Welcome to Sarana Satwa

Perlukah Pemberian Obat Cacing (Deworming) Secara Teratur

  • PDF
  • Print
  • E-mail

Adanya cacing dalam suatu peternakan ayam terutama pada ayam petelur maupun pembibit merupakan hal yang wajar. Pada dasarnya cacing dapat menyerang ayam semua umur, tetapi tidak akan menimbulkan kematian. Secara ekonomis cacing sangat merugikan peternak karena menyebabkan turunnya berat badan dan produksi telur serta naiknya rasio konversi pakan.

Ayam yang terinfestasi cacing mempunyai kondisi tubuh yang rentan dan mudah menjadi stress. Kondisi demikian menyebabkan beberapa organisme bakteri yang biasanya normal dan tidak patogen dapat berubah menjadi pathogen dan ganas. Jadi kematian pada ayam penderita bukanlah disebabkan karena cacing itu sendiri.
Paling sedikit ada 4 spesies cacing yang sering menyerang dan merugikan pada ayam, yaitu:
  • Ascaridia galli (Cacing gilig besar),
  • Heteraxis gallinae (cacing caecal),
  • Capillaria sp (cacing rambut)
  • Dan beberapa spesies cacing pita seperti: Raillietina echinobothrida.
Cacing gilig besar dan cacing caecal merupakan spesies cacing yang tidak memerlukan induk semang antara/hospes intermedier dalam siklus hidupnya, sedang cacing rambut dan cacing pita memerlukan hospes intermedier Seperti : lalat rumah, semut, kecoa, cacing tanah, siput dalam siklus hidupnya.
Ascaridia galli merupakan cacing yang paling sering ditemukan pada ayam. Cacing jantan dan betina hidup dalam lumen usus kecil dan menyerap vitamin B12 - sehingga ayam terlihat pucat. Panjang dan lebar cacing jantan adalah : 50 - 75 1 mm dan 0,5 - 1 mm, sedang cacing betina : 60 - 110 mm dan 0,9 - 1,8 mm. Cacing ini tebal, terdiri dan 3 lapis, putih kekuningan dan mempunyai 3 buah bibir. Telur tidak bersegmen dengan ukuran 73-92 µ x 45 –57 µ.
Heteraxis gallinae adalah cacing yang hidup dalam sekum, lebih kecil dan cacing Ascaris. Panjang cacing jantan : 7 - 13mm, cacing betina 10- 15mm. Telur berdinding licin dan tebal dengan ukurán 65 - 80 µ x 35 - 46 µ. Cacing caecal akan menyebabkan radang dan penebalan dinding sekum serta perdarahan pada mukosa sekum dan Sebagai karier terjadinya Histomonosis. Ayam yang terkena Histomonosis / blackhead / infectious enterohepatitis akan terlihat fokal nekrotik pada hati dan ulserasi pada sekum.
Capilaria sp tinggal di dalam dinding usus, ukurannya kecil, halus seperti rambut dan hidup menghisap darah. Panjang cacing jantan 9 - 25 mm dan cacing betina 10,5 - 80 mm dengan ukuran telur 48-65 µ x 23 -28 µ. Cacing rambut memerlukan cacing tanah dalam siklus hidupnya.
Cacing pita hidup dalam saluran pencernaan, dan untuk melangsungkan hidupnya memerlukan induk semang antara seperti : lalat rumah, semut, kecoa, siput dan kumbang. Ada 7 spesies cacing pita yang sering menyerang ayam. Bentuk cacing ini besar, datar, putih bersegmen-segmen seperti pita. Panjang cacing jantan ada yang mencapai 15 - 25 cm.
Gejala-gejala cacingan
Infestasi cacing apa pun dapat menimbulkan gejala klinis yang hamper sama, seperti: berat badan turun, lesu, lemah, kurus, pucat, sayap terkulai dan kotor, diare, penurunan produksi telur dan fertilitas, pemborosan penggunaan makanan atau naiknya rasio konversi pakan. Ayam penderita cacingan ringan masih tampak sehat, ayam penderita cacingan berat akan menyebabkan gejala klinis yang jelas. Berat ringannya infestasi cacing tergantung pada jumlah, macam dan jenis cacing yang terdapat dalam tubuh ayam.
