PREMIX

PREMIX

Ada perbedaan pemahaman tentang premix antara supplier premix, feedmiller, dan peternak. Apalagi ragam produk yang tergolong premix tidak sedikit jumlahnya. Lalu, apakah sebenarnya premix itu?

SECARA umum premix dibagi menjadi dua bagian besar, yaitu :
Feed supplement (pelengkap pakan) dan teed additive (imbuhan pakan). Sebagaimana yang diterangkan dalam PP 78 tahun 1992 tentang Obat Hewan.
Yang dimaksud dengan feed supplement hewan adalah suatu zat yang secara alami sudah terkandung dalam pakan hewan. tetapi jumlahnya perlu ditingkatkan melalui pemberian bersama pakan hewan, misalnya vitamin, mineral, dan asam amino.
Sedangkan feed additive untuk hewan adalah suatu zat yang secara alami tidak terkandung dalam pakan hewan dan tujuan pemakaiannya terutama sebagai pemacu pertumbuhan.

Suatu zat yang tergolong feed additive — setelah melalui pengkajian ilmiah — beberapa diantaranya adalah antibiotik, koksidiostat, ragi, enzim, dan lain-lain.
Di lapangan, ditemukan definisi lain yang sebenarnya pakemnya masih mengacu pada PP 78 tahun 1992 ini.
Peternak misalnya, sebagian besar masih mengartikan premix hanya berdasarkan label pada produk-produk tambahan dalam pakan dan air minum (premix water solouble) yang umumnya dipakai, seperti premix vitamin, premix mineral, premix asam amino, atau campurannya.
Dalam penggolongannya pun masih belum tepat, misalnya premix vitamin digolongkan sebagai feed additive — padahal dalam PP Obat Hewan tergolong feed supplement, atau sebaliknya.
Pemahaman ini sangat diperlukan, karena ada diantaranya yang tidak perlu ditambahkan, ada yang mutlak diperlukan pada kondisi tertentu, dan ada yang menimbulkan bahaya apabila tidak sesual dengan aturan.

Definisi Premix 

Premix berasal dari kata pre = sebelum, mix = dicampur, yang artinya adalah sebelum dicampur. Karena ada bahan-bahan tertentu yang jumlahnya banyak tapi volumenya kecil, kemudian harus dicampurkan dalam pakan yang volumenya sangat besar, maka agar bahan-bahan kecil tersebut dapat tercampur merata (homogen), diperlukan suatu metode (pencarnpuran juga) untuk memperbesar volumenya. lnilah pengertian mendasar dari premix.

Contoh, vitamin B12 itu jumlahnya cuma dalam hitungan mikrogram. Jadi kalau mencampur bahan ini ke dalam mixer 4 ton, tingkat homogenitasnya tidak bisa dipertanggungjawabkan. Jadi bahan-bahan yang sangat kecil itu digabungkan terlebih dahulu kemudian dibesarkan volumenya agar sesuai dengan jumlah yang akan dicampur sehingga hasilnya jadi homogen. Kalau volumenya dibesarkan jadi sekitar 0,3% – setara dengan 3 kg per ton pakan dengan demikian baru bisa tercampur merata.
Untuk memperbesar volume tersebut digunakanlah bahan penambah atau kerap disebut carrier saja. Beberapa yang biasa digunakan yaitu wheat, polard, dan limestone yang halus.
Volume bahan carrier ini juga diperhitungkan dalam formulasi pakan, karena ada jenis premix yang konsentrasinya tinggi (high concentrate), maksudnya 80% lebih berupa bahan aktif, sementara sisanya adalah carrier. Dan ada pula yang low concentrate — carriernya lebih banyak.
Jenis premix yang beredar di lapangan pun cukup beragam. Seberapa produsen premix ada yang memroduksi berupa campuran, ada yang berupa bahan tunggal, atau membuat kedua-duanya. Selain itu ada yang berupa premix standar (kandungannya diperhitungkan sesuai dengan kebutuhan ayam pada kondisi normal), dan premix pesanan / custom premix (kandungannya berdasarkan atas pesanan pabrik pakan).

