Welcome to Sarana Satwa

PROBIOTIK | Hubungan Mikroflora Usus Dengan Metabolisme Dalam Saluran Pencernaan

  • PDF
  • Print
  • E-mail
SALURAN pencernaan semua hewan yang dimulai dari mulut sampai ke anus berfungsi mencerna, mengabsorbsi, dan mengeluarkan sisa ransum yang tidak tercerna.
Alat pencernaan unggas termasuk ke dalam kelompok ternak non ruminansia atau monogastrik (ternak berlambung tunggal sederhana).
Menurut Patrick & Schaible (1980), alat pencernaan unggas digambarkan sesuai dengan adanya tujuh fungsi utama dari bagian-bagian alat pencernaan tersebut yang dihubungkan dengan ransum yang diberikan yaitu :
  • Mengumpulkan dan membuat bagian-bagian kecil dari ransum yang besar.
  • Menghaluskan ransum dengan berfungsinya enzim pencernaan.
  • Menciptakan lingkungan yang sesuai untuk mikroba usus.
  • Meningkatkan proses sintesa di dalam usus.
  • Menjaga keseimbangan air dalam tubuh.
  • Mengabsorbsi, mengeluarkan, dan mendaur ulang substansi dalam pencernaan.
  • Memproduksi dan mengumpulkan ekskreta.
Proses utama dari pencernaan adalah secara mekanik, enzimatik, ataupun mikroba.
Proses mekanik Terdiri dari penelanan makanan ke dalam mulut dan gerakan peristaltic alat pencernaan karena kontraksi otot usus.
Proses Pencernaan secara enzimatis / kimiawi Dilakukan oleh enzim yang dihasilkan sel-sel kelenjar dari bagian alat saluran pencernaan, berupa getah-getah pencernaan.
Disamping itu enzim dapat pula dihasilkan oleh mikroba usus yang dapat berasal dari ransum (Thilman, dkk. 1989). Keasaman bagian-bagian alat pencernaan mempunyai efek terhadap kehidupan mikroba pencernaan yang erat sekali hubungannya dengan produk enzim pencernaan maupun enzim produk mikroorganisme dari ransum. Komponen ion H+ dapat bersifat membunuh bakteri pathogen ditambah dengan suasana pH yang
rendah.

Mikroflora Usus Hubungannya Dengan Metabolisme Dalam Saluran Pencernaan

Sissons (1989) mengemukakan beberapa mekanisme, bahwa penyerapan lemak, karbohidrat dan protein dapat dipengaruhi oleh kehadiran mikroflora usus.
Hubungan antara mikrobial dan metabolik saluran pencernaan sedikit dipelajari. Secara fisiologis pengaruh tersebut ditunjukkan melalui mekanisme :
  1. Mereduksi protein turnover dan kebutuhan energi dalam usus sebagai akibat dari menurunya proliferasi sel crypt dan berkurangnya masa usus.
  2. Sedikit mengurangi permintaan protein dalam hati untuk melakukan proses imunologis.
  3. Meningkatkan jumlah persediaan asam amino untuk jaringan lain, terutama untuk sintesis otot rangka.
  4. Mengurangi jumlah kehilangan nitrogen saat usia lemah, sekresi mucin, dan saat tidak sempurnanya perlindungan protein menuju lumen usus.
  5. Meningkatkan kecernaan semu dan penyerapan nitrogen.
Lebih jauh pada masa sekarang ini dikembangkan penggunaan probiotik karena dapat pula bermanfaat dalam :
  • meningkatkan aktivitas enzim sukrase, laktase, tripeptidase dalam jonjot vili usus.
  • kehadiran probiotik (bakteri menguntungkan) menyebabkan adanya bakteri patogen (bakteri merugikan) dalam usus tidak mebahayakan inangnya. Gangguan kronis dan akut hanya terjadi jika over populasi mikroba patogen (bakteri merugikan).
Mikroflora Dan Perlawanan Koloni
Saluran pencernaan ternak merupakan tempat persembunyian (tempat hidup) mikroflora yang segera terbentuk setelah dilahirkan.
Mikroflora indigenous dewasa akan menjadi barrier (pembawa) koloni mikroorganisme pathogen seperti Salmonella dan E. coli.
Mikroflora yang menyokong kesehatan hewan terdiri dari berbagai macam spesies mikroorganisme seperti Lactobaccilus, Bifidobacterium dan Bacteroides yang sebagian besar merupakan mikroorganisme yang predominan. Semua mikroba tersebut 90%-nya tergolong flora. Kelompok lainnya adalah Enterobactericeae, Enterococcus, dan Clostridium. Dalam kesehatan hewan, rasio jumlah mikroorganisme pada kelompok bakteri tersebut adalah penting.
Diketahui bahwa mikroflora saluran pencernan hewan dapat saling berpengaruh, misalnya oleh ingesti mikroorganisme lainnya. Hasil perlakuan tersebut dapat merubah jumlah keberadaan mikroorganisme, menghasilkan lingkungan yang cocok bagi bagi kolonisasi mikroba, yang pada akhirnya berpotensi bagi berkembangnya mikroorganisme pathogen.

