Welcome to Sarana Satwa

MAREKS

  • PDF
  • Print
  • E-mail
Sebutan penyakit Mareks diberikan sebagai penghargaan kepada seseorang yang pertama kali mengadakan penelitian tentang sesuatu penyakit. Pada tahun 1907 orang yang bernama Marex menemukan dan menamakan penyakit ini dengan nama Polyneuritis, yakni suatu penyakit yang pada umumnya menyerang syaraf. Pemberian nama suatu penyakit yang berorientasi pada syaraf berubah-ubah tergantung kepada para ahli yang menelitinya, ada yang menyebut : Range paralysis, Fowl paralysis atau Neuro Lymphomatasis dan yang kemudian lebih dikenal dengan sebutan : Avian Reucosis Complex.
Hasil penelitian Calnek dan Witter (1972), penyakit mareks dikeluarkan dari kelompok Avian Leucosis Complex. Sedangkan di Indonesia penyakit semacam ini dikenal dengan sebutan penyakit mareks atau marex.

Dengan semakin majunya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dewasa ini, khususnya peternak unggas, maka petani peternak unggas di Indonesia tidak ketinggalan dari masalah penyakit mareks ini. Penyakit ini dapat menimbulkan kerugian yang sangat besar di kalangan petani peternak unggas, baik yang memelihara sambilan maupun berskala besar.

Di Indonesia adanya penyakit mareks baru pertama kali dilaporkan oleh de Boer dan Djaenudin pada tahun 1949 (Sofyan SD, 1980). Aetiologi atau penyebab penyakit mareks ini adalah virus DNA. Penyakit ini dapat menyerang semua jenis ternak unggas.

Pada ayam, penyakit mareks menyerang ayam-ayam umur muda, setelah ayam berumur 3 minggu atau berkisar 1 sampai dengan 4 bulan. Sedangkan pada ayam dewasa jarang sekali dijumpai. Penyakit mareks tersebar di seluruh dunia, baik yang beriklim tropis mupun sub tropis, termasuk di Indonesia. Apabila ayam terinfeksi oleh virus mareks, maka virus ini akan masuk melalui kulit ke dalam tubuh ayam dan biasanya melalui kulit-kulit yang kotor oleh debu atau kotoran lainnya, terutama debu-debu kandang. Karena itulah kandang diusahakan harus selalu bersih dari debu-debu dan bulu-blulu bekas pada saat molting.

Tanda-tanda penyakit mareks adalah :
  • Pincang,
  • Lumpuh pada sayap atau leher,
  • Kadang-kadang matanya menjadi buta kelumpuhan pada kaki yang ditandai dengan satu kaki menghadap ke depan dan satunya menghadap ke belakang.
Penyakit mareks mempunyai empat macam bentuk dan dapat digolongkan berdasarkan organ-organ yang terserang yaitu :
  1. Neural. Tanda-tanda dari penyakit tipe ini adalah jengger pucat, kelumpuhan (paralyse) pada sayap dan kaki yang dapat dilihat pada sayap yang jatuh dan inkordinasi dari kaki-kaki dimana satu terenggang ke depan yang satunya ke belakang atau sebaliknya.
  2. Viseral. Penyakit tipe ini, organ-organ yang terserang adalah hati (hepar), ginjal, testis, ovarium dan lympha (lien). Warna organ-organ tersebut berubah menjadi pucat dan pada hati terjadi pembesaran dua sampai empat kali dari keadaan normal dan banyak dijumpai pula tumor-tumor.
  3. Ocular. Tipe ini ditandai dengan kebutaan pada mata atau iris (conjunktiva) dan maka akan berwarna kelabu seperti mutiara.
  4. Skin form. Tipe ini ditandai adanya tumor-tumor di bawah kulit (sub cutan) dan otot-otot (musculus).
Untuk mendiagnosa apakah benar penyakit yang terjadi pada ayam benar-benar penyakit mareks, berdasarkan pada : gejala klinis dan pemerikasaan laboratoris. Pada kenyataannya sering dijumpai bahwa penyakit Avian Leucosis Complex dikaburkan dengan penyakit mareks. Pada penyakit ini tanda-tanda klinis hampir sama dengan mareks, akan tetapi biasanya penyakit tersebut sering menyerang pada ayam yang berumur empat sampai lima bulan. Oleh karena itu peternak harus lebih berhati-hati dalam mendiagnosa penyakit mareks ini, dan untuk lebih meyakinkan perlu diadakan pemerikasaan laboratoris.