Siklus hidup
Siklus hidup cacing Ascaria sederhana dan langsung. Satu ekor cacing betina dapat menghasilkan 5.000 telur tiap hari dalam keadaan tanpa embrio.
Satu telur saja yang termakan oleh ayam dapat menjadi cacing dewasa. Pada tempat yang lembab dengan temperatur 32,2° - 38,8°C dan terhindar dan sinar matahari telur cacing mengalami embrionisasi menjadi telur infektif dalam waktu 12 - 15 hari dan memerlukan waktu 35 hari untuk menyelesaikan daur hidupnya.
Pencegahan terhadap cacing
Lingkungan merupakan faktor penting terjadinya penyakit cacing pada ayam Kandang yang bersih, litter selalu kering dan bersih, sering diaduk-aduk, ditambah sekam lagi, pemberian vitamin A dan B komplek, dan isi kandang tidak terlalu padat merupakan usaha yang perlu dilakukan untuk mencegah dan mengurangi cacingan pada ayam.
Pengobatan
Obat cacing yang beredar di pasaran dengan berbagai nama merk dagang umumnya berisi piperazine, baik perazine citrat, piperazine hexahydrate maupun piperazine dihydrochlorida. Dosis yang biasa digunakan adalah 200 - 500 mg/kg BB. Piperazize hanya efektip untuk pengobatan terhadap cacing A.galli. Piperazine bekerja dengan membendung aksi asetilkolin pada sambungan syaraf ototnya, sehingga cacing menjadi lumpuh dan dikeluarkan oleh kerja peristaltik usus, akhirnya mati.
Cacing caecal diobati dengan phenothiazine, cacing rambut dengan methyridine, sedang obat cacing berspektrum luas seperti levamizole dan oksibendazole efektip melawan cacing gilig besar, cacing caecal dan cacing rambut.
Untuk cacing pita hanya efektip jika diobati dengan Di-N- butyl laurat 500 mg/kg BB, atau dengan Dichlorophen 300 mg/kg BB.
Kesimpulan
Obat cacing baik diindikasikan Sebagai pencegahan maupun pengobatan tidak perlu diberikan sekiranya peternak yakin bahwa cacing belum muncul.
Keyakinan ini diperoleh dengan tidak adanya gejala yang tampak dalam peternakannya.
Pemberian obat cacing yang disarankan, biasanya 5 - 8 minggu sekali dengan pemberian pertama kali pada umur 4 - 5 minggu. Tetapi yakinlah bahwa dengan manajemen dan lingkungan yang baik, maka pemberian obat cacing tidak perlu sesuai dengan program yang disarankan. Bisa saja pemberian obat cacing pertama pada umur 10 minggu atau dalam waktu yang lebih lama lagi,karena pada umur itulah baru saat yang tepat memberikan obat cacing. Begitu pula pemberian obat cacing kedua, ketiga dan seterusnya bisa dilakukan 6 – 8 minggu berikutnya atau dalam waktu yang lebih lama lagi.
Jumlah obat cacing yang diberikan pada masa starter, growing maupun laying tidaklah sama. Pada masa laying dengan berat badan ayam yang semakin bertambah, tentunyajumlah obat yang diberikan lebih banyak.
Ada 3 hal yang perlu diperhatikan dalam memberikan obat cacing, yaitu :
  1. Sudah tiba saatnya atau belum,
  2. Sudah tepatkah dosisnya (mg/kg BB x jumlah ayam) dan
  3. Sudah sesuaikah isi obat cacing dengan jenis cacingnya.
Jika 3 hal di atas diperhatikan dengan baik, maka peternak akan lebih efisien dan efektif memberikan obat cacing tanpa mengurangi produktivitasnya.
sumber :
Penulis . Drh. Mukhlis
 

SWOLLEN HEAD SYNDROME (SHS)

  • PDF
  • Print
  • E-mail

SWOLLEN HEAD SYNDROME (SHS) adalah Salah Satu Penyakit Immunosupresi Pemicu Timbulnya Gangguan Pernafasan Kompleks Pada Ayam.