Ragu pada bahan baku 

Kalau hanya mengandalkan bahan baku pakan ternak maka kemungkinan kualitas pakan tidak bisa memenuhi spesifikasi yang dibutuhkan. Kalaupun dipaksakan dengan meningkatkan persentase pemakaian bahan baku pakan yang ada tanpa adanya feed supplement secara ekonomis tidak menguntungkan — harga pakan akan tinggi. Nah, untuk memenuhi kebutuhan ayam dengan segala keterbatasan bahan baku pakan yang tersedia, dperlukanlah penambahan feed supplement. Dan memang, dalam semua formula pakan pasti menghadirkan feed supplement di dalamnya.
Kalau pabrik pakan ataupun peternak self-mix memiliki kapasitas untuk memeriksa bahan baku pakan dan terbukti memang bagus, seharusnya tidak perlu menambahkan feed supplement. Akan tetapi dalam kondisi seperti ini pun pabrik pakan tetap menambahkan premix, ini untuk lebih meyakinkan kandungan nutrisi dalam pakannya. Apalagi, ketika perusahaan atau peternak tidak punya kapasftas untuk memeriksa bahan baku maka ketergantungan terhadap penggunaan premix akan semakin tinggi.
Dalam formulasi pakan, penambahan feed supplement yang utama adalah limiting amino acid/asam amino yang paling terbatas.

Ada 4 asam amino yang paling utama porsinya untuk menutupi keseimbangan asam amino dalam pakan. Urutannya adalah Methionine, Lysine, Threonine, Triptophan.

Methionine dan Lysine ini sudah harga mati bagi pabrik pakan, jadi pasti ada dalam formulasinya. Karena ini adalah nutrisi pertama dan kedua yang harus dipenuhi, setelah itu baru diperhitungkan feed supplement yang lainnya —vitamin, mineral, dan lain sebagainya.
Prinsip penggunaan asam amino di dalam tubuh adalah sebagai pembangun protein, yang akan membentuk otot (baca daging). Kalau asam aminonya cukup diharapkan ayam menghasilkan protein dan menghasilkan otot yang cukup. Efeknya lebih pada daging dan pertumbuhan. Ini juga berlaku untuk pertumbuhan layer, setelah pertumbuhan “mentok”, akan digunakan untuk pembentukan telur.
Penambahan feed supplement akan bermula dari pemeriksaan kandungan bahan baku. Jumlah yang ditambahkan disesuaikan dengan kandungan bahan baku dan kebutuhan ayam.
Dalam dunia teknologi pakan unggas, dikenal istilah ideal protein concept. Dibutuhkan keseimbangan antara asam amino yang satu dengan yang lain.
Keseimbangan ini sangat penting. Kalau terlalu banyak salah satu unsur, sedang yang lain kurang, tidak akan menghasilkan pertumbuhan yang optimal. Dalam hal ini, nutrisionis akan memformulasikan pakan dengan komposisi yang tepat dan seimbang sehingga jumlahnya optimal untuk pertumbuhan dan produksi.

