Kontrol Microorganisme

Ada beberapa jenis mikroorganisme, ada yang tidak berbahaya namun juga ada yang bersifat ‘highly pathogenic’. Perlakuan disinfeksi terhadap mikroorganisme tertentu dapat bersifat mematikan, namun bisa juga menjadi tidak mematikan bagi mikroorganisme lain. Beberapa organism dapat dengan mudah dibasmi, namun ada beberapa yang sulit. Mengetahui cara mengontrol mikroba sangat penting pada saat pemilihan jenis perlakuan untuk mengeliminasi penyakit yang disebabkan oleh mikroorganisme.

Ada 3 cara yang sering dilakukan, yaitu :

  1. Sterilisasi yaitu perusakan semua bentuk mikroorganisme yang bersifat reproduktif dan infektif (bakteri, jamur, virus).
  2. Disinfeksi yaitu perusakan semua jenis mikroorganisme yang bersifat vegetative.
  3. Sanitasi adalah pengurangan sejumlah mikroorganisme yang bersifat patogenik sampai pada tingkat yang tidak membahayakan.

Pembersihan yang tepat dapat menyingkirkan mikroba dan sangat penting dilakukan sebelum memberikan disinfektan. Lakukan hal ini pada semua produksi perunggasan, termasuk hatchery, fasilitas brooding, kandang ayam, gudang, atau processing plant. Sangat penting untuk menghilangkan bahan-bahan organic dari permukaan yang akan dilakukan disinfeksi. Semua sisa-sisa kotoran ayam, pecahan telur, dan sebagainya harus disingkirkan. Lanjutkan pembersihan dengan baik dan alat pembersih yang tepat. Perhatikan pada saat pemilihan detergent yang tepat untuk membersihkan lingkungan. Perhatikan juga kondisi air, tingkat kesadahan, sanitasi dan pH air yang akan digunakan. Pembersihan menggunakan air yang dapat diminum dapat membantu proses pembersihan yang komplit dan dapat menghilangkan residu dari detergent, bahan organic dan mikroba. Setelah dibersihkan dengan detergent, baru dapat dilakukan perlakuan pembersihan dengan larutan disinfektan. Tidak semua disinfektan cocok untuk setiap keadaan.

Pada saat pemilihan Desinfektan perlu memperhatikan :

  1. Jenis permukaan yang akan dilakukan disinfektan.
  2. Tingkat kebersihan permukaan.
  3. Jenis organism yang akan dibuang.
  4. Ketahanan dari bahan/material peralatan/permukaan.
  5. Durasi waktu perlakuan.
  6. Aktifitas residu.

Jika permukaan bebas bahan organic dan aktifitas residu tidak menjadi masalah, campuran quaternary ammonium dan halogen dapat digunakan secara efektif. Jika permukaan sulit dibersihkan atau kontaminasi organisme sulit untuk dibersihkan, penggunaan phenol lebih baik.

Beberapa pemahaman tentang pengguaan beberapa disinfektan untuk meningkatkan keefektifannya :

  1. Beberapa disinfektan dapat bersifat efektif, namun disinfektan membutuhkan waktu untuk mengikat mikroba dan memberikan efek merusak. Untuk melihat efek disinfektan diperlukan waktu (misalnya 30menit), jika tidak terjadi efek yang diinginkan maka dapat diganti dengan disinfektan lainnya.
  2. Perhatikan keefektifannya disinfektan terhadap organism, karena tidak semua disinfektan efektif pada semua jenis organism.
  3. Pada keadaan tertentu, penggunaan disinfektan disarankan terlebih dahulu pembersihan dengan air (water rinsing). Namun ada yang menyarankan pembersihan dan disinfektan dilakukan pada saat yang sama, dengan alasan lebih ekonomis. Jika memilih produk dengan pembersihan dan disinfektan dalam satu pengoperasian, perhatikan tingkat keefektifan disinfektan tersebut.
  4. Tingkat keefektifan larutan disinfektan biasanya lebih baik pada larutan yang hangat dari pada larutan yang dingin. Namun jika terlalu panas akan mengurangi tingkat keefektifan.
  5. Setelah dilakukan disinfeksi sebaiknya dibiarkan sampai mongering sebelum digunakan kembali. Keadaan yang kering akan mencegah proses reproduksi, penyebaran dan transport organism pembawa penyakit. Walaupun permukaan bersih, lebih mudah terjadi kontaminasi ulang dengan organism jika terdapat air (basah) pada permukaan tersebut.

(sumber: Cooperative extension service missisippi state university, “misstate.idu”)

 

Add comment


Security code
Refresh