Kejadian penyakit pernafasan, baik bersifat ringan atau cukup berat hampir selalu terjadi pada setiap periode pemeliharaan ayam. Hal ini disebabkan oleh berbagai faktor, dan dari banyak faktor yang ada tersebut, kebanyakan disebabkan oleh masih lemahnya paraktek manajemen dan upaya pengamanan biologis ditingkat peternak. Daya dukung lingkungan peternakan yang kurang memadai, menjadi salah satu faktor pendukung mudahnya ayam terinfeksi agen penyakit pernafasan tertentu yang bersifat immunosupresi, dimana penyakit pernafasan yang bersifat immunosupresi tersebut dapat memicu timbulnya infeksi penyakit pernafasan lain, sehingga gangguan pernafasan pada ayam yang terinfeksi cenderung menjadi lebih kompleks.

Salah satu penyakit dengan gejala kebengkaan pada kepala ayam, yang sering diistilahkan dengan “Swollen Head syndrome”, merupakan salah satu penyakit pernafasan yang disebabkan oleh virus jenis “Avian pneumovirus”. Pada dasarnya infeksi dari virus itu sendiri tidak menimbulkan adanya gejala kebengkaan pada daerah kepala dari ayam yang terinfeksi, akan tetapi adanya kebengkaan pada daerah kepala ayam yang terinfeksi, disebabkan oleh adanya infeksi sekunder dari kuman lain, seperti; Pasteurella, E.coli, Mycoplasma atau Haemophillus. Penyakit SHS sendiri digolongkan kedalam salah satu penyakit penyebab immunosupresi (lokal immunosupresi).

Pola kejadian penyakit SHS di lapangan kebanyakan bersifat musiman dan selalu muncul pada lokasi peternakan ayam dengan kondisi manajemen dan sistem pemeliharaanya yang kurang memadai. Belakangan ini kejadian penyakit SHS di lapangan, baik pada peternakan komersial broiler maupun layer serta pada beberapa breeding farm, mengalami peningkatan dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya.

Meningkatnya kejadian SHS di lapangan, tidak terlepas dari masih lemahnya praktek manajemen, pengamanan biologis yang dijalankan peternak dan pola pemeliharaan ayam dengan banyak variasi umur dalam satu lokasi peternakan, serta kebanyakan peternak belum merasa perlu untuk melakukan vaksinasi terhadap SHS pada ayam yang dipeliharanya. Berkaitan dengan tidak diprogramkannya vaksinasi SHS oleh sebagian besar peternak, disebabkan masih adanya anggapan dari sebagian besar peternak, bahwa penyakit SHS tersebut merupakan penyakit yang bersifat musiman, tidak terlalu ganas dan tidak menimbulkan kematian yang tinggi, serta kurangnya pemahaman peternak, bahwa penyakit SHS dapat menjadi pemicu infeksi agen penyakit pernafasan lainnya.

Pada ayam broiler penyakit ini umumnya menyerang dan sering ditemukan pada umur antara 2 – 6 minggu. Faktor yang dapat menjadi pemicu terjadinya SHS lebih banyak disebabkan oleh daya dukung lingkungan peternakan yang kurang memadai, seperti sirkulasi udara yang kurang baik, kepadatan ayam cukup tinggi dan kandang yang pengap, serta tingginya kadar ammonia dalam kandang.