Faktor yang mempengaruhi kolonisasi mikroorganisme, dapat dikelompokan menjadi :
  1. Fraktor yang berhubungan dengan inangnya (suhu tubuh, pH, dan tingkat potensioksidasi reduksi, asam lambung, enzim, dan antibodi).
  2. Faktor yang berhubungan dengan interaksi mikroba (efek antagonistik, bakteriofag, bakteriosin).
  3. Makanan dan faktor lingkungan (seperti manosa, laktosa, dan karbohidrat lainnya dan atau serat makanan serta faktor stress lingkungan).
Penggunaan probiotik dan produk mikroflora kompetitif dapat mempengaruhi faktor-faktor tersebut diatas. Salah satunya adalah keberhasilan produk mikroflora kompetitif dalam menyerang Salmonella dan clampylobakter pada unggas yang telah digambarkan dalam literature ini.
Pengertian Dan Istilah Probiotik
Probiotik atau “Probiotics” berasal dari bahasa Yunani yang artinya “untuk hidup” (pro= untuk dan biotic = hidup). Istilah lain dari probiotik yang sering ditemukan adalah “Direct-fed microbials”, “Life microorganism”, “Life culture”.
Istilah dan pengertian probiotik saat ini telah banyak dikemukakan para ahli. Jadi istilah probiotik ini, benar-benar bertolak belakang dari istilah “antibiotics”.
Istilah kata probiotik pertama kali dipopulerkan oleh Lilley dan Stillwell (1965), untuk menjelaskan suatu zat yang disekresikan oleh mikroba yang mampu menstimulasi pertumbuhan.
Akan tetapi dengan perkembangan ilmu pengetahuan yang begitu pesat, maka arti probiotik menjadi lebih luas.
  • Sperti (1977) menjelaskan bahwa probiotik adalah ekstrak jaringan tubuh yang menstimulir pertumbuhan.
  • Parker (1974) mendefinisikan probiotik berdasarkan hasil penelitiannya bahwa probiotik adalah mikroba dan zat yang dapat menyebabkan mikroba dalam saluran pencernaan menjadi seimbang.
  • Fuller (1989) membuat definisi yang lebih sempurna dan bisa diterima oleh semua pihak yaitu suatu produk yang mengandung mikroba hidup non-patogen, yang diberikan pada hewan untuk memperbaiki laju pertumbuhan, efisiensi konversi ransum, dan kesehatan hewan.

Kini mulai berkembang penggunaan probiotik sebagai pemacu pertumbuhan dan meningkatkan kesehatan.
Probiotik dalam penerapannya sebagai produk bioteknologi terdiri atas tiga jenis produk yaitu probiotik yang mengandung kultur bakteri, kultur khamir, dan kultur molds (kapang) serta kombinasinya.
Probiotik yang terdapat dalam saluran pencernan mampu :

  • Menetralisir toksin yang dihasilkan bakteri pathogen,
  • Menghambat pertumbuhan bakteri pathogen dengan mencegah kolonisasinya di dinding usus halus,
  • Mempengaruhi aktivitas enzim di usus halus,
  • Asimilasi kolesterol
  • Meningkatkan pertumbuhan serta performan ternak.

 

Probiotik tidak hanya menjaga keseimbangan ekosistem, namun juga menyediakan enzim yang mampu mencerna serat kasar, protein, lemak, dan mendetoksikasi zat racun atau metabolitnya.
Probiotik mempercepat/menahan aktivitas mikroba sehingga menyebabkan pH usus menurun. Hal ini akibat dari terbentuknya ammonia dan metabolisme empedu.