Faktor Prediksi atau Predisposisi Penyakit Mareks.
Faktor yang mendorong berjangkitnya penyakit mareks pada ayam antara lain :
  • Perkandangan. Kandang yang kurang bersih, berdebu dan lembab mendorong berjangkitnya mareks
  • Pemeliharaan. Pola pencampuran ayam muda dengan ayam dewasa (tidak seragam umurnya)
  • Stress. Ayam yang stress mudah terserang penyakit
  • Adanya penyakit lain. IBD dan beberapa penyakit lain yang menurunkan kekebalan berpotensi terserang mareks
  • Faktor genetis. Kekebalan induk yang diturunkan kepada anaknya berbeda. Kadang ada jenis ayam yang mempunyai kekebalan yang lebih tinggi dibandingkan jenis lain.
Pencegahan

Untuk mencegah penyebaran mareks tindakan yang harus dilakukan adalah Melakukan desinfeksi kandang dan peralatannya, Mengontrol penyebaran penyakit dan meminimalisir ternak kontak langsung dengan manusia.
Mengingat mareks dapat menimbulkan kematian ayam 30-60%, maka dari sisi ekonomi kerugian yang ditimbulkan cukup tinggi.
sumber : poultryindonesia.com

 

RESISTENSI

  • PDF
  • Print
  • E-mail

Resistensi adalah suatu kejadian ketidakpekaan  mikroorganisme patogen terhadap obat-obatan  yang diberikan yang terjadi sebagai akibat dari suatu proses kesalahan diagnosa, kesalahan pemilihan jenis obat, kesalahan penentuan dosis obat, kesalahan cara aplikasi obat dan lain-lain.

Mekanisme resistensi obat pada bakteri ada 4 macam yaitu :

  • Bakteri menghasilkan enzim spesifik yang dapat menghancurkan antibiotik,
  • Bakteri merubah struktur lapisan luar tubuhnya sehingga antibiotik tidak dapat masuk, antibiotik yang sudah masuk ke dalam sel bakteri dikeluarkan lagi.
  • Bakteri merubah struktur target antibiotik (ribosom inti sel) sehingga antibiotik tidak mengenalinya lagi.

Kejadian resistensi bisa dipastikan akan terjadi, baik dalam waktu cepat maupun lama. Menghindarinya merupakan sesuatu hal yang sulit, apalagi dengan kondisi peternakan seperti sekarang ini. Banyak peternak yang berani meracik obat/ antibiotik sendiri yang terkadang tanpa memperhatikan dosis dan aturan pakai dari obat sendiri, mengkombinasikan sendiri lebih dari satu jenis antibiotik tanpa memperhatikan factor sinergis – antagonis dari masing-masing jenis obat yang dikombinasi, Fanatisme peternak terhadap preparat antibiotik tertentu sehingga pemakaian jenis antibiotik tertentu itu berjalan dalam jangka waktu yang sangat lama yang kesemuanya dapat menimbulkan kejadian resistensi.

Berikut langkah yang dapat dilakukan untuk menekan terjadinya resistensi :

1. Diagnosa penyakit

Diagnosa penyakit merupakan cara untuk menentukan/menetapkan jenis penyakit atau mikroorganisme yang menginfeksi ke dalam tubuh ayam.

Melakukan diagnosa penyakit dapat diibaratkan dengan menyusun sebuah “puzzle”. Ketelitian, kejelian dan pengalaman dalam menganalisis menjadi kunci utama untuk mendiagnosa penyakit. Bagian-bagian “puzzle” yang harus dikumpulkan adalah :

  • Anamnese atau keterangan dari peternak yang meliputi sejarah penyakit, program pengobatan dan vaksinasi yang telah dilakukan serta kondisi/sejarah peternakan.
  • Mengamati gejala klinis yang muncul dan melakukan bedah bangkai guna mengetahui perubahan patologi anatomi tubuh ayam.
  • Pemeriksaan laboratorium (merupakan bagian yang bisa dilakukan maupun tidak).