Gejala awal dari ayam yang terserang penyakit pernafasan secara umum hampir sama, yakni mulai dari adanya kelesuan, menurunnya tingkat konsumsi pakan, serta adanya gejala bersin-bersin dan mata berair. Namun ada gejala yang bersifat khas untuk ayam yang terserang SHS yakni adanya kebengkaan kelenjar air mata dan bila disertai adanya infeksi sekunder oleh kuman E.coli atau kuman lainnya dapat menyebabkan terjadinya “oedema subcutan” pada daerah kepala bagian atas sampai pada daerah 1/3 leher bagian atas. Kebengkakan biasanya mulai dari daerah sekitar kelopak mata bagian atas, kepala bagian atas, kemudian berlanjut ke jaringan “intermandibular” dan pial. Mata dari ayam yang menunjukkan kebengkaan di daerah fascialnya hampir tertutup, dengan pupil nampak mengalami dilatasi, sehingga nampak seperti melotot. Terkadang disertai adanya leleran pada mata dan hidung, bila diikuti oleh infeksi sekunder dari kuman penyebab penyakit Coryza atau CRD.

Pada ayam yang kepalanya bengkak tersebut, sering nampak lesu dengan meletakan kepalanya di lantai kandang, sehingga akan memperparah keadaanya. Pada ayam broiler, bila murni terinfeksi virus penyebab SHS kematiannya tergolong rendah berkisar antara 1 - 5%, kematian yang lebih tinggi dapat terjadi bila diikuti infeksi sekunder oleh kuman seperti E. coli atau Mycoplasma serta kuman atau virus yang bersifat ganas lainnya.

Pada ayam broiler yang terserang SHS, dapat menyebabkan terjadinya stagnasi dari penambahan bobot badannya. Bahkan pada kondisi yang sangat parah dapat menyebabkan terjadinya penyusutan bobot badan dibandingkan dengan berat badan sebelum terjadinya serangan. Pada ayam petelur, kebanyakan menyerang pada ayam pullet menjelang produksi atau ayam masa puncak produksi. Kematian dari ayam yang terserang SHS pada ayam tipe petelur sangat rendah, berkisar 0,1% - 0,5%, namun kerugian ekonomis yang cukup tinggi disebabkan oleh adanya gangguan produksi telur antara 5 – 30%, tergantung ada atau tidaknya infeksi sekunder serta daya dukung lingkungan peternakan.

Sesuai dengan target infeksi dari virus penyebab SHS, sangat terbatas jaringan atau organ tubuh ayam yang dapat diamati mengalami perubahan atau lesi-lesi. Bagian yang mengalami lesi sebagian terbesar ditemukan pada sistem pernafasan bagian atas dan daerah sekitar kepala bagian atas. Pada daerah kepala yang mengalami kebengkaan, ditemukan adanya “oedema” dan peradangan pada jaringan “subcutan” serta adanya timbunan eksudat mukus sampai mukopurulen, tergantung jenis kuman yang menjadi agen infeksi sekundernya. Pada bawah kulit kepala bagian belakang atau disekitar “kranium”, sering ditemukan adanya peradangan dan timbunan eksudat mukopurulen.

SHS salah satu pemicu timbulnya gangguan penyakit pernafasan

Swollen Head Syndrome sebagai salah satu penyakit pernafasan yang bersifat infeksius, dapat memicu timbulnya infeksi sekunder dari agen penyakit pernafasan lain, sehingga gangguan pernafasan yang timbul pada ayam yang terinfeksi SHS tersebut menjadi lebih kompleks. Hal ini dapat terjadi didasarkan atas sifat immunosupresi dan stress yang ditimbulkan oleh infeksi virus penyebab SHS tersebut. Penyakit SHS dinyatakan bersifat immunosupresi, karena infeksi yang ditimbulkan pada saluran pernafasan bagian atas, menyebabkan juga terjadinya kerusakan pada sistem dan kelenjar pertahanan lokal yang ada dalam saluran pernafasan bagian atas tersebut. Sehingga dengan adanya kelainan pada sistem pertahanan lokalnya tersebut, pada saat yang bersamaan akan memicu kuman lain yang ada dalam tubuh ayam mudah menjadi ganas dan menimbulkan infeksi serta kerusakan jaringan yang lebih luas dan parah. Dengan adanya infeksi sekunder pada ayam yang terinfeksi virus penyebab SHS tersebut dapat terlihat adanya gejala gangguan pernafasan yang lebih kompleks serta seringkali dibarengi dengan adanya gejala kebengkaan pada kepalanya.