Mekanisme Kerja Probiotik

Mekanisme kerja probiotik dijelaskan oleh Soeharsono (1998) yang menyatakan bahwa probiotik merupakan mikroba hidup yang apatogen, yang mekanisme kerjanya mendesak mikroba nonindigenous keluar dari ekosistem saluran pencernaan, dan menggantikan lokasi mikroba pathogen di dalam saluran pencernaan. Karena probiotik berasal dari mikroba indigenous, maka proses translokasi yang terjadi berjalan secara alamiah di dalam ekosistem usus.

Mikroba pathogen non-indegenous merupakan benda asing, oleh karena itu didesak keluar dari saluran pencernaan.
Mekanisme probiotik ini dalam usus adalah dengan mempertahankan keseimbangan, mengeliminasi mikroba yang tidak diharapkan atau bakteri pathogen dari induk semang.
Jadi meknisme kerja probiotik sangat berbeda dengan mekanisme kerja antibiotik. Mekanisme kerja antibiotik dengan cara membunuh mikroba, baik pathogen maupun bakteri apatogen. Bila bakteri tidak dapat dibunuh, karena sudah resisten, maka harus digunakan antibiotic yang lebih keras lagi (wide spectrum), sehingga dalam istilah kedokteran, mikroba tersebut harus di “bomb”.
Zat yang terdapat dalam ekosistem usus dapat berasal dari bahan eksogenous (ransum) dan dapat berasal dari bahan endogenous (produk metabolisme yang harus dibuang).
Mikroba pada umumnya sangat aktif merombak zat yang terdapat  dalam kolon, dan hasil akhirnya adalah metabolit toksis, karsinogenik atau metanogenik, baik yang berasal dari bahan beracun, obat-obatan, steroid maupun metabolit dari bahan makanan. Metabolit toksik ini perlu segera dibuang, karena pada hewan yang peka, metabolit ini sering menyebabkan kerusakan mukosa usus, bahkan dapat terbentuk tumor atau penyakit lain.
Peranan probiotik dalam hal ini adalah mengencerkan mikroflora agar proses pembentukan zat toksik dikurangi, sehingga sebelum terbentuk toksik bahan tersebut sudah dibuang terlebih dahulu.
Penggunaan Probiotik
mikroorganisme yang digunakan hewan atau manusia, dan berpengaruh menguntungkan inangnya melalui perbaikan indigenous mikroflora. Hal tersebut karena produk probiotik dapat :
  1. Mengandung mikroorganisme hidup, seperti : sel-sel kering beku, atau dalam produk fermentasi.
  2. Memperbaiki status kesehatan manusia dan hewan (termasuk merangsang pertumbuhan hewan)
  3. Mempengaruhi mulut dan saluran pencernaan, juga saluran pernafasan atas (aerosal) dan saluran urogenital.

Penggunaan Probiotik pada Unggas

Lactobaccilus spp, merupakan penyusun sebagian besar mikroflora aerobic dalam saluran pecernaan dan mudah terpengaruh oleh antibiotik. Jika penggunaan antibiotic diturunkan maka bakteri akan resisten dan membentuk residu dalam organ dan jaringan burung oleh karena itu penggunaan probiotik perlu difikirkan. Perbedaan antara antibiotic dan probiotik antara lain dalam lamanya aksi.
Antibiotik aktif dalam waktu sebentar, sedangkan efek probiotik dapat berhari-hari bahkan berminggu-minggu. Nama “probiotik“ membingungkan dan beberapa tahun yang lalu pada diskusi panel peneliti di Eropa menyebut produk ini sebagai “Ecological Health Control Products” atau Produk pengontrol lingkungan yang sehat.
Potensi Bakteri Probiotik Tertentu Dalam Saluran Pencernaan Sebagai Antibiotik & Antibakteri
Dari sekian banyak manfaat keberadaan bakteri, satu hal yang menakjubkan adalah kemampuan/potensi bakteri yang bermanfaat sebagai antibiotik, antibakteri, antiviral, dan antifungal. Beberapa strain lactobasilus menghasilkan antibiotik yang dapat membunuh bakteri melalui penjagaannya dari serangan bakteri yang berbahaya. Cara lainnya adalah melalui kerja proteksi dengan menghambat pertumbuhan dan aktivitas mikroorganisme tanpa membunuhnya seperti halnya antibiotik. Dalam aktivitas proteksi ini juga termasuk memproduksi asam dan hidrogen peroksida (H2O2). Sebagai bukti aktivitas proteksi dalam saluran pencernaan.
Beberapa Organisme Bakteri Probiotik dan “Antibiotik” yang Dihasilkannya
  • Streptococcus lactis Antibiotik yang dihasilkan Nisin
  • Lactobacillus brevis Antibiotik yang dihasilkan Lactobrevin
  • Lactobacillus Antibiotik yang dihasilkan Acidolin; Acidophilin Lactobaccilin Lactocidin
  • Lactobacillus Plantarum Antibiotik yang dihasilkan  Lactolin
  • Lactobacillus Bulgaricus Antibiotik yang dihasilkan  Bulgarican
  • Bifidobacterium Bifidum Antibiotik yang dihasilkan  Bifidin
Ternak yang sehat mempunyai kekebalan alami untuk menyerang kolonisasi atau infeksi mikroorganisme pathogen. Interaksi flora dalam saluran pencernaan inang dapat merespon fenomena tersebut.
Setelah bertahun-tahun, kondisi produksi ternak berubah demikian pula karakteristik kekebalan alami pada ternak. Breeding dan peternakan menjadi lebih efisien dan kemudian digunakan ternak yang lebih produktif serta penggunaan senyawa antimikroba meningkat, sehingga metode produksi semakin intensif.
Perubahan ini mengarah kepada kondisi stress pada hewan, demikian juga terhadap defisiensi komposisi mikroflora dalam saluran pencernaan, sehingga kekebalan alami berkurang.
(dari berbagai sumber)

