Menghemat Penggunaan Antibiotik

Kebanyakan peternak memberikan pengobatan antibiotik secara rutin tanpa mempertimbangkan apakah sudah memperoleh kondisi yang optimal pada saat pelaksanaannya. Padahal saat pengobatan diberikan pada ayam melalui pakan / air minum, disana banyak aspek yang perlu diperhatikan agar pengobatan berlangsung efektif dan tidak terbuang percuma. Umumnya pengobatan antibiotika yang diberikan pada ayam lebih banyak diberikan secara massal dibandingkan pengobatan secara individual
Sebagaimana pengobatan pada hewan lain, dosis yang efektif untuk pengobatan pada unggas juga harus didasarkan pada individual berat badan. Meskipun kelihatannya sederhana, pemberian obat melalui pakan atau minum, tapi dalam prakteknya sulit memperoleh dosis yang diperlukan oleh unggas. Rekomendasi yang dianjurkan adalah, perhitungan pemberian obat berdasarkan jatah pakan dan minum satu hari penuh

Prinsip penggunaan antibiotika pada pengobatan adalah untuk membasmi agen penyakit dan bukan untuk menghilangkan gejala klinis (simpton) penyakit, sehingga penggunaan untuk pengobatan harus didasarkan atas peneguhan diagnosa yang benar dan bukannya diagnosa dilakukan atas dasar reaksinya terhadap penggunaan antibiotik tersebut.

Beberapa aspek problem pemberian antibiotika yang terjadi antara lain :

  1. Kebanyakan antibiotika yang diberikan pada unggas mempunyai waktu paruh yang lebih singkat dibandingkan dengan mamalia. Hal ini disebabkan cepatnya metabolisme dan eliminasi yang sangat aktif oleh ginjal. Akibatnya banyak obat pada dosis yang direkomendasikan mempunyai konsentasi yang rendah pada darah dalam jaringan tubuh.
  2. Dalam prakteknya, sulit memisahkan ayam yang sakit dan sehat dalam satu flok dengan jumlah yang banyak. Oleh karena itu biaya yang diperlukan untuk pengobatan menjadi mahal. Hal lain adalah, pengobatan pada flok ayam kurang efektif bila dibandingkan pengobatan individual, sebab proporsi yang besar pada flok yang tidak tepat momennya saat pengobatan dan lamanya pengobatan, khususnya ayam yang mengalami infeksi yang kronis.
  3. Pertimbangan pengobatan tidak didasarkan pada farmakologi obat hewan tapi implikasi finansial yang mendikte pemilihan obat, dosis, lama pengobatan dan aplikasi pengobatan.
  4. Beberapa antibiotika menimbulkan efek samping yang negatif antara lain :
  • Furaltadone : menghambat pertumbuhan
  • Furazalidon : menurunkan daya tetas
  • Sulfa group : toksisitas bila kelebihan dosis
  • Chlorampenicol, Doxycycline, Spiramycin, Tylosin : residu dalam telur dan daging TCN (Tetracycline, Chloramphenicol, Neomycin) : mengganggu bakteri flora ususPerhitungan rasio biaya / keuntungan. Beberapa contoh pada pengobatan dibawah ini menunjukkan rasio biaya / pengobatan yang sering kali negatif, antara lain pengobatan omphalitis, pengobatan infeksi Aspergillus fugigatus, pengobatan infeksi MG kronis pada ayam produksi, pengobatan synovitis oleh Staphylococcus aureus.
Agar memperoleh pengobatan yang efektif, beberapa hal perlu diperhatikan untuk mendapatkan efek pengobatan yang optimal, yaitu :

  1. Diagnosa penyakit. Penentuan diagnosa akan tepat bila merupakan gabungan yang sinergis antara teori Kedokteran Hewan yang ilmiah dan pengalaman lapangan yang alamiah.
  2. Aplikasi dan pemilihan obat yang tepat. Aplikasi dan jenis obat yang tepat menentukan keberhasilan suatu pengobatan, sedangkan kesalahan dalam aplikasi dan pemilihan obat tidak akan menimbulkan efek terapeutik yang diharapkan.
  3. Dosis pemberian yang tepat. Sampai saat ini sulit menentukan dosis yang tepat dan seragam untuk pengobatan flok melalui air minum. Hal ini disebabkan perbedaan kesehatan ayam, perbedaan berat badan dan kebutuhan energi yang berbeda-beda. Dengan kata lain, konsumsi pakan dan air minum antara individual ayam yang berbeda mengakibatkan efek pengobatan didapat dengan menggunakan dosis yang relatif tinggi. Berapa banyak dosis obat yang harus dilarutkan di dalam air dapat dikalkulasikan secara sederhana dengan cara mengalikan dosis yang direkomendasikan /kg bb dengan berat badan ayam dan dibagi konsumsi air minum per hari dalam liter. 4. Lamanya pengobatan. Lamanya pemberian obat diberikan 3-5 hari. Pemberian obat dalam sehari disarankan selama 2-3 kali gunanya untuk menghindari kerusakan obat akibat oksidasi dan jenis obat tertentu yang tidak stabil setelah dilakukan di dalam air. Pemberian obat didasarkan jatah pakan dan minum dalam satu hari penuh.

 

Oleh : Ismail Karya Sapoetra 
Sumber : www.poultryindonesia.com