Kelompok ayam yang sebelumnya tidak pernah diberikan vaksinasi terhadap SHS, dimana dari hasil pemeriksaan secara serologis terdeteksi adanya titer antibodi terhadap SHS serta didukung dengan adanya gejala klinis yang dapat diamati, seringkali pada kelompok ayam yang terinfeksi virus SHS tersebut, diikuti oleh adanya infeksi penyakit pernafasan lain, seperti CRD, Kolibasilosis atau Coryza.

Adanya infeksi sekunder menyebabkan ayam mengalami gangguan pernafasan yang lebih kompleks. Sehingga seringkali upaya pengobatan yang dilakukan di lapangan tidak membuahkan hasil memuaskan. Sebagai contoh yang sering dialami oleh peternak, bila ayamnya terserang SHS dimana terkomplikasi dengan Kolibasilosis, setelah dilakukan pengobatan ayam tersebut nampak sembuh, namun selang beberapa lama gejala yang sama kambuh kembali. Hal ini dapat terjadi, karena obat atau antibiotika yang diberikan sebagai pengobatannya, hanya menyembuhkan terhadap infeksi kuman penyebab Kolibasilosisnya saja, bukan terhadap infeksi yang disebabkan oleh virus penyebab SHS-nya. Sehinga seringkali kesan yang timbul pada para peternak, menyatakan obat yang digunakan untuk pengobatan terhadap SHS kualitasnya kurang baik.

Dari ayam yang terinfeksi virus SHS, problem gangguan pernafasannya menjadi lebih kompleks dan cenderung jadi lebih parah serta sulit diatasi, bila pada saat bersamaan kondisi lingkungan peternakannya kurang mendukung, seperti kepadatan ayam dalam kandang cukup tinggi, kandang yang lembab dan pengap, atau sangat berdebu, sirkulasi udara yang kurang baik serta tingginya kadar ammonia dalam kandang.

Pada beberapa lokasi sentra peternakan ayam petelur, cukup banyak peternak melaporkan dan mengeluhkan terjadinya kebocoran vaksinasi terhadap Coryza yang telah dilakukannya. Dimana kebanyakan dari mereka menduga vaksin Coryza yang diberikan pada ayamnya sudah tidak protektif lagi. Sehingga kebanyakan dari mereka mencoba beralih menggunakan vaksin Coryza merk lain dari yang biasanya mereka sering pakai, bahkan mereka juga mencoba menggunakan vaksin Coryza dengan kandungan antigen-nya lebih lengkap, yakni mengandung 3 jenis antigen (serotipe A, B dan C), namun kenyataan yang dialaminya masih saja ditemukan adanya kebocoran terhadap Coryza dari vaksinasi yang telah dilakukannya tersebut.

Kasus SHS yang terjadi pada peternakan ayam petelur tersebut disinyalir sebagai pemicu terjadinya kegagalan vaksinasi terhadap Coryza yang telah dilakukan oleh peternak. Hal ini didukung dengan data hasil pemeriksaan kasus di lapangan dan hasil pemeriksaan serologis terhadap kelompok ayam yang mengalami kebocoran dari vaksinasi terhadap Coryza. Dimana kelompok ayam yang mengalami kegagalan vaksinasi terhadap Coryza tersebut, sebelumnya tidak pernah dilakukan vaksinasi terhadap SHS, akan tetapi dari hasil pemeriksaan serologisnya terkandung titer antibodi terhadap SHS pada serum darahnya.