Standar kebutuhan 

Lalu, bagaimana menghitung premix agar sesuai dengan kebutuhan ayam? Ini tidak sesedehana yang dibayangkan, dan bukan sekadar menambahkan premix lalu diberikan pada ayam. melainkan ada standar dan perhitungannya sehingga itu cukup untuk kebutuhan ayam.
Syarat pertama nutritional requirement-nya harus dipenuhi dulu, minimal seperti rekomendasi National Research Council (NRC). Kalau ini tidak terpenuhi, maka performance ayam agak goyang —tidak stabil.
Sungguhpun demikian, standar NRC masih kurang karena ini adalah hitungan minimal untuk pertumbuhan ayam. Oleh sebab itu pabrik pakan juga mengacu pada rekomendasi produsen premix.
Memang ada variasi standar kebutuhan ini. Di Amerika misalnya, pabrik pakan ada yang mengacu pada kebutuhan minimal, di atas kebutuhan minimal, dan ada yang mengacu pada kebutuhan optimal.
Sementara di Indonesia, umumnya mengacu pada tingkat kebutuhan optimal. Kasihan peternak kalau dikasih pakan dengan standar NRC. Bagaimanapun kita membuat pakan harus ditunjang dengan kebutuhan yang memadai sehingga menghasilkan performa yang diinginkan. Apalagi kondisi manajemen peternakan pengguna pakan kita cukup bervariasi. Maka, karena pakan ini diperuntukkan untuk massal, premix harus dipakai dalam batas-batas yang optimum. Kita tidak mau mengorbankan untuk itu, kita ambil yang aman bagi peternak supaya performa ternak bagus.
Kebutuhan vitamin dalam pakan dewasa ini mengacu pada konsep Optimum Vitamin Nutrition (OVN). Kebutuhan yang disusun dengan konsep OVN ini selalu lebih tinggi dari NRC. Karena rekomendasi NRC itu hanya kebutuhan dasar dari ayam untuk bisa hidup, tapi untuk tujuan produksi harus standar yang optimum. Standar NRC ini masih memungkinkan ayam mengalami defisiensi, misalnya pada saat stres. Dengan menggunakan konsep OVN, dapat mengatasi detisiensi oleh faktor langsung dan tidak langsung, seperti pakan, udara, stres, dan penyakit.
Konsep OVN berpedoman pada anjuran breeding, yang dari waktu ke waktu selalu direvisi. Selama ini sudah terjadi revisi 3 kali, karena para ahli genetik di breeding sudah mengutak-atik genetik ayam sehingga untuk menghasilkan produksi yang optimum maka perlu didorong dengan vitamin atau mineral.
Apabila dilihat dan perkembangan feed supplement selama 3 dasawarsa terakhir, memang ada pergeseran komposisi nutrisi pada ayam modern yang pertumbuhannya lebih cepat. Perkembangan genetik ini diikuti dengan kebutuhan vitamin yang lebih banyak dari sebelumnya. Perkembangan feed suplement pada ayam sangat dinamis, seolah tidak ada titik berhenti..
Kondisi ini apabila diterapkan dalam penyusunan premix pada pakan ayam, maka premix yang diformulasikan akan berbeda-beda komposisinya. Mengingat jenis nutrisi yang dibutuhkan berbeda, baik pada jenis ayam . broiler maupun layer, fase umur ayam seperti starter, grower, dan layer; atau starter dan finisher (pada ayam broiler).

Proses pembuatan pakan 

Dalam pembuatan pakan telah dibuat formulasi pakan yang tentunya memperhitungkan kebutuhan ayam. Selain itujuga rnemperhitungkan proses pencampuran, dan kestabilan nutrisi selama proses pengolahan hingga dihasilkannya pakan jadi. ini juga mencakup premix di dalamnya.
Pada prinsipnya ada dua pengelompokan bahan baku pakan, yaitu bahan dengan porsi besar seperti : jagung, SBM, dedak, MBM, DL Methionine, Lysine, garam, dan DCR Setelah itu ada porsi kecil dalam bentuk premix, yang isinya vitamin, mineral, growth promotor, dan koksidiostat
Dalam proses ini, asam amino tidak bisa dimasukkan dalam premix karena termasuk bahan baku utama.
Kalau memakai bahan baku utama pakan corn-soy (jagung dan SBM), maka urutan penting asam amino yang ditambahkan adalah DL Methionine, Lysine, Threonine dan Triptophan,- karena keempatnya termasuk limiting amino acid. Khusus untuk penambahan Lysine sangat tergantung kualitas SBM-nya karena kandungan Lysine pada SBM urnumnya sudah tinggi. Rata-rata asam amino yang ditambahkan sebanyak 0,2% dan total pakan.
Selain asam amino, vitamin dan mineral adalah menu wajib yang harus ada. Karena ini berpengaruh besar pada performa dan kesehatan ayam. Saking pentingnya, porsi untuk vitamin dan mineral dalam bentuk premix berkisar antara 1,5-2% dan total pakan.
Tentang bahan lain selain nutrisi, seperti feed additive — misalnya, bila ingin ditambahkan, harus memperhitungkan terlebih dahulu kecukupan asam amino, vitamin dan mineral di atas.
Pada proses pencampurannya pun bukan asal campur, karena secara teoritis ada beberapa bahan premix yang tidak boleh dicampur begitu saja karena akan rusak; koksidiostat- misalnya.
Selain itu perlu diperhitungkan ketepatan komposisi bahan,jumlah dan jenis bahan cariernya. Itu tidak mudah, bahkan pabrik pakan pun akan menyerahkan urusan ini kepada produsen premix untuk membuatkan premix dengan spesifikasi yang diinginkan.

 

Oleh : Ismail Karya Sapoetra