MENJEMPUT POTENSI OPTIMAL PUYUH

Burung puyuh merupakan bangsa atau jenis burung (liar) yang untuk pertama kalinya berhasil diternakan di Amerika Serikat, yaitu disekitar kisaran tahun 1870. Kemudian terus dikembangkan dan menyebar sebagai unggas peternakan ke penjuru dunia. Sedangkan di wilayah Indonesia sendiri burung puyuh baru mulai dikenal dan dijadikan unggas peternakan semenjak penghujung tahun 1979 yang mana dalam perjalanannya sampai sekarang burung puyuh telah menjadi unggas peternakan yang mudah dijumpai sebagai unggas peternakan di seluruh Indonesia.

Puyuh atau gemak (bahasa Jawa) memiliki kemampuan menghasilkan telur yang tinggi. Dan tak sedikit juga yang memanfaatkannya sebagai sumber penghasil daging.

Potensi burung puyuh akan tampak secara optimal jika didukung dengan manajemen pemeliharaan yang baik, yang meliputi :

  • Perkandangan yang nyaman,
  • Program kesehatan yang tepat
  • Manajemen pemberian pakan yang sesuai dengan kebutuhan puyuh baik secara kualitas (kandungan nutrisi) maupun kuantitas (jumlah).

Kualitas dan kuantitas pakan adalah hal utama yang memiliki pengaruh signifikan terhadap produktifitas telur burung puyuh, karena nutrisi untuk pembentukan sebutir telur sebagian besar diambil dari pakan yang dikonsumsi. Oleh karenanya kandungan nutrisi dan jumlah pakan yang diberikan perlu mendapatkan perhatian lebih.

Pakan dengan kualitas paling bagus tidak serta merta mampu meningkatkan produksi telur jika jumlah pemberiannya tidak sesuai. Begitu juga sebaliknya,jumlah pemberian sebanyak apapun menjadi kurang optimal untuk mendukung produksi telur jika kualitasnya tidak sesuai standar.

Dari segi kualitas, pakan yang baik setidaknya mampu mensuplai energi metabolisme, protein, lemak, serat, dan mineral (calsium, phospor). Nutrisi-nutrisi tersebut biasanya disebut sebagai makro nutrien. Disamping itu perlu juga diperhatikan mikro nutriennya, seperti suplement, asam amino dan vitamin.

Asam amino yang merupakan penyusun protein sangat diperlukan untuk membentuk sebutir telur maupun untuk pertumbuhan puyuh pada masa pertumbuhan. Methionine dan lysine merupakan dua asam amino yang sering ditambahkan ke dalam ransum puyuh sebagai feed additive atau diberikan lewat air minum sebagai feed suplement. karena kedua asam amino ini bersifat essensial, (jenis Asam Amino yang sangat diperlukan namun tidak dapat diproduksi oleh tubuh). Apalagi bahan baku penyusun pakan puyuh sebagian besar berupa biji-bijian, seperti jagung, bungkil kedelai (soy bean) yang notabene kandungan asam aminonya kurang ideal.

Begitu juga dengan vitamin. Senyawa organik ini meski diperlukan dalam jumlah kecil namun memiliki fungsi vital yaitu menjaga fungsi metabolisme agar berjalan optimal.

Di lapangan ketersediaan vitamin dalam ransum yang kurang sesuai seringkali ditemukan. Hal ini akan semakin diperparah dengan tatakelola pengiriman dan penyimpanan pakan yang kurang baik karena vitamin bersifat tidak stabil, baik terhadap cahaya, kelembaban, suhu maupun suasana asam dan basa.

Dalam kondisi ini pemberian tambahan suplement, vitamin maupun asam amino menjadi sangat perlu diberikan, baik melalui air minum maupun melalui pakan. Aplikasi melalui air minum akan relatif lebih mudah jika dibandingkan campur pakan.

SnS Q-MASTER dan BENNEFIT plus merupakan produk probiotik dan multivitamin plus yang mampu melengkapi dan memenuhi kebutuhan vitamin dan asam amino (lysine & methionine), dan mikroba probiotik yang mampu meningkatkan daya tahan tubuh serta menekan tingkat stres, juga menciptakan kondisi pencernaan dan enzymatik pencernaan yang sehat bagi puyuh, sehingga puyuh menghasilkan tingkat produksi yang optimal sesuai dengan potensi yang dimilikinya.