Penanggulangan SHS di Lapangan.

Untuk menghindari ancaman atau gangguan terhadap penyakit apapun, pertahanan yang paling utama adalah dengan menjalankan praktek manajemen yang baik dibarengi dengan upaya sanitasi dan desinfeksi serta pengamanan biologis lainnya secara ketat, disamping juga memberikan program kesehatan dan vaksinasi secara memadai pada ayam yang dipelihara, tentunya disesuaikan dengan tingkat tantangan kuman atau virus penyakit yang ada dimasing-masing lokasi peternakan. Untuk ayam broiler yang dipelihara pada daerah resiko tinggi dan sering terjadi infeksi virus SHS perlu dipertimbangkan untuk diprogramkan vaksinasinya. Pada ayam broiler umumnya diberikan vaksin aktif pada umur antara 4 – 14 hari, tergantung situasi dan kondisi lingkungan di masing-masing peternakan. Vaksinasi pada ayam petelur diberikan pada umur 8 – 12 minggu dan diulangi pada umur 17 - 18 minggu. Untuk ayam breeder, vaksinasi diberikan pada umur 8 – 12 minggu dan diulangi pada umur 16 – 18 minggu atau 4 minggu sebelum periode awal produksi.

Pengobatan terhadap SHS pada ayam yang terinfeksi, lebih ditujukan untuk mencegah dan sekaligus mengobati terjadinya infeksi bakterial seperti oleh E. coli, Pasteurell, Haemophilus atau Mycoplasma. Pengobatan dapat dilakukan dengan pemberian antibiotika. Suportive therapy dengan pemberian multivitamin + asam amino konsentrasi tinggi, lebih ditujukan untuk mempercepat proses kesembuhannya.

Untuk mencegah infeksi sekunder yang lebih parah oleh kuman E. coli yang sering mengikuti infeksi virus penyebab SHS, disamping pemberian antibiotika sebagai pengobatan saat ayam terserang SHS, faktor kualitas air juga sangat perlu untuk diperhatikan. Air merupakan media yang sangat baik untuk berkembangbiak dan sekaligus penularan kuman E. coli, oleh karena itu sangat perlu untuk diperhatikan dan dilakukan sterilisasi, salah satunya dengan cara klorinasi untuk membunuh kuman E. coli maupun agen penyakit lainnya yang ada dalam air tersebut.

 

sumber : www.majalahinfovet.com

 

KAITAN PROBIOTIK DENGAN SISTEM IMUN

  • PDF
  • Print
  • E-mail
Saluran pencernaan secara alami merupakan suatu area yang dikolonisasi oleh berbagai macam bakteri dalam jumlah luar biasa banyak. Pernahkah terbayangkan bahwa ternyata jumlah bakteri yang mengkolonisasi tubuh terutama dalam saluran pencernaan berjumlah 10 kali lipat dibandingkan jumlah sel tubuh kita sendiri!. Sehingga bila dikalkulasikan maka sebenarnya 90% dari sel yang terdapat pada tubuh adalah mikroorganisme. Mayoritas bakteri ditemukan pada usus besar (sekitar 1011-12 bakteri/g). Sedangkan jumlah bakteri pada usus kecil lebih sedikit (sekitar 104-7 bakteri/ml). Spesies yang dominan pada usus besar berasal dari golongan bifidobacteria dan bacteroides sedangkan lactobacilli dan streptococci mendominasi daerah usus kecil. Bakteri-bakteri ini umumnya kita kenal sebagai bakteri baik.

Tidak cukup menghadapi berbagai jenis bakteri itu saja, saluran pencernaan pun terus menerus mengalami paparan sejumlah besar antigen dari makanan dan dari partikel-partikel yang terhirup kemudian sampai ke dalam sistem pencernaan . Oleh karena itu, jelas dibutuhkan suatu benteng pertahanan yang kokoh untuk menghadapi semuanya itu dan bukanlah menjadi suatu hal yang mengejutkan apabila ternyata 80% sistem imun tubuh ditemukan di sekitar area saluran pencernaan dan terutama pada sekitar usus kecil.

