TEMPAT MINUM SISTEM NIPPLE DAN BIOFILM

Secara alami mikroorganisme dan mineral dalam air dapat membentuk biofilm di instalasi air minum, dan berpotensi menyumbat nipple.
Bagaimana cara mengatasinya ?

Adopsi teknologi nipple drinker pada kandang dan pemeliharaan ayam memiliki banyak keuntungan. Problema litter basah terkena tumpahan air dari bell drinker (wadah konvensional dari plastik yang masih umum dipakai) tak lagi terjadi. Risiko penularan penyakit pernafasan seperti coryza, Infectious Bronchitis (IB), Chronic Respiratory Disease (CRD) bisa ditekan.

Namun setiap pilihan, disamping memiliki keunggulan, tapi juga memiliki titik kritis yang menuntut konsekuensi. Seiring berjalannya waktu, problema sumbatan pada nipple mulai dialami, sumbatan ini kalau dibiarkan, satu kejadian sumbatan akan ‘menjalar’. Mula-mula satu, lama kelamaan menjalar ke nipple yang berada dalam satu jalur pipa. Kalau nipple yang tersumbat masih satu-dua, tak akan terasa. Karena pada kandang litter ayam bisa bebas pindah mematuk nipple yang lain, Tapi bila tidak cermat, dan ketahuan sudah banyak yang macet, bisa terjadi ayam sudah mengalami dehidrasi. Karena rasio nipple yang berfungsi dengan populasi ayam menjadi tidak ideal. (Idealnya maksimal 1:15). Efek sumbatan nipple akan parah pada kandang layer produktif sistem batere.

Biofilm

Sumbatan pada nipple drinker disebabkan oleh semacam lendir dan lumut yang terbawa dari sumber air. Lendir menempel di dinding bagian dalam pipa dan akhirnya menjalar ke dalam nipple dan menyumbat aliran air. Penyebab ini lazim disebut BIOFILM.

Karakter air secara organik dan anorganik bisa memunculkan biofilm. Air dari sumber alami memiliki karakter yang berpotensi menumbuhkan biofilm. Biofilm terdiri atas banyak mineral, juga slime yang merupakan lapisan lendir. Slime atau lendir ini muncul secara normal, karena pertumbuhan alga dan mikroorganisme lainnya.

Karakteristik air dari sumber air di masing-masing peternakan akan berbeda, menurut kondisi geografis dan geologis setempat. Contohnya, Karakter air dari suatu daerah memiliki kadar besi (Fe) nya tinggi, sedangkan daerah lain bisa jadi airnya terlalu basa atau terlalu asam atau deposit hardness (kesadahan air) terlalu tinggi. Faktor-faktor ini akan mempermudah dan memperparah terbentuknya biofilm.

Sedimentasi mineral, akan melapisi lapisan dalam pipa paralon. Ini jadi lapisan pertama yang akan menjadi kerak, kemudian bakteri-bakteri dalam air akan mudah membentuk semacam slime yang melekat di atas kerak. Setelah melekat, dia akan ketemu koloni-koloni baru, dan bereplikasi serta multiplikasi membentuk biofilm secara massif.

Ketebalan biofilm berbeda-beda, tergantung dari perlekatannya dan sedimentasinya.
Kejadian biofilm diperparah oleh efek samping pemberian vitamin, obat dan vaksin. Vitamin dan obat memerlukan polisakarida sebagai carrier atau zat pembawa. Sedangkan vaksinasi melalui air minum mesti dicampur susu skim. Polisakarida dan susu skim yang kaya protein ini menjadi media tumbuh bakteri pada biofilm, sehingga biofilm semakin tebal dan meluas membentuk koloni biofilm baru.

Bakteri-bakteri bersama alga dalam air akan membentuk koloni yang berwujud biofilm yang semakin lama semakin menebal. Selain sel mikroorganisme itu sendiri, komponen biofilm terdiri atas produk ekstraseluler, polisakarida yang diproduksi oleh mikroorganisme dan zat-zat yang terjebak saat terbawa dalam air. Bakteri membentuk biofilm untuk mendongkrak daya hidup (survival) dan pertumbuhannya. Biofilm juga berfungsi sebagai mekanisme pertahanan fisik bagi bakteri karena bersifat licin, sehingga ia terhindar dari gerusan yang seharusnya dapat menyapu bersih sel-sel yang tidak menempel. Secara kimiawi, biofilm mampu membentengi bakteri dari penetrasi senyawa yang beracun bagi dirinya, seperti antibiotik dan beberapa jenis desinfektan. Penting digarisbawahi, bakteri di dalam biofilm lebih resisten 10-1.000 kali dibandingkan bila tidak di dalam biofilm

Hidrogen Peroksida



Berbeda dengan desinfektan lainnya, dalam konsentrasi yang tepat, hidrogen peroksida (H2O2) mampu mengoksidasi biofilm secara tuntas. Bahkan mampu mengangkat kerak-kerak di dasar pipa sehingga betul-betul bersih. Hilangnya kerak juga akan memperlambat tumbuhnya biofilm lagi, karena ketiadaan tempat menempel slime.

Penggunaan hidrogen peroksida yang telah distabilisasi sangat disarankan sehingga tidak terpengaruh oleh pH air dan tetap efektif meski pipa sangat panjang (lebih dari 25 m), dan tidak merusak karet maupun komponen lain pada sistem nipple.

Untuk flushing kimiawi peternak bisa menggunakan hidrogen peroksida atau pun kombinasi hidrogen peroksida dengan paracetic acid. Produk hidrogen peroksida banyak sekali di pasaran. Tapi perlu diperhatikan apakah konsentrasinya mampu untuk mengoksidasi secara tuntas. Sebab lapisan biofilm bisa sangat tebal. Untuk broiler, flushing dengan hidrogen peroksida bisa dilakukan tiap 2 atau 3 periode sekali.



Sumber : Majalah Trobos

 

Add comment


Security code
Refresh