. Penyimpanan bahan tersebut sebaiknya jangan melebihi kadar air 13-14%, karena pada kadar air di atas ambang tersebut maka mikotoksin akan diproduksi.

Beberapa gejala yang ditunjukkan  akibat  serangan mikotoksikosis diantaranya adalah : Luka di mulut, Pertumbuhan lambat dan tidak merata, Peradangan pada saluran pencernaan dan pernapasannya.

Negara tropis seperti Indonesia dengan tingkat kelembaban udara yang tinggi sangat rentan dengan penyakit tersebut. Ini karena dalam kondisi temperatur dan kelembaban seperti itu, jamur akan mudah tumbuh dan berkembang biak. Jenis mikotoksin yang paling banyak muncul sebagai penyakit adalah aflatoksin.

Guna meminimalkan kejadian tersebut, cara yang paling ideal adalah dengan menggunakan bahan pakan bebas mikotoksin. Tetapi hal ini tidak selalu berarti bebas jamur. Sebab boleh jadi, jamurnya sudah dibasmi sebelum diperjualbelikan. Pembasmian itu dilakukan dengan zat-zat pembunuh jamur, meski demikian racun yang diproduksi oleh jamur akan tetap menempel dalam bahan makanan. Sebab sebagian besar mikotoksin itu stabil pada suhu panas sehingga perlakuan yang melibatkan suhu panas dalam menghancurkan racun mikotoksin menjadi tidak efektif.

Pengamatan secara visual terhadap bahan baku pakan ‘hanya’  bisa dilakukan sebatas pengamatan terhadap jamur yang ada pada bahan baku tersebut, bukan pada mikotoksinnya. Karena hal itu membutuhkan analisa kandungan mikotoksin dalam setiap bahan pakan yang digunakan. Perlu dilakukan pengujian laboratorium lebih lanjut.

Bahan pakan yang sudah terkontaminasi jamur, besar kemungkinan tidak hanya memproduksi satu jenis toksin tetapi bisa lebih dari satu. Jika hal  ini terjadi, meski kandungan mikotoksin rendah tetapi karena terdapat beberapa jenis mikotoksin, maka akan memberikan dampak akumulasi dari kumpulan beberapa toksin tersebut. Akibat yang ditimbulkan bisa sama parahnya dengan satu jenis mikotoksin yang terdapat dalam bahan pakan dalam jumlah besar.

 

sumber : http://www.majalahInfovet.com

 

Sinergi AGPs dan Probiotik Tingkatkan Produktivitas Ayam

  • PDF
  • Print
  • E-mail

Penggunaan AGPs (Antibiotic Growth Promoters) dan probiotik dapat meningkatkan performa ternak. Namun, lebih baik lagi jika suplemen itu digunakan terpisah.

Pada sistem produksi unggas komersial intensif saat ini, pemeliharaan atau peningkatan kesehatan usus sangat penting untuk mencapai performa unggas yang optimal. Ini juga merupakan kunci dari profitabilitas setiap manajemen broiler. Unggas yang terus mengalami kondisi stres, seperti sesak, panas, akan rentan terkena penyakit saluran pencernaan (gastrointestinaltract/GIT). Penyakit ini dapat mengakibatkan penurunan performa, imunosupresif dan peningkatan mortalitas, yang menyebabkan kerugian finansial.

Dalam produksi unggas modern, salah satu strategi manajemen yang paling banyak digunakan untuk mengontrol dan mencegah penyakit adalah menambahkan antibiotik tingkat sub terapi yang dikenal dengan sebutan antibiotic growth promoters atau AGPs. Tujuan utama menggunakan AGPs adalah untuk mengurangi efek berbahaya dari penyakit GIT. AGPs dapat berperan untuk mengurangi infeksi sub-klinis, penurunan produksi produk mikroba beracun, menekan persaingan mikroba, dan meningkatkan penyerapan nutrisi.

Secara umum,  penggunaan AGPs dapat dikurangi jika tidak ingin menghilangkan penggunaannya secara total, karena kekhawatiran terkait dengan perkembangan potensi mikroorganisme resisten terhadap antibiotik (Huyghebaert, et al., 2010). Ketertarikan ini telah menghasilkan beberapa alternatif untuk AGPs seperti aditif pakan phytogenic, asam organik, prebiotik, probiotik dan symbiotics, dan yang lainnya. AGPs bekerja untuk menghilangkan dampak negatif dari mikroba tertentu pada usus. Tujuan utama dari aditif pakan alternatif adalah untuk mempertahankan atau meningkatkan kondisi yang sesuai untuk pertumbuhan bakteri menguntungkan untuk kesehatan usus agar menghasilkan unggas yang kesehatan dan performanya baik.

Probiotik adalah salah satu alternatif yang mengarah ke AGPs. Bahkan, penggunaan probiotik dalam ransum unggas sudah biasa dilakukan di Amerika Serikat, Eropa dan beberapa negara Asia seperti Jepang dan Korea. Probiotik adalah mikroorganisme hidup yang bila diberikan dalam jumlah yang cukup memberikan manfaat kesehatan pada unggas (FAO, 2001).

Probiotik dapat berasal dari beberapa mikroba seperti Bacillus, Lactobacillus, Lactococcus, Bifidobacterium, Enterococcus atau ragi. Di antara mikroba ini, probiotik berbasis Bacillus toleran terhadap panas, pH lingkungan yang keras, tekanan, coccidiostats dan antibiotik karena tergolong pembentuk spora. Berbeda dengan mikroba lain, Bacillus berkecambah dalam saluran pencernaan dan tumbuh sebagai sel vegetatif sehingga cukup baik diaplikasikan dalam pakan.