Melalui banyak penelitian, akhirnya dapat difahami bahwa memang salah satu aktivitas mikroorganisme baik di dalam saluran pencernaan adalah menstimulasi sistem imun. Walaupun demikian, sebenarnya mekanisme bakteri baik dalam menstimulasi sistem imun sangatlah kompleks dan hingga saat ini masih banyak hal yang belum dapat dijelaskan secara rinci. Namun, suatu model untuk menjelaskan sistem yang rumit ini telah berhasil disusun oleh sekelompok tim peneliti dari Argentina yang beranggotakan Galdeano dkk. Ada 3 mekanisme yang diajukan oleh mereka, yaitu:

Probiotik mengalami kontak secara langsung dengan sel-sel epitel saluran pencernaan (IEC), yang mensekresikan berbagai sitokinin seperti Interleukin-6 (IL-6) dan menginisiasi komunikasi dengan sel-sel imun di sekitarnya.
Melalui sel-sel epitel terspesialisasi yaitu sel-sel M (MC) yang ada di sepanjang saluran pencernaan. Makrofage (MQ) atau sel-sel dendritik (DC) adalah sel-sel pertama di bawah sel-sel M yang secara langsung mengalami kontak dengan probiotik atau fragmen-fragmen antigennya dan menghasilkan sitokinin.
Sel-sel dendritik (DC) pada lamina propria saluran pencernaan ditemukan dapat memanjangkan dendrit mereka di antara sel-sel epitel saluran pencernaan (IEC) dan mungkin dapat secara langsung mengambil sampel dan memproses probiotik pada lumen saluran pencernaan.

Saat ini telah diketahui pula bahwa sebenarnya bakteri baik hidup maupun mati dapat memberikan efek stimulasi imun yang sama secara in vitro. Untuk beberapa efek imunomodulasi memang diperlukan integritas sel dalam hal ini berarti sel yang masih hidup, tetapi untuk beberapa kasus yang lain, komponen-komponen bakteri tersebut sudah merupakan stimulan dengan sendirinya. Sel-sel hidup memang lebih disukai karena dengan demikian dapat menekan pertumbuhan bakteri patogen di dalam saluran pencernaan. Sejauh ini komponen aktif dari bakteri yang diduga dapat memberikan efek imunomodulasi adalah DNA dan komponen dinding selnya.
Sumber:
  • Cedgard L dan Widell A, 2011. The Intestinal Microflora, the Immune System and Probiotics. http://www.wasamedicals.com/pdf/ref_smj_eng.pdf [9 November 2011]
  • Galdeano CM, LeBlanc AM, Vinderola G, Bonet BME, Perdigon G. 2007. Proposed model: Mechanisms of immunomodulation induced by probiotic bacteria. Clin Vacc Immunol 14, 485-492.
  • Rizzello V, Bonaccorsi I, Dongarra ML, Fink LN, Ferlazzo G. 2011. Role of Natural Killer and Dendritic Cell Crosstalk in Immunomodulation by Commensal Bacteria Probiotics. Journal of Biomedicine and Biotechnology Article ID 473097
 

FERMENTASI DEDAK PADI

  • PDF
  • Print
  • E-mail

Dedak padi merupakan hasil samping penggilingan padi. Dedak padi tidak dapat disimpan lama. Keadaan ini disebabkan karena ketidakstabilan dedak padi selama penyimpanan karena aktifitas enzim. Aktifitas enzim ini dapat menyebabkan kerusakan atau ketengikan oksidatif pada komponen minyak yang ada dalam dedak padi. Teknologi penyimpanan dedak padi dengan cara fermentasi anaerob dapat dilakukan untuk mengatasi permasalahan tersebut di atas. Teknologi ini dapat memperpanjang waktu simpan dedak padi. Teknologi ini juga dapat menurunkan kandungan asam fitat dedak padi sehingga penggunaannya dapat lebih maksimal dalam ransum. Asam fitat mampu berikatan dengan mineral, protein dan pati membentuk garam atau senyawa komplek, seperti: fitat-mineral, fitat-protein, fitat mineral protein dan fitat-mineral-protein-pati sehingga mineral, protein dan pati yang terkandung dalam ransum tidak dapat optimal digunakan oleh ternak.
Laporan Irianingrum (2009) menyatakan bahwa :