Diagnosa penyakit secara tepat merupakan penentu utama keberhasilan pengobatan. Diagnosa penyakit yang keliru akan berakibat terapi pengobatan yang dilakukan tidak akan mencapai tujuan yang dikehendaki yaitu kesembuhan ayam.

2. Pemilihan Jenis Obat

Pemilihan obat tidak bisa dilakukan sembarangan tetapi membutuhkan pengetahuan khusus tentang obat. Pemilihan obat yang di lakukan secara sembarangan tentu akan berakibat penyakit sulit diatasi.

Jenis obat yang beredar di peternakan sangat banyak. Bahkan untuk mengatasi satu jenis penyakit tersedia beberapa jenis obat. Hal yang perlu diperhatikan dalam pemilihan obat adalah golongan antibiotik atau khemoterapeutik yang terkandung dalam obat tersebut. Guna mempelajari hal tersebut dibutuhkan keahlian tersendiri Namun sebagai peternak, langkah awal pemilihan obat yang tepat adalah mengetahui spektrum kerja dan antibiotik.

Pemakaian obat berspektrum memang berguna pada saat gejala klinis ayam belum muncul namun penggunaannya sebaiknya dibatasi. Pilih obat yang spesifik karena potensi obat tersebut umumnya lebih baik. Obat yang akan digunakan juga harus diperiksa kualitasnya antara lain tanggal kadaluwarsa (expired date) dan kondisi fisik yang meliputi warna dan bau.

3. Penentuan dosis obat

Masalah dosis obat sering kali disepelekan oleh peternak. Mari kita cermati bersama. Seberapa sering kita memberikan obat dengan dosis kurang atau double dosis? Pernahkan Anda menghentikan waktu pengobatan Sebelum waktu yang dianjurkan selesai dengan alasan ayam sudah tidak menunjukkan gejala sakit? Jika Anda pernah dan sering metakukan kedua hal itu maka Anda harus bersiap-siap menghadapi kasus pengobatan penyakit yang tak kunjung sembuh. Hal tersebut disebabkan kedua faktor itu menjadi pemicu terjadinya resistensi.

Pemberian obat double dosis terkadang memang menghasilkan efek pengobatan yang cepat. Namun dilain sisi efek negatif dan obat seperti toksisitas (keracunan) dan kerusakan ginjal akan ditemukan. Selain itu, mikroorganisme menjadi terbiasa dengan double dosis, sehingga saat diberikan dosis yang biasa menjadi tidak mempan. Akibatnya kita harus melakukan pergantian jenis antibiotik yang digunakan. Sama halnya dengan pemberian obat dengan dosis lebih rendah atau penghentian pengobatan sebelum waktu yang dianjurkan akan menyebabkan mikroorganisme yang menginfeksi tidak terbasmi secara tuntas.

Gejala klinis yang telah hilang tersebut bukan berarti tubuh ayam telah bebas dari bibit penyakit. Tetapi jumlah bibit penyakit telah menurun di bawah level munculnya gejala klinis. Oleh karena itu, obat sebaiknya diteruskan sampai waktu pengobatan selesai (sesuai yang tertera dalam leaflet maupun etiket produk).

4. Aplikasi obat

Cara pemberian obat yang umum dilakukan di peternakan adalah secara oral (melalui saluran pencernaan) dan parenteral (melalui suntikan). Cara pemberian tersebut tergantung dan target organ yang akan dituju, kondisi ternak dan sifat dari antibiotik.

Pemberian obat secara oral dapat dilakukan dengan cekok, melalui air minum maupun dicampur ransum. Pembagian teknik pemberian obat tersebut berdasarkan sifat dan antibiotik yang terkandung dalam obat. Obat yang diberikan melalui ransum mempunyai kandungan zat aktif yang tidak mudah rusak atau bereaksi dengan zat-zat yang terdapat dalam ransum, seperti mineral, protein maupun vitamin. Antibiotik yang dapat diberikan melalui ransum adalah tylosin dan basitrasin. Sedangkan tetrasiklin sebaiknya tidak diberikan dengan dicampur ransum karena antibiotik tersebut akan berikatan dengan kalsium sehingga penyerapannya menjadi berkurang.