Selain alternatif sebagai pengganti lengkap atau parsial untuk AGPs, juga menarik untuk mengetahui apakah AGPs dan probiotik dapat bekerja sama secara sinergi untuk lebih menguntungkan ternak. Aplikasi ini akan sangat penting bagi daerah-daerah di mana penggunaan sub-terapeutik AGPs masih diperbolehkan. Meskipun pada awalnya kita berpikir bahwa AGPs dan probiotik tidak dapat digunakan bersama-sama, mengingat metode spesifik dari cara kerja AGPs dan probiotik, tetapi hal ini mungkin saja sebenarnya bisa dilakukan. Pada tahun 2005, FEFANA menunjukkan hal ini dengan melaporkan bahwa efek sinergis antara AGPs dan probiotik dapat dicapai dengan menekan patogen melalui AGPs dan pada saat yang sama mendukung mikroflora usus dengan probiotik. Eloisa C. CARPENA dan Robert L. PAYNE, Evonik Industries, Singapore.

 

sumber : Poultry Indonesia

 

KONTROL UKURAN DAN BERAT TELUR

  • PDF
  • Print
  • E-mail
Ukuran dan berat telur secara garis besar dipengaruhi oleh faktor genetik. dan faktor manajemen.

Faktor-faktor manajemen yang mempengaruhi ukuran telur dan berat telur terdiri dari 3 hal yaitu :
  • Kualitas dan kuantitas Pakan (Nutrisi)
  • Berat Badan (Body Weight)
  • Kematangan sexual (sexual maturity )


Kualitas dan Kuantitas Pakan

Protein, Asam Amino tertentu (seperti methionine dan lysine), energi, lemak total dan asam lemak esensial seperti asam linoleat didalam pakan memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap ukuran dan berat telur. Nutrisi-nutrisi tersebut, berperan bukan hanya menghasilkan telur berkualitas, melainkan juga ikut berperan dalam meningkatkan jumlah produksi telur.

Bowmaker dan Gous (1991) melaporkan bahwa pemberian methionine pada petelur (sebanyak 524 mg/ekor/hari) bisa meningkatkan rataan berat telur.

Untuk itu berikan ransum dengan nutrisi yang sesuai dengan kebutuhan ayam di tiap periode pemeliharaannya terutama untuk kandungan protein, asam amino, energi, asam lemak, kalsium, fosfor dan vitamin D (karena sangat berperan pada pembentukan telur)

Hal yang perlu diperhatikan dalam memanipulasi kebutuhan nutrisi untuk menghasilkan ukuran dan berat telur sesuai standar ialah adanya hubungan negatif antara produksi telur dan ukuran telur. Dimana biasanya pada kondisi normal (alami), peningkatan ukuran dan berat telur akan menyebabkan penurunan produksi telur. SnS PRO probiotic solution adalah salah satu solusi untuk menghindarkan kejadian ini, karena SnS PRO probiotic solution adalah sediaan probiotik disamping mengandung Bakteri-bakteri menguntungkan seperti Lactobacillus sp.,yang berguna untuk meningkatkan konsumsi pakan, retensi lemak, protein, kalsium, cuprum, dan mangan pada ayam petelur, Rhodopseudomonas sp, Actinomycetes sp., Streptomyces sp.,dan yeast sac / Saccharomyces Cerevisiae (ragi) berperan aktif dalam meningkatkan kecernaan zat gizi dan dapat memperbaiki performance ternak, juga SnS PRO probiotic solution mengandung multivitamin, mineral dan asam amino yang berguna untuk membantu ternak menanggulangi ketidakseimbangan nutrisi dan mempercepat pemulihan kondisi tubuh setelah terserang penyakit bakterial dan parasit (cacing /coccidiosis) dan stress.

Berat Badan

Berat badan memiliki korelasi positif dengan ukuran telur. Saat pertama kali bertelur, pullet yang memiliki berat badan di bawah standar akan berproduksi dengan ukuran lebih kecil. Demikian sebaliknya, pullet dengan berat badan di atas standar saat pertama kali bertelur, akan menghasilkan telur yang lebih besar ukurannya. Keadaan tersebut akan berlangsung secara terus-menerus selama ayam tersebut berproduksi.

Kontrol berat badan secara rutin ketika periode starter dan grower (pullet) wajib dilakukan serta usahakan agar ayam tidak terlalu gemuk atau terlalu kurus dengan range min 10% dari standart dan up 10% dari standart.

Kematangan Sexual

Ayam yang mengalami kematangan seksual terlalu dini akan memproduksi telur dengan ukuran kecil. Demikian juga sebaliknya ketika kematangan seksual terlambat, maka ayam akan memproduksi telur dengan ukuran besar .

Ukuran telur kecil yang disebabkan karena tingkat kematangan seksual terlalu dini, biasanya sulit untuk diperbaiki karena organ reproduksinya sudah tidak bisa diperbaiki lagi. Antisipasinya yaitu dengan memperhatikan masa pemeliharaan pullet terkait program pencahayaan. Untuk memperoleh telur dengan ukuran yang optimal, tambahan cahaya pada ayam periode grower tidak boleh diberikan sebelum ayam tersebut mencapai berat badan antara 1550-1600 gram, dimana pada berat badan ini ayam secara fisiologis dan anatomis sudah siap berproduksi.

 

(dari berbagai sumber)

 

Page 6 of 27