  • Perlakuan fermentasi dan lama penyimpanan dapat menurunkan kandungan asam fitat dari 6,70% menjadi 2,07%
  • Meningkatkan nilai Koefisien Cerna Bahan Kering (KCBK) dari 63,06% menjadi 69,72%.

Fermentasi merupakan proses pemecahan senyawa organik menjadi senyawa sederhana dengan melibatkan mikroorganisme. Tujuan fermentasi adalah untuk meningkatkan kandungan nutrisi suatu produk sehingga menjadi lebih baik. Selain itu juga untuk menurunkan zat anti nutrisi. Teknologi fermentasi anaerob yang digunakan pada pengawetan dedak padi dapat memanfaatkan starter bakteri asam laktat (BAL). Penambahan bakteri asam laktat ini akan mempercepat proses fermentasi. Bakteri ini tidak bersifat patogen dan aman bagi kesehatan sehingga sering digunakan dalam industri pengawetan makanan dan minuman (Hardiningsih et al., 2006), seperti: yogurt, minuman fermentasi, mentega fermentasi, keju, saos, kedelai dan sake (Januarsyah, 2007). Bakteri asam laktat dapat menjaga mutu makanan karena dapat mengendalikan pertumbuhan bakteri pengganggu dan pembusuk dengan memproduksi asam organik, hidrogen peroksida, diasetil dan bakteriosin.
Bakteri asam laktat, baik yang bersifat homofermentatif maupun heterofermentatif memanfaatkan substrat yang tersedia pada lingkungannya dengan hasil akhir berupa energi dan asam-asam lemah, seperti: asam laktat, asam asetat serta CO2. Keberadaan asam laktat sebagai produk metabolisme dapat bersifat sebagai salah satu faktor penghambat bagi pertumbuhan mikroorganisme lain yang bersifat tidak baik (Lunggani, 2007).
Bakteri asam laktat mempunyai kemampuan membinasakan bakteri saluran pencernaan yang patogen karena menghasilkan D, L atau DL asam laktat yang terfermentasi (Huis in’t Veld et al., 1994).
Asam laktat yang dihasilkan selama proses fermentasi akan berperan sebagai zat pengawet sehingga dapat menghambat pertumbuhan mikroorganisme pembusuk.
Bakteri asam laktat secara alami ada di tanaman sehingga dapat secara otomatis berperan pada saat fermentasi,, tetapi untuk mengoptimumkan fase ensilase dianjurkan untuk melakukan penambahan aditif, seperti inokulum bakteri asam laktat dan aditif lainnya untuk menjamin berlangsungnya fermentasi asam lakat yang sempuma (Ridwan et al., 2005).
SnS PRO, probiotic solution adalah probiotik dengan koloni bakteri asam laktat yang bersifat heterofermentatif, karena mengandung beberapa jenis bakteri asam laktat dan bakteri non pathogen lain yang sangat berguna dalam membantu proses pencernaan dan peningkatan kualitas ransum yang dapat dipergunakan sebagai starter (populasi mikroba dalam jumlah dan kondisi fisiologis yang siap diinokulasikan pada media fermentasi.) sekaligus juga sebagai aditif untuk kesempurnaan proses fermentasi.

Jika anda tertarik untuk melakukan fermentasi dedak padi kami akan mengirimkan panduan fermentasi dedak padi. Kirimkan permintaan anda melalui email . This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it

(dari berbagai sumber)

 

Page 10 of 27