Beberapa antibiotik tidak bisa diberikan secara oral tetapi harus secara parenteral. Contohnya streptomisin dan kanamisin tidak diserap oleh usus sehingga untuk tujuan pengobatan sistemik harus diberikan secara parenteral. Sedangkan untuk pengobatan infeksi di daerah usus sebaiknya digunakan antibiotik yang tidak mudah diserap oleh usus melalui aplikasi oral.

Pemberiian obat dengan cara dicampur dengan air minum juga harus memperhatikan kualitas air yang dapat menurunkan potensi obat, seperti pH, kesadahan dan keberadaan logam berat (besi, tembaga). Selain itu, air minum yang mengandung obat juga tidak boleh terkena sinar matahari Secara langsung karena dapat menurunkan potensi obat.

5. Kombinasi obat

Kombinasi antibiotik juga merupakan salah satu cara untuk menekan terjadinya resistensi. Mengkombinasi-kan antibiotik tidak bisa dilakukan sembarangan karena dapat mengakibatkan penurunan potensi antibiotik atau daya kerja obat. Syarat kombinasi antibiotik adalah kedua antibiotik mempunyai sifat yang sama (bakterisid dan bakterisid, bakteriostatik dan bakteriostatik) dan sebaiknya berasal dari golongan yang berbeda. Saat ini, produk yang mengandung kombinasi antibiotik telah banyak tersedia, Oleh karena itu, selayaknya kita selaku peternak tidak perlu mengkombinasikan obat sendiri karena apabila tidak paham dapat berakibat sebaliknya (red.ayam tidak sembuh).

6. Rolling obat / pergantian jenis obat

Penggunaan obat yang sama secara terus-menerus dapat menyebabkan mikroorganisme patogen mengembangkan pertahanan terhadap obat tersebut. Akibatnya, kemungkinan munculnya resistensi semakin besar. Oleh karena itu perlu dilakukan rolling pemakaian obat. Rolling obat dapat diartikan sebagai pergantian jenis obat yang digunakan. Pergantian jenis obat bukan hanya diartikan pergantian merk atau produsen obat melainkan pergantian golongan zat aktif obat. Secara mendetail masalah rolling obat dapat dikonsultasikan ke tenaga kesehatan hewan yang ada di lapangan. Rolling obat sebaiknya dilakukan setiap 3-4 periode pengobatan.

 

Sumber : Info medion

 