Last Updated on Thursday, 15 August 2013 01:36

 

FISIOLOGI PENCERNAAN DALAM ILMU MAKANAN

  • PDF
  • Print
  • E-mail

BEBERAPA species hewan adalah pemakan tumbuh-tumbuhan dan untuk makanannya tergantung keseluruhannya dari tumbuh-tumbuhan. Hewan-hewan tersebut dinamakan herbivora. Spesies lain makanannya hampir seluruhnya tergantung dari daging atau hewan lainnya. Spesies itu disebut karnivora. Spesies lainnya lagi memakan kedua-duanya, tumbuh-tumbuhan maupun daging. Ia disebut omnivora. Tanpa memperhatikan kebiasaan makannya, semua hewan tergantung dari tumbuh-tumbuhan (secara langsung atau tidak langsung) untuk sumber makanannya. Lebih daripada itu dapatlah kita katakan bahwa semua kehidupan hewan tergantung secara tidak langsung dari matahari dan makanannya, karena melalui pengaruh sinar matahari dan hijau daun tumbuh-tumbuhan mengubah unsur-unsur dari udara dan tanah ke dalam zat-zat makanan yang nantinya dapat digunakan sebagai makanannya. Jadi dengan tidak adanya energi dari matahari tidak akan ada makanan untuk tumbuh-tumbuhan dan manusia.

Hewan tidak menggunakan semua zat-zat makanan tumbuh-tumbuhan bagi berbagai proses tumbuh tepat seperti yang diperolehnya dari tumbuh-tumbuhan. Sebagian besar zat-zat makanan kompleks perlu dirombak (dicerna) menjadi senyawa-senyawa yang lebih sederhana sebelum zat-zat makanan tersebut dapat diserap dan digunakan. Spesies hewan yang berbeda-beda mempunyai saluran pencernaan yang disesuaikan terhadap penggunaan jenis makanan paling efisien yang mereka makan.Jadi herbivora berbeda dengan karnivora dan omnivora dalam anatomi dan fisiologi sistem pencernaan.

a. Jenis dan Kapasitas Sistem Pencernaan

Perbedaan anatomis dan perbedaan kapasitas dalam sistem pencernaan di antara spesies adalah lebih nyata secara fisis daripada secara gizi karena makanan dalam saluran pencernaan boleh dikatakan masih tetap diluar tubuh. Dalam proses pencernaan, zat-zat makanan masuk tubuh dengan cara penyerapan melalui dinding saluran pencernaan. Proses metabolik yang kemudian menggunakan zat-zat makanan yang diserap, kenyataannya adalah sama bagi semua spesies.

b. Anatomi dan Jenis Sistem Pencernaan

Saluran pencernaan terbentang dari bibir sampai dengan anus. Bagian-bagian utamanya terdiri dari mulut, hulu kerongkongan, kerongkongan, lambung, usus kecil dan usus besar. Panjang dan rumitnya saluran tersebut sangat bervariasi diantara spesies. Pada karnivora relatif pendek dan sederhana akan tetapi pada herbivora adalah lebih panjang dan lebih rumit. Pada beberapa herbivora (kuda dan kelinci) lambungnya relatif sederhana dan dapat disamakan dengan lambung karnivora sedangkan usus besarnya, terutama sekum lebih luas dan rumit dari yang dipunyai karnivora. Sebaliknya pada herbivora lain (sapi, kambing, domba), lambungnya (sistem berlambung majemuk) adalah besar dan rumit, sedangkan usus besarnya panjang akan tetapi kurang berfungsi.