GAS AMMONIA

  • PDF
  • Print
  • E-mail
Nitrogen sisa dalam metabolisme protein (reaksi katabolisme) makhluk hidup bisa diekskresikan (dibuang) dalam dua jenis senyawa kimia, yaitu senyawa urea atau asam urat yang dibentuk dalam hati.
Amonia adalah bahan produksi sampingan dari fermentasi asam urat dalam kotoran ayam. Proses pembentukan ammonia ditingkatkan dalam suhu yang tinggi dengan peningkatan pH litter dan dipengaruhi oleh tinggi atau rendahnya kelembaban dalam kandang. Kadar amonia tinggi dihasilkan dalam kandang menggangu kesehatan ayam yang mengarah ke masalah pernafasan dan lainnya.
Pada manusia, nitrogen sisa berupa urea dibuang lewat air seni dalam bentuk cair, sedangkan pada ayam berupa senyawa asam urat yang berbentuk pasta dengan warna putih sedikit kekuningan. Dalam 24 jam, ayam yang mempunyai bobot badan satu kilogram umumnya dapat mengekskresikan asam urat berkisar 1-2 gram. Asam urat tersebut umumnya dibuang bersama dengan komponen kotoran ayam lainnya yang berasal dari saluran cerna.
Dalam litter, asam urat yang tercampur dengan material feses ayam akan mengalami proses dekomposisi (perubahan bentuk) menjadi senyawa urea dengan bantuan bakteri-bakteri lingkungan. Adanya kelembaban litter dan suhu yang relatif optimal akan membuat urea terurai menjadi gas amonia (NH3) dan gas karbondioksida (CO2).
Dr. F.T.W. Jordan dari Inggris dan Dr. Anderson dari Amerika, mengadakan pengamatan intensif pada pengaruh gangguan tingkat kadar amonia pada peternakan ayam petelur dan pedaging.Pengaruh ini sebagai faktor penyebab penyakit pernafasan, dan pengaruhnya pada produksi.
Efek amonia
Gas amonia justru bersifat lebih toksik (beracun) terhadap makhluk hidup dibandingkan dengan senyawa urea atau asam urat, Indera penciuman normal manusia bisa mendeteksi kadar gas amonia paling rendah pada tingkat 5 ppm.(jika bau amonia sudah tercium dalam suatu kandang ayam, artinya kadarnya paling tidak sudah 5 ppm.)
Menurut Michael Lacy dari Poultry Diagnostic Centre, Universitas Georgia, pada kadar 5 ppm gas amonia sudah dapat menimbulkan iritasi ringan saluran pernafasan ayam pedaging atau ayam petelur.
Efek negatif lain dari gas amonia terhadap sistem pernafasan ayam, antara lain:
  • Mengganggu mekanisme pertahanan mukosiliaris pada saluran pernafasan ayam. Pada level 5 ppm, gas amonia sudah dapat mengakibatkan siliostasis (terhentinya gerakan silia atau bulu getar) dan desiliosis (kerusakan silia) pada permukaan saluran pernafasan ayam yang akan mengakibatkan rapuhnya permukaan saluran pernafasan dalam mengantisipasi serangan mikroorganisme yang terkandung dalam udara pernafasan. Manifestasi yang dapat dilihat oleh peternak adalah mudahnya ayam mendapat infeksi saluran pernafasan dan atau tingginya reaksi pasca vaksinasi setelah pemberian vaksin aktif yang mempunyai jaringan target di saluran pernafasan.
  • Gas amonia bersama dengan gas karbondioksida yang terbentuk akan mengakibatkan tekanan gas oksigen dalam udara sekitar ayam akan menurun hal ini tidak saja mengakibatkan ayam yang dipelihara akan mengalami kekurangan oksigen (hipoksia) yang selanjutnya dapat mempengaruhi penampilan (performance) ayam secara keseluruhan, akan tetapi juga akan membuat kondisi permukaan saluran pernafasan lebih anaerob (tekanan oksigen rendah) yang sangat disukai oleh kuman Mikoplasma. Manifestasi lapangan yang dapat dilihat peternak adalah mudahnya ayam terserang Mikoplasmosis.
  • Induksi gas amonia dalam jangka waktu yang relatif lama (kronis) akan mempengaruhi beberapa fungsi fisiologis normal ayam, diantaranya dapat mempengaruhi palatabilitas (nafsu makan) ayam broiler ataupun ayam petelur.
  • Menurut John Summers dari Universitas Guelph, Kanada, gas ammonia dapat mengakibatkan kondisi alkalosis (pH cairan tubuh, termasuk cairan plasma darah lebih alkalis atau basa) pada ayam. Jika plasma darah bersifat lebih alkalis (pH > 7,2), maka sebagian besar protein plasma seperti globulin dan albumin akan terdisosiasi. Selanjutnya, protein plasma yang terionisasi akan mengikat kalsium darah yang sebelumnya berupa ion bebas yang akan dideposit dalam jaringan tulang dan atau saluran telur.hal ini akan mengganggu pembentukan tulang atau kerangka ayam.
  • Pada ayam petelur yang sedang produksi, kejadian alkalosis akan mengurangi penyediaan zat kapur alias kalsium dalam saluran telur (oviduct) yang akan berakibat kerabang telur yang tipis dan telur akan mudah pecah atau retak.
  • Kadar amonia 50 ppm atau lebih tinggi, membuat sobekan luka kecil di daerah nasio-pharyngeal dan meningkatkan penerimaan jumlah bakteri dan virus patogen penyebab masalah pernafasan pada ayam.
  • Amonia penyebab deceliation mukosa trachea dan mengganggu selaput mucoceliary di sistim nasal trachel dan bronchial.
  • Amonia melarutkan cairan pada mukosa membran dan di mata, untuk menghasilkan amonium hydroxida, bahan alkalispengiritasi. Hal ini menyebabkan kondisi digambarkan sebagai keratokonjungtivitis dimana ayam selalu menutup kelopak matanya dan enggan untuk bergerak. Kornea mata tampak mempunyai selaput abu-abu dan mungkin berair. Ayam tidak mau makan dan menjadi kurus.
Pengendalian
Pengendalian yang cukup efektif terhadap ammonia dapat dilakukan dengan memperbaiki dan meningkatkan sistim tatalaksana pemeliharaan diantaranya :
  • Pada kandang postal, lakukan tata laksana litter dengan baik. Bahan litter yang digunakan harus cukup kering dan dengan ketebalan minimum 10 cm. Jika ada, bagian litter yang basah harus dibuang dan diganti dengan yang baru. Rasio antara bahan litter dengan kotoran ayam yang baik adalah tujuh berbanding tiga.lakukan pembalikan secara teratur.
  • Pada kandang batterei, lakukan kontrol sistem air minum. Jangan sampai banyak air minum yang tumpah dan selanjutnya akan membuat kotoran ayam dibawah kandang batterei basah. Di samping itu, kotoran ayam sebaiknya dikuras dalam waktu yang tidak terlalu lama.
  • Ventilasi yang baik sangat dibutuhkan pada kandang postal maupun kandang batterei. Aliran udara yang cukup, selain akan membawa cukup oksigen, juga akan mengangkut ke luar gas-gas sisa, debu dan mikroorganisme yang terkandung dalam udara di sekitar ayam. Ventilasi yang baik akan mengencerkan konsentrasi mikroorganisme yang ada dalam udara pernafasan ayam.
  • Derajat keasaman (pH) litter biasanya di atas 7,5. Dalam kondisi alkalis, bakteri-bakteri yang bertanggungjawab dalam proses dekomposisi asam urat menjadi urea yang selanjutnya menjadi gas amonia akan berkembang biak dengan baik.
  • Di beberapa negara, bahan-bahan yang bertindak sebagai asidifier sering ditambahkan pada litter untuk mengurangi aktifitas bakteri-bakteri tersebut.
  • Perbaiki system pencernaan ayam dengan memberikan sediaan Probiotik dalam air minum maupun pakan, karena langkah ini telah banyak dibuktikan oleh para peternak cukup efektif dalam pengendalian ammonia dalam lingkungan kandang, disamping manfaat besar lainnya.
Agar ayam mampu mengekspresikan potensi genetiknya secara optimal hendaknya 3 hal yang merupakan kunci pokok harus diterapkan dalam sistim tatalaksana pemeliharaan antara lain; Udara yang berkualitas, Air yang berkualitas dan Pakan yang berkualitas. Semoga informasi ini dapat bermanfaat.
Sumber : dari berbagai sumber.
 

BIOSECURITY PETERNAKAN AYAM

  • PDF
  • Print
  • E-mail
Biosecurity adalah rancangan praktis untuk mencegah penyebaran penyakit ke dalam farm, dengan cara melakukan menjaga fasilitas yang dapat memperkecil lalu lintas organisme biologis (virus, bakteri, hewan dll) melintasi batasnya.
Biosecurity sangat murah, dan lebih efektif dalam pengendalian penyakit. Tidak ada program pencegahan penyakit tanpa penerapan biosecurity.
Biosecurity mempunyai tiga komponen utama :
  1. Isolasi mengarah pada pemisahan hewan yang disesuaikan berdasarkan pengendalian lingkungan. Pagar pemisah antara ayam di kandang dan hewan lain di luar. Isolasi juga penerapan pemisahan kelompok ayam berdasarkan umur. Dalam pengelolaan peternakan skala besar, sistim pemeliharaan all-in/all-out memungkinkan pengosongan populasi secara serempak diantara kelompok ayam dan menyediakan waktu untuk membersihkan dan mendesinfeksi secara periodik untuk memutus siklus penyakit.
  2. Kontrol lalu lintas, termasuk lalu lintas keluar-masuk farm dan di dalam farm.
  3. Sanitasi, ditujukan untuk desinfeksi bahan-bahan, orang dan peralatan yang masuk ke farm dan kebersihan personel didalam farm.
Pencegahan Penyebaran
Penyakit menular dapat disebarkan dari farm ke farm melalui :
  • Unggas sakit
  • Unggas carrier, ayam sehat yang dalam tahap penyembuhan
  • Sepatu dan pakaian tamu atau pegawai yang berpindah dari farm ke farm
  • Kontak dengan hewan yang terkontaminasi bibit penyakit
  • Ayam mati yang dikubur tidak layak
  • Air kotor, seperti air permukaan drainase
  • Tikus, hewan dan burung liar
  • Kendaraan pengangkut yang terkontaminasi
  • Penularan melalui angin
  • Melalui telur
Daftar tersebut diatas menunjukkan bahwa semua hal memungkinkan mengganggu biosecurity, kedatangan unggas baru dan lalu lintas memberikan resiko terbesar ke ayam sehat. Pengaturan dengan tepat dua faktor ini merupakan prioritas yang utama dalam usaha peternakan.
Seberapa Perlu Biosecurity ?
Untuk memperkirakan kebutuhan penerapan biosecurity di farm, dengan melihat faktor-faktor : ekonomis, toleransi, dan resiko relatif.
  • Kehadiran unggas baru memperbesar resiko dalam biosecuritykarena kita belum tahu status penyakitnya. Kemungkinan unggas tersebut telah terinfeksi atau walaupun berpenampilan normal tetapi telah terinfeksi (carrier). Apabila penggunaan sistem managemen all-in/all-out sulit diterapkan, diungkinkan untuk membuat kandang terpisah dan tempat isolasi untuk menampung kedatangan ayam baru atau kandang karanytina untuk ayam sakit. Kandang isolasi harus sejauh mungkin dari unggas yang dipelihara. Disarankan karantina sekitar dua minggu atau lebih baik empat minggu. Mengamati unggas untuk segala gejala penyakit yang muncul. Pemeriksaan darah untuk penyakit infekesius dapat di lakukan pada waktu itu.
  • Secepat mungkin membuang ayam mati dengan cara membakar, mengubur, dijadikan pupuk, atau mengirim ke tempat lain untuk menjaga kebersihan.
  • Gunakan keranjang ayam plastik untuk memendahkan ayam. Keranjang kayu sangat sulit dibersihkan dan sebagai perantara penyebaran penyakit.
  • Hindari penempatan ayam baru, terutama anak ayam, untuk berhubungan langsung dengan sisa-sisa kotoran, bulu dari kelompok ayam yang lama. Beberapa agen penyakit dapat dengan cepat mati tetapi yang lain mungkin dapat bertahan dalam jangka waktu lama (lihat Tabel 1)
  • Pengaturan lalu lintas dalam farm dari ayam muda ke ayam tua dan dari kandang pemeliharaan ke kandang isolasi. Memetapkan daerah yang bebas dari pepohonan untuk memperkecil jalur serangga dan tikus ke kandang.
  • Gunakan alas kaki yang berbeda untuk daerah isolasi dan derah pemeliharaan ayam untuk mencegah transfer mekanik pada alas kaki dan harus didesinfektan di setiap tempat. Penggunaan desinfektan dalam bak celup kaki membantu mengurangi jumlah mokroorganisme.
  • Mencuci tangan setelah bekerja di tempat isolasi atau kelompok ayam yang berbeda. Setiap hari secara rutin bersihkan tempat pakan dan minum dengan desinfektan. Rencanakan untuk membersihkan total dan mendesinfeksi total kandang dan peralatan secara periodik paling tidak sekali dalam setahun.Gunakan waktu ini untuk melaksanakan prosedur pengendalian tikus. Perlu diingat bahwa pengeringan dan sinar matahari sangat efektif untuk membunuh organisme penyebab penyakit.
Tabel 1. Usia Organisme Penyebab Penyakit
------------------------------------------------------------------------------------------
IBD ------------------------------ Beberapa bulan
Coccidiosis ----------------------- Beberapa bulan
Duck Plaque ---------------------- Beberapa hari
Fowl Cholera --------------------- Beberapa minggu
Coryza---------------------------- Beberapa jam s.d. Hari
Marek Disease-------------------- Beberapa bulan s.d. Tahun
Newcastle Disease--------------- -Beberapa hari s.d. Minggu
Mycoplasmosis (Pullorum)---------Beberapa minggu
Avian Tuberculosis---------------- Beberapa tahun
----------------------------------------------------------------------------------------
Sumber : Poultry Fact Sheet 26, UC, USA
Diintisarikan dan diterjemahkan dari : Biosecurity Rules for Poultry Flock, by Joan S. jeffrey, Extension Poultry Veterinarian, University of California, Davis, CA, USA
 

Page 9 of 27