Sistem pencernaan unggas berbeda dari sistem pencernaan mammalia dalam hal unggas tidak mempunyai gigi guna memecah makanan secara fisik. Lambung kelenjar pada unggas disebut proventrikulus. Antara proventrikulus dan mulut terdapat suatu pelebaran kerongkongan, disebut tembolok. Makanan disimpan untuk sementara waktu dalam tembolok. Kemudian makanan tersebut dilunakkan sebelumnya menuju ke proventrikulus. Makanan kemudian secara cepat melalui proventrikulus ke ventikulus atau empedal. Fungsi utama empedal adalah untuk menghancurkan dan menggiling makanan kasar. Pekerjaan tersebut dibantu oleh grit yang ditimbun unggas semenjak mulai menetas.

c. Pencernaan pada Unggas

Pencernaan adalah penguraian bahan makanan ke dalam zat-zat makanan dakam saluran pencernaan untuk dapat diserap dan digunakan oleh jaringan-jaringan tubuh. Pada pencernaan tersangkut suatu seri proses mekanis dan khemis dan dipengaruhi oleh banyak faktor.

Unggas mengambil makanannya dengan paruh dan kemudian terus ditelan. Makanan tersebut disimpan dalam tembolok untuk dilunakkan dan dicampur dengan getah pencernaan proventrikulus dan kemudian digiling dalam empedal. Tidak ada enzim pencernaan yang dikeluarkan oleh empedal unggas. Fungsi utama alat tersebut adalah untuk memperkecil ukuran partikel-partikel makanan.

Dari empedal, makanan bergerak melalui lekukan usus yang disebut duodenum, yang secara anatomis sejajar dengan pankreas. Pankreas tersebut mempunyai fungsi penting dalam pencernaan unggas seperti halnya pada spesies-spesies lainnya. Alat tersebut menghasilkan getah pankreas dalam jumlah banyak yang mengandung enzim-enzim amilolitik, lipolitik dan proteolitik. Enzim-enzim tersebut berturut-turut menghidrolisa pati, lemak, proteosa dan pepton. Empedu hati yang mengandung amilase, mamasuki pula duodenum.

Bahan makanan bergerak melalui usus halus yang dindingnya mengeluarkan getah usus. Getah usus tersebut mengandung erepsin dan beberapa enzim yang memecah gula. Erepsin menyempurnakan pencernaan protein, dan menghasilkan asam-asam amino, enzim yang memecah gula mengubah disakharida ke dalam gula-gula sederhana (monosakharida) yang kemudian dapat diasimilasi tubuh. Penyerapan dilaksanakan melalui villi usus halus.

Unggas tidak mengeluarkan urine cair. Urine pada unggas mengalir ke dalam kloaka dan dikeluarkan bersama-sama feses. Warna putih yang terdapat dalam kotoran ayam sebagian besar adalah asam urat, sedangkan nitrogen urine mammalia kebanyakan adalah urine. Saluran pencernaan yang relatif pendek pada unggas digambarkan pada proses pencernaan yang cepat (lebih kurang empat jam).


Sumber : Anggorodi, 1985

 

PENYAKIT SAPI GILA / Bovine Spongiform Encephalopathy(BSE)

  • PDF
  • Print
  • E-mail

Penyakit sapi gila pertama kali ditemukan di Ingris pada tahun 1985, Penyakit sapi gila (Bovine Spongiform encephalopathy/BSE) adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh Prion (Proteinaceuous infectious particles) yaitu suatu protein tanpa asam nukleat yang infektif. Prion ini tahan terhadap panas, formalin 1% juga b-propiolaction dengan konsentrasi 1 %.
Penyakit sapi gila ini bersifat zoonosis sehingga dapat menyerang manusia yang dikenal dengan Subacute Spongiform
Encephalopathy (SSE)

Ruminansia sapi, kerbau, babi, kambing dan domba adalah hewan-hewan yang mudah terinfeksi penyakit ini. Pada sapi kejadian ini sering timbul ketika hewan tersebut berumur tiga sampai lima tahun.

Penyakit sapi gila dapat ditularkan sebagian besar karena pemberian pakan ternak dari bahan makanan ternak yang berasal dari daging atau tulang yang telah terinfeksi oleh penyakit sapi gila, juga dapat melalui peralatan kandang, kendaraan pengangkut maupun alat penggiling makanan. Selain itu penyebaran penyakit ini juga dapat ditularkan dari induk yang bunting kepada anaknya.

Gejala klinis

  • Depresi
  • Penurunan produksi susu
  • Ambruk
  • Ataxia
  • Inkoordinasi
  • Tremor atau kejang-kejang
  • keluar air liur yang terus menerus

Diagnosis

  • Dari gejala klinis yang nampak
  • Pembuatan preparat histopatologis akan nampak gejala seperti lesi vakuolisasi pada sel otak dan terdapat sel intrasitoplasmik vakuolisasi

Pencegahan

pengawasan ketat import daging, bahan makanan dan pakan ternak dan juga pelarangan impor dari negara yang telah
terdapat kasus BSE-nya.

 

sumber : http://www.vet-klinik.com

Last Updated on Friday, 26 July 2013 17:46

 

PENYEBAB FEED INTAKE RENDAH

  • PDF
  • Print
  • E-mail
1. Kualitas Pakan
  • Kualitas pakan secara fisik, meliputi warna, bau dan kesegaran, bentuk dan ukuran, kontaminan kutu dan jamur sangat mempengaruhi banyak sedikitnya konsumsi pakan/feed intake.
  • Kualitas pakan dari segi kandungan nutrisinya, Tingginya kandungan serat kasar dan tinggi rendahnya kandungan metabolisme energy (ME) juga bisa mengakibatkan penurunan konsumsi karena serat kasar berpengaruh pada palatabilitas (tingkat kesukaan) dan tinggi rendahnya kandungan metabolisme energy menyebabkan ayam cenderung makan lebih sedikit jika kandungan metabolisme energy tinggi, dan sebaliknya.
2. Tata laksana
  • Kecukupan tempat pakan, ini berkaitan dengan kemudahan ayam untuk mengakses ransum dan keserempakan ayam untuk makan secara bersamaan.
  • Pengaturan jumlah dan waktu pemberian pakan, pemberian pakan 25-30% di pagi hari dan 70-75% disiang hari, sangat dianjurkan untuk mengatasi feed intake yang rendah. Karena sebagaimana diketahui bahwa nafsu makan ayam berbanding terbalik dengan tinggi rendahnya suhu lingkungan, suhu yang tinggi berakibat nafsu makan ayam menurun dan sebaliknya suhu yang rendah nafsu makan ayam akan meningkat.
  • Lighting Program, (program pencahayaan) yang kurang juga bisa menurunkan konsumsi ransum ayam. Pengaturan pencahayaan yang baik, terutama di malam hari, sangat berguna untuk merangsang aktivitas makan. Pada peternakan ayam petelur, pemberian cahaya ini harus dikontrol dan diprogram dengan baik terkait berhasil dan tidaknya pencapaian target performa ayam di masa produksi.
3. Status Ayam
  • Status Performance ayam, ini berkaitan dengan perkembangan gizzard dan tembolok ayam, yang pada dasarnya ayam akan mengkonsumsi ransum sesuai daya tampung tembolok dan gizzardnya. Apabila sejak awal pemeliharaan, tembolok dan gizzard ayam tidak berkembang dengan baik, maka pakan yang dikonsumsinya juga akan rendah dan tidak sesuai dengan standar.
  • Status Kesehatan ayam, Pada saat ayam dalam kondisi stres, respon ayam pertama kali adalah fokus meningkatkan laju metabolisme cadangan energi tubuh, yang pada akhirnya berakibat pada laju pergerakan dan penyerapan usus akan melambat dan konsumsi pakan pun akan menurun (Ferket dan Gernat, 2006). Beberapa pemicu stress antara lain heat stress (stres panas), kualitas udara/sirkulasi udara dalam kandang yang buruk dan kualitas litter yang buruk. Akan berdampak langsung pada penurunan konsumsi pakan. Penurunan feed intake yang terjadi akibat serangan penyakit merupakan kasus yang paling banyak dan biasa dijumpai. Ketika ayam sakit, organ kekebalan akan bekerja keras menghasilkan antibodi. Semakin banyak antibodi yang diproduksi, maka akan semakin besar pula energi yang diperlukan untuk membentuk antibodi tersebut. Hal ini mengakibatkan ayam akan terlihat lesu, lemah, mengantuk dan lebih memilih untuk “diam” tidak melakukan aktivitas makan.




dari berbagai sumber

 

Page